POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Menutup Pintu Dunia di Tanah Bencana

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
December 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Banjir besar yang berulang kali melanda Aceh dan berbagai wilayah Sumatra bukan lagi sekadar peristiwa alam. Ia telah menjelma menjadi cermin rapuhnya tata kelola kebencanaan nasional serta cara negara memaknai kemanusiaan, kedaulatan, dan tanggung jawab. Ketika dunia menawarkan bantuan—baik logistik, medis, maupun teknis—Indonesia justru berkali-kali memilih bersikap tertutup. Keputusan ini bukan tanpa konsekuensi, dan yang pertama kali membayarnya adalah rakyat di wilayah terdampak.

Aceh dan Sumatra memiliki sejarah panjang sebagai wilayah rawan bencana. Dari tsunami 2004 hingga banjir bandang berulang dalam dua dekade terakhir, kawasan ini seharusnya menjadi prioritas nasional dalam kesiapsiagaan dan respons darurat. Namun realitas di lapangan sering menunjukkan sebaliknya: keterlambatan bantuan, minimnya infrastruktur tanggap darurat, serta koordinasi pusat–daerah yang tersendat. Dalam kondisi seperti ini, menutup akses bantuan internasional justru memperpanjang penderitaan.

Kedaulatan yang Disalahpahami

Alasan paling sering dikemukakan negara adalah soal kedaulatan. Bantuan asing dianggap berpotensi mengganggu kontrol negara atas wilayahnya. Namun pemahaman ini mencerminkan tafsir kedaulatan yang usang. Dalam perkembangan hukum dan etika internasional pasca-Perang Dingin, kedaulatan tidak lagi dipahami sebagai hak absolut, melainkan sebagai responsibility to protect—tanggung jawab negara melindungi warganya dari penderitaan serius, termasuk akibat bencana alam.

Ketika negara tidak mampu merespons secara cepat dan memadai, menolak bantuan justru mengindikasikan kegagalan menjalankan kedaulatan substantif. Kedaulatan tanpa perlindungan manusia hanyalah simbol kosong.

Harga yang Dibayar Korban Bencana

Konsekuensi paling konkret dari penutupan pintu bantuan global adalah meningkatnya kerentanan korban. Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga memutus akses kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan martabat manusia. Di banyak wilayah Aceh dan Sumatra, warga harus bertahan berhari-hari tanpa listrik, air bersih, dan layanan medis yang memadai.

Organisasi kemanusiaan internasional memiliki keunggulan dalam logistik cepat, teknologi pemetaan bencana, serta pengalaman lintas negara. Menolak mereka berarti menghilangkan peluang penyelamatan yang sangat menentukan pada fase darurat awal—fase di mana nyawa manusia paling banyak diselamatkan atau hilang.

Ketimpangan Struktural dan Sentralisme Jakarta

Penolakan bantuan internasional juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan struktural Indonesia yang sangat tersentralisasi. Keputusan penting sering kali ditentukan di Jakarta, jauh dari realitas Aceh atau Sumatra. Wilayah luar Jawa kerap diposisikan sebagai objek, bukan subjek penanganan krisis.

Bencana kemudian memperlihatkan ketimpangan lama: daerah kaya sumber daya tetapi miskin perlindungan. Dalam konteks ini, penutupan akses bantuan asing terasa bukan sebagai perlindungan kedaulatan, melainkan pengabaian sistematis terhadap wilayah pinggiran.

📚 Artikel Terkait

Nyalanesia Lakukan Webinar Sekolah Aktif Literasi Nasional

Rekam Jejak Pidie

Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Seruan Internasional Masuk Untuk Kemanusiaan

Citra Indonesia dan Kontradiksi Moral

Indonesia aktif menyuarakan solidaritas global untuk Palestina, Rohingya, dan berbagai krisis kemanusiaan dunia. Namun sikap ini menjadi paradoks ketika solidaritas yang sama justru ditolak untuk rakyatnya sendiri. Dunia mencatat kontradiksi ini.

Sebagai anggota G20 dan negara yang mengklaim kepemimpinan moral di Global South, Indonesia seharusnya memberi contoh keterbukaan dalam krisis. Menutup pintu bantuan justru merusak kredibilitas diplomasi kemanusiaan yang selama ini dibangun.

Perspektif Hukum dan Prinsip Kemanusiaan

Dalam prinsip-prinsip kemanusiaan internasional—kemanusiaan, netralitas, imparsialitas, dan independensi—bantuan bencana tidak boleh dipolitisasi. Negara memang berhak mengatur mekanisme masuknya bantuan, tetapi bukan untuk menolaknya secara menyeluruh tanpa dasar proporsional.

Jika pola penolakan ini terus berulang, Indonesia berisiko dipersepsikan melanggar norma kemanusiaan yang juga menjadi rujukan dalam berbagai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Belajar dari Negara Lain

Jepang, Turki, Nepal, dan Pakistan adalah contoh negara berdaulat kuat yang tetap membuka pintu bantuan internasional saat bencana besar terjadi. Mereka tidak kehilangan martabat, tidak kehilangan kontrol, justru mempercepat pemulihan dan memperkuat kepercayaan publik.

Indonesia seharusnya mampu melakukan hal serupa: mengatur, bukan menutup; mengawasi, bukan menolak.

Saatnya Negara Bersikap Dewasa

Bencana bukan panggung pencitraan atau arena adu gengsi politik. Ia adalah ujian paling jujur tentang siapa yang benar-benar diprioritaskan negara. Jika keselamatan manusia kalah oleh ego kekuasaan, maka yang runtuh bukan hanya rumah dan jalan, tetapi legitimasi moral negara itu sendiri.

Membuka akses bantuan internasional secara transparan, terkoordinasi, dan akuntabel bukan ancaman bagi Indonesia. Sebaliknya, itulah wujud negara yang dewasa, percaya diri, dan beradab.

Penutup

Air banjir akan surut, tetapi luka sosial dan ingatan publik tidak mudah hilang. Sejarah akan mencatat bukan hanya bencana yang terjadi, tetapi juga keputusan negara dalam meresponsnya.

Pertanyaannya kini jelas: apakah Indonesia ingin dikenang sebagai negara yang menjaga gengsi, atau negara yang memilih kemanusiaan ketika rakyatnya paling membutuhkan?

POTRET Gallery

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Bumi Aceh Lon Sayang, Ketika Banjir Menghapus Jejak

Tragedi Sumatera 2025: Indonesia sebagai Negara Gagal

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00