Dengarkan Artikel
6. Langit yang Tersisa
Langit senjakala menggantung rendah,menyapu ubun rambutku yang basah.Jalan ini mengulur jauh—lebih panjang dari segala mantrayang pernah kulisankandi bibir ibu yang beraroma garam waktu.Di kiri-kanan,pohon-pohon berjaga bagai juru wasiat bumi:mereka tahu aku bukan musafir,melainkan jiwa yang tersesatoleh hasrat tiba sebelum makna.Setiap langkah adalah ikrar bisu—testamen dari nama-namayang pernah kukasihi,dan dari bayang yang belum sempatkukuburkan di dada.Seekor anjing melintas perlahan,mata beningnya menyimpan nubuat:ia tak menyoal siapa aku,sebab semesta tak butuh namauntuk mengenali sepi.Aku berhenti di tepi jalan,menatap langit yang merenta di mataku.Di sana,awan berzikir dalam rupa seseorangyang dahulu kupanggil aku.Aku menunduk dan berbisik:Mungkin pulang bukan arah,melainkan takzim kepada langkah,yang berani berjalan tanpa peta.Dan sore pun gugur—setetes demi setetes,seperti suara yang usai bermaknadan pulang ke rahim bumi.Ponorogo, 2025
7. Cermin Ibu
Di balik kaca itu,ibu menatap duniaseperti menatap cermin yang mengeruh oleh usia.Matanya tak lagi mencari—hanya menunggu sesuatuyang barangkali menjelma cahaya,atau sekadar gema dari doa yang terlupa.Tiap pagi ia menyapu lantaidengan langkah yang telah menua,seakan debu adalah firasatbahwa dunia masih mengingat namanya.Aku memanggil dari halaman,namun suaraku terperangkap di udara,gugur di antara jeda yang tak terjembatani waktu.Barangkali antara kamiada luka yang tak kunjung sembuh,menyamar menjadi keheningan.Ibu tersenyum tipis,seperti sabit bulan yang tersangkut di tirai.Lalu ia kembali ke dapur,mengaduk air yang hening—air yang kehilangan garamnya,seperti hari-hari yang kehilangan bunyinya.Dan aku mengerti kini:cinta tak selalu bersuara,ia hanya mengendapdi tatapan yang perlahan pudar bersama sore,menjadi kesabaran yang abadi.Ponorogo, 2025
8. Ayah di Kursi Senja
Kursi itu masih di tempatnya:
retak di lengan, dingin di sandaran,
tapi hangat di takhta kenangan.
Ayah dulu duduk di sana—
menyalakan rokok,
menghela napas seperti mengukur hidup
dari panjang asap yang melingkar di udara.
Ia jarang bicara,
tapi sekali membuka mulut,
kalimatnya seperti batu kecil
yang dilempar ke kolam waktu.
Gelombangnya masih terasa sampai hari ini.
Kini kursi itu menatapku kembali.
Aku duduk di depannya,
mencoba meniru cara ayah diam.
Namun diamku gamang,
diam yang kehilangan wibawa—
diam anak kecil
yang belum khatam belajar menua.
Sore meluruh di sela daun jambu,
aku membayangkan ayah masih di sana,
📚 Artikel Terkait
mengangguk kecil,
mungkin sedang mengajari cara
menjadi lelaki tanpa kehilangan air mata.
Ponorogo, 2025
9. Tak Sempat Berpamitan
Di meja makan,masih tersisa dua sendok,satu piring,dan percakapan yang terpenggal di tengah suapan.Aku memungut remah roti,menemukan di bawahnyaselembar catatan yang mulai menguning:“Pergilah, tapi jangan buru-buru.”Tak berpenanda,tanpa tanggal,hanya sepenggal kalimatyang menolak dimakamkan oleh waktu.Aku tahu,mereka yang pergi tergesameninggalkan bayangan yang lebih beratdari tubuhnya sendiri.Malam itu,aku menyalakan sebatang lilin—bukan untuk menerangi,melainkan untuk memberi tahu yang hilangbahwa rumah ini masih hafal arah pintu.Asapnya naik perlahan,berpilin di udara seperti doa yang gentar.Aku menatapnya hingga padam,dan di saat itu aku paham:yang paling setia bukan kenangan,melainkan kehilanganyang tetap tinggalmeski segala telah pergi.Ponorogo, 2025
10. Litani Bayangan
Jam di dinding itu berhenti di pukul dua belas,
tapi aku masih mendengar waktu berjalan
di urat tanganku sendiri.
Jarum-jarumnya diam,
namun bayang-bayang di lantai
tetap bergeser perlahan—
seolah cahaya menolak ikut mati.
Di rumah ini,
semua benda punya ingatan.
Sendok mengingat suara tawa,
kursi menyimpan bentuk duduk yang tak kembali,
dan meja,
masih menunggu percakapan yang tidak sempat diakhiri.
Aku menatap jam itu,
dan seketika paham:
waktu tak pernah berhenti;
ia hanya menyamar sebagai bisu
agar kita belajar mendengar
yang tak bersuara—
detak nadi, langkah debu,
atau doa yang membeku
di pori-pori hari.
Malam nanti,
akan kuputar jarum itu kembali,
bukan untuk menghidupkan waktu,
melainkan untuk mengukur jarak
antara aku
dan diriku sendiri.
Ponorogo, 2025
Karya: S. Sigit Prasojo
S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa, dan menjabat sebagai Wakil Ketua HIMA DIWANGKARA Pendidikan Bahasa Jawa STKIP PGRI Ponorogo. Pernah menjadi juri Cipta Puisi FLS2N 2025 serta meraih berbagai kejuaraan kepenulisan tingkat nasional. Ia tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra nasional, baik cetak maupun daring.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






