POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Kebijakan dan Praktik Diskriminatif dalam Pendidikan Tinggi

RedaksiOleh Redaksi
December 18, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Pendidikan tinggi merupakan instrumen strategis negara dalam menjalankan amanat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, dalam praktiknya, kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia menunjukkan ketimpangan struktural yang serius antara perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS). Ketimpangan ini tidak hanya bersifat administratif atau fiskal, melainkan telah berkembang menjadi praktik diskriminatif sistemik yang merusak ekosistem pendidikan tinggi nasional.

Pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang menyatakan bahwa persoalan kuota mahasiswa PTN “tidak perlu dipermasalahkan”, justru memperlihatkan lemahnya sensitivitas kebijakan terhadap realitas sosial-ekonomi dan dampak struktural kebijakan negara di lapangan. Pernyataan normatif tentang “memperluas peluang belajar” gagal menjawab problem utama: ketiadaan keadilan dalam distribusi sumber daya negara.

PTN, Pendanaan Negara, dan Privilege Ganda

Sejak awal berdirinya Republik, PTN memperoleh pembiayaan penuh dari negara: mulai dari pembangunan infrastruktur, penggajian dosen dan tenaga kependidikan, penyediaan laboratorium, hingga subsidi operasional. Pendanaan tersebut bersumber dari pajak rakyat dan telah berlangsung lebih dari setengah abad.

Namun, dalam dua dekade terakhir, PTN juga diberikan keleluasaan untuk menarik dana langsung dari masyarakat melalui uang kuliah dan skema penerimaan mahasiswa baru dalam jumlah besar. Akibatnya, PTN menikmati privilege ganda: dana publik dari negara dan dana privat dari masyarakat secara simultan.

Sementara itu, PTS—yang sebagian besar lahir dari inisiatif masyarakat sipil, organisasi keagamaan, dan yayasan pendidikan—harus membangun institusinya secara mandiri tanpa dukungan anggaran negara. Padahal, kontribusi PTS dalam sejarah pendidikan nasional sangat signifikan, bahkan mendahului lahirnya negara, seperti Universitas Islam Indonesia (UII) dan Universitas Nasional (Unas).

Kegagalan Daya Saing Global dan Distorsi Kebijakan Domestik

Ironi terbesar dari sistem ini adalah kenyataan bahwa PTN Indonesia, meskipun dibiayai besar-besaran oleh negara, tetap gagal menembus jajaran universitas elite Asia dan global. Dibandingkan dengan universitas di Singapura dan Malaysia, PTN Indonesia tertinggal dalam kualitas riset, tata kelola, dan reputasi internasional.

📚 Artikel Terkait

Pendidikan Agama dan Paradoks Korupsi di Negeri Religius

Di Bawah Langit Jeunieb, Bahtera Bahari Menyongsong Cakrawala Baru

Orang Kecil selalu Dikorbankan

Masalah Utama Palestina, Amerika Serikat

Alih-alih melakukan konsolidasi mutu dan reformasi struktural, PTN justru memperluas kuota mahasiswa sebagai strategi bertahan finansial. Strategi ini bukan hanya tidak menyelesaikan persoalan kualitas, tetapi juga menciptakan persaingan destruktif (cutthroat competition) dengan PTS, yang tidak memiliki bantalan fiskal dari negara.

Negara, dalam konteks ini, gagal menjalankan perannya sebagai wasit yang adil. Kebijakan dibiarkan bekerja secara liar, menekan PTS hingga banyak yang gulung tikar, terutama di daerah. Dampaknya, peran masyarakat sipil dalam pendidikan tinggi terkikis secara perlahan.

Diskriminasi Anggaran dan Pelanggaran Asas Kesetaraan

Distribusi anggaran pendidikan tinggi yang hanya berpihak pada PTN merupakan bentuk diskriminasi kebijakan yang bertentangan dengan asas kesetaraan (equality). Pajak dipungut dari seluruh warga negara tanpa membedakan latar belakang institusi pendidikan, namun hasilnya hanya dinikmati oleh PTN.

Dalam perspektif keadilan fiskal dan konstitusional, tidak ada justifikasi yang kuat untuk menolak pembagian anggaran negara secara proporsional kepada PTS. Keduanya sama-sama menjalankan fungsi publik, mencerdaskan bangsa, dan melayani kepentingan nasional.

Oleh karena itu, usulan pemotongan 50 persen anggaran negara untuk PTN dan pendistribusiannya secara proporsional kepada PTS patut dipertimbangkan sebagai kebijakan korektif. Terlebih, fakta menunjukkan bahwa banyak PTN saat ini memperoleh hingga 70–80 persen pendanaannya dari masyarakat. Dengan demikian, pemotongan tersebut secara riil hanya berdampak sekitar 10–15 persen terhadap total pendapatan PTN.

Alternatif Kebijakan: Pembatasan Kuota dan Skema Subsidi Silang

Jika pembagian anggaran negara tidak dimungkinkan secara politik, maka alternatif kebijakan yang lebih adil adalah pembatasan penerimaan mahasiswa berbiaya mandiri di PTN. PTN seharusnya memprioritaskan mahasiswa dari kelompok kurang mampu dengan pembiayaan penuh negara.

Mahasiswa dari kelompok mampu dapat diterima melalui skema subsidi silang (cross subsidy), di mana mahasiswa kaya secara langsung menopang pembiayaan mahasiswa miskin. Skema ini menegakkan asas proporsionalitas dan mencegah PTN menjadi institusi komersial terselubung yang bersaing tidak adil dengan PTS.

Ketimpangan antara PTN dan PTS bukanlah persoalan teknis, melainkan masalah keadilan struktural dalam kebijakan negara. Selama negara terus memelihara diskriminasi anggaran dan membiarkan PTN menguasai sumber daya publik dan privat sekaligus, maka ekosistem pendidikan tinggi nasional akan terus timpang dan rapuh.

Jika negara sungguh-sungguh ingin menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945, maka reformasi pendanaan pendidikan tinggi berbasis asas kesetaraan dan proporsionalitas adalah keniscayaan, bukan opsi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Bendera GAM, PBB, sampai Bendera Putih Berkibar di Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00