• Latest
Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo

Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo

Desember 23, 2025
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo

Redaksi by Redaksi
Desember 23, 2025
in Antologi Puisi, POTRET Budaya, Sastra
Reading Time: 4 mins read
0
Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

6. Langit yang Tersisa

Langit senjakala menggantung rendah,menyapu ubun rambutku yang basah.Jalan ini mengulur jauh—lebih panjang dari segala mantrayang pernah kulisankandi bibir ibu yang beraroma garam waktu.Di kiri-kanan,pohon-pohon berjaga bagai juru wasiat bumi:mereka tahu aku bukan musafir,melainkan jiwa yang tersesatoleh hasrat tiba sebelum makna.Setiap langkah adalah ikrar bisu—testamen dari nama-namayang pernah kukasihi,dan dari bayang yang belum sempatkukuburkan di dada.Seekor anjing melintas perlahan,mata beningnya menyimpan nubuat:ia tak menyoal siapa aku,sebab semesta tak butuh namauntuk mengenali sepi.Aku berhenti di tepi jalan,menatap langit yang merenta di mataku.Di sana,awan berzikir dalam rupa seseorangyang dahulu kupanggil aku.Aku menunduk dan berbisik:Mungkin pulang bukan arah,melainkan takzim kepada langkah,yang berani berjalan tanpa peta.Dan sore pun gugur—setetes demi setetes,seperti suara yang usai bermaknadan pulang ke rahim bumi.Ponorogo, 2025

7. Cermin Ibu

Di balik kaca itu,ibu menatap duniaseperti menatap cermin yang mengeruh oleh usia.Matanya tak lagi mencari—hanya menunggu sesuatuyang barangkali menjelma cahaya,atau sekadar gema dari doa yang terlupa.Tiap pagi ia menyapu lantaidengan langkah yang telah menua,seakan debu adalah firasatbahwa dunia masih mengingat namanya.Aku memanggil dari halaman,namun suaraku terperangkap di udara,gugur di antara jeda yang tak terjembatani waktu.Barangkali antara kamiada luka yang tak kunjung sembuh,menyamar menjadi keheningan.Ibu tersenyum tipis,seperti sabit bulan yang tersangkut di tirai.Lalu ia kembali ke dapur,mengaduk air yang hening—air yang kehilangan garamnya,seperti hari-hari yang kehilangan bunyinya.Dan aku mengerti kini:cinta tak selalu bersuara,ia hanya mengendapdi tatapan yang perlahan pudar bersama sore,menjadi kesabaran yang abadi.Ponorogo, 2025

8. Ayah di Kursi Senja

Kursi itu masih di tempatnya:
retak di lengan, dingin di sandaran,
tapi hangat di takhta kenangan.

Ayah dulu duduk di sana—

menyalakan rokok,

menghela napas seperti mengukur hidup

dari panjang asap yang melingkar di udara.

Ia jarang bicara,

tapi sekali membuka mulut,

kalimatnya seperti batu kecil

yang dilempar ke kolam waktu.

Gelombangnya masih terasa sampai hari ini.

Kini kursi itu menatapku kembali.
Aku duduk di depannya,
mencoba meniru cara ayah diam.
Namun diamku gamang,
diam yang kehilangan wibawa—
diam anak kecil
yang belum khatam belajar menua.

Sore meluruh di sela daun jambu,

aku membayangkan ayah masih di sana,

mengangguk kecil,

mungkin sedang mengajari cara

menjadi lelaki tanpa kehilangan air mata.

Ponorogo, 2025

9. Tak Sempat Berpamitan

Di meja makan,masih tersisa dua sendok,satu piring,dan percakapan yang terpenggal di tengah suapan.Aku memungut remah roti,menemukan di bawahnyaselembar catatan yang mulai menguning:“Pergilah, tapi jangan buru-buru.”Tak berpenanda,tanpa tanggal,hanya sepenggal kalimatyang menolak dimakamkan oleh waktu.Aku tahu,mereka yang pergi tergesameninggalkan bayangan yang lebih beratdari tubuhnya sendiri.Malam itu,aku menyalakan sebatang lilin—bukan untuk menerangi,melainkan untuk memberi tahu yang hilangbahwa rumah ini masih hafal arah pintu.Asapnya naik perlahan,berpilin di udara seperti doa yang gentar.Aku menatapnya hingga padam,dan di saat itu aku paham:yang paling setia bukan kenangan,melainkan kehilanganyang tetap tinggalmeski segala telah pergi.Ponorogo, 2025

10. Litani Bayangan

Jam di dinding itu berhenti di pukul dua belas,

tapi aku masih mendengar waktu berjalan

di urat tanganku sendiri.

Jarum-jarumnya diam,

namun bayang-bayang di lantai

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026

tetap bergeser perlahan—

seolah cahaya menolak ikut mati.

Di rumah ini,

semua benda punya ingatan.

Sendok mengingat suara tawa,

kursi menyimpan bentuk duduk yang tak kembali,

ADVERTISEMENT

dan meja,

masih menunggu percakapan yang tidak sempat diakhiri.

Aku menatap jam itu,
dan seketika paham:
waktu tak pernah berhenti;
ia hanya menyamar sebagai bisu
agar kita belajar mendengar
yang tak bersuara—
detak nadi, langkah debu,
atau doa yang membeku
di pori-pori hari.

Malam nanti,
akan kuputar jarum itu kembali,
bukan untuk menghidupkan waktu,
melainkan untuk mengukur jarak
antara aku
dan diriku sendiri.

Ponorogo, 2025

Karya: S. Sigit Prasojo 

S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa, dan menjabat sebagai Wakil Ketua HIMA DIWANGKARA Pendidikan Bahasa Jawa  STKIP PGRI Ponorogo. Pernah menjadi juri Cipta Puisi FLS2N 2025 serta meraih berbagai kejuaraan kepenulisan tingkat nasional. Ia tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra nasional, baik cetak maupun daring.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post
Ketika Kedaulatan Dipakai untuk Menyangkal Kemanusiaan

Ketika Kedaulatan Dipakai untuk Menyangkal Kemanusiaan

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com