• Latest
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

Bencana Hydrometeorologi: Ada Apa dengan Gengsi Nasional?

Desember 20, 2025
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0532

Minimarket Koperasi Desa, Bukan Minimarket Biasa

Maret 29, 2026

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bencana Hydrometeorologi: Ada Apa dengan Gengsi Nasional?

Feri Irawan by Feri Irawan
Desember 20, 2025
in #Sumatera Utara, Aceh, Artikel, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Sumatera Barat
Reading Time: 4 mins read
0
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Feri Irawan

Bencana Barat Sumatera meninggalkan luka yang tak bisa sembuh dalam sekejap. Infrastruktur rusak, alam menanti pemulihan, dan ekonomi warga berjuang mencari pijakan baru. Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan keberpihakan nyata.

Siapa yang tanggung mata pencaharian pasca bencana ini? Siapa yang tanggung ratusan rumah yang hancur?Siapa yang mau bersihkan rumah tertimbun? Siapa yang tanggung rusak dan putusnya jalan? Siapa yang perbaiki sawah? Siapa yang perbaiki kebun? Siapa yang perbaiki tambak-tambak ikan? Siapa yang perbaiki peternakan dan lain-lain yang sudah tertimbun lumpur yang tinggi? Siapa yang tanggung jembatan-jembatan yang rusak dan putus? Siapa yang tanggung sekolah yang kini halamannya menjadi sungai?

Mendekati satu bulan banjir Barat Sumatra berlalu, pertanyaan-pertanyaan di atas belum ada yang bertanggung jawab. Para penyintas belum bisa kembali ke rumahnya. Lumpur masih menggunung di permukiman, sungai masih disesaki jutaan batang kayu. Ke mana mereka harus pulang?

Jika memang pemerintah pusat memiliki anggaran cukup besar dan mampu menangani dampak banjir besar di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, ya buktikan lah! Masyarakat butuh aksi bukan janji.

Padahal, bencana hydrometeorologi (siklon senyar) telah memenuhi banyak indikator dan sangat layak disebut sebagai bencana nasional. Maka pertanyaannya bukan lagi tentang prosedur, tetapi tentang keberpihakan.

Versi BNPB, melaporkan korban banjir bandang dan longsor di Sumatera
telah mencapai 1.053 jiwa meninggal dunia. Sementara, negara bertahan dan menegaskan mampu menangani bencana yang terjadi. Gengsinya minta ampun. Ketika ada uluran tangan hadir, justru negara menjaga jarak atas nama harga diri dan kemandirian.

Padahal harga diri negara tidak diukur dari kemampuan menolak bantuan, dan martabat tidak lahir dari menutup diri.

Tidak ada bangsa yang marwahnya runtuh karena membuka diri dari bantuan negara lain ketika ditimpa bencana.
Justru menutup pintu bantuan di tengah darurat berisiko menempatkan negara pada posisi abai terhadap penderitaan rakyatnya sendiri.

Sikap keras Pemerintah yang menutup pintu rapat-rapat bagi bantuan internasional justru kontadiksi dengan fakta di lapangan. Buktinya, penanganan darurat belum sepenuhnya menjangkau mereka yang paling rentan.

Padahal, para ahli memprediksi jika hanya mengandalkan “dompet sendiri”, Sumatera butuh waktu hingga 30 tahun untuk pulih seperti sedia kala. Seperti yang disampaikan mantan pejabat Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias, Teuku Kamaruzzaman. Menurutnya, tanpa bantuan asing, pemulihan fisik dan ekonomi Sumatera bisa memakan waktu 20 hingga 30 tahun.

Sementara, di beberapa ruas jalan, warga mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah dan meminta pertolongan karena
keterbatasan fiskal daerah dan merasa penanganan bencana tidak lagi sepenuhnya mengharapkan kepada pemerintah daerah.
Paradoks ini membuat masyarakat menjadi pihak yang paling terdampak, di antara ketidakmampuan daerah dan belum optimalnya langkah pusat.

Teranyar, Jumat (19/12/2025), seperti dilansir Kompas.com., Mendagri Tito Karnavian meminta maaf atas penanganan bencana ini. Menurut Tito, proses penanggulangan bencana di wilayah terdampak menghadapi tantangan besar, terutama terkait kondisi geografis dan medan yang berat.

Dengan penuh kerendahan hati, Tito pun menyampaikan permohonan maaf jika upaya pemerintah dinilai belum maksimal. Pengakuan Tito ini menegaskan bahwa kendala di lapangan memang tidak ringan.

Setidaknya 7 Bupati di Aceh sudah resmi mengirim surat menyatakan “ketidaksanggupan” menangani bencana karena skala kerusakan yang terlalu masif.

Di sisin lain, penurunan ruang fiskal Aceh 2025 tentu berdampak langsung pada kualitas penanganan bencana. Evakuasi menjadi lambat karena daerah pun tidak memiliki alat berat yang memadai. Sehingga akses ke lokasi terisolasi terhambat, dan logistik tanggap darurat tidak dapat dipenuhi secara cepat.

Ketidakmampuan ini seharusnya cepat direspon pemerintah pusat bahwa penanganan bencana memang membutuhkan energi dan pendanaan yang luar biasa.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

Lalu, mengapa negara tidak berani menyebutnya bencana nasional? Padahal korban jiwa jatuh, rumah hancur, infrastruktur mengalami kerusakan masif, hingga alam rusak. Apakah negara takut dengan lembaga internasional? Atau takut sama institusi global yang akan melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi.

ADVERTISEMENT

Di sisin lain, komunikasi pemerintah kurang menunjukkan empati. Dalam situasi bencana besar, dan sudah melihat secara kasat mata tapi narasi yang disampaikan ke Presiden kurang tepat. Padahal pernyataan para petinggi negara sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik. Pernyataan asal bapak senang, informasi yang tidak konsisten, serta penjelasan yang tidak transparan mengenai rencana pemulihan justru membuat keresahan masyarakat

Jika pun tidak ditetapkan bencana nasional, harusnya pemerintah pusat mengambil alih peran strategis hingga mobilisasi lintas Kementerian. Langkah ini memungkinkan negara hadir secara penuh dalam penanganan bencana, sekaligus menjaga stabilitas pasar dan ruang fiskal APBN. Negara tidak boleh lambat, apalagi ragu. Pada fase darurat, nyawa manusia adalah hukum tertinggi.

Negara harus sadar, mereka bukan hanya korban air dan tanah, tetapi korban dari kegagalan sistem dalam menjaga keseimbangan alam.

Sampai kapan kita menormalisasi bencana ini sebagai takdir?Padahal tangan-tangan rakus “merekalah” yang merusak keseimbangannya sehingga membuat jeritan lebih dari 1.400 keluarga hancur dalam semalam.

Jika negara tak mau berkata jujur, maka alam akan terus mengingatkan kita. Jadi, ada apa dengan “gengsi” nasional?

Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 300x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 227x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet147
Feri Irawan

Feri Irawan

Feri Irawan, S.Si, M.Pd Guru Matematika, Ketua IGI Daerah Bireuen, Pegiat Literasi, dan sekarang Kepala SMKN 1 Jeunieb, Kabupaten Bireun, Aceh

Baca Juga

IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541
#Cerpen

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818
Esai

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
Next Post
Luka yang Kusengaja

Luka yang Kusengaja

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com