POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bencana dalam Perspektif Islam

Antara Ujian Ilahi, Tanggung Jawab Moral, dan Krisis Etika Manusia

RedaksiOleh Redaksi
December 15, 2025
Banjir Bandang Langkahan: Teguran Alam atas Kelalaian Manusia
🔊

Dengarkan Artikel

:

Oleh : Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.


Mahasiswa Program Doktor Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.


Bencana alam merupakan bagian dari realitas sejarah yang terus hadir dalam perjalanan peradaban manusia. Peristiwa seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan berbagai bentuk kerusakan lingkungan tidak dapat dipahami semata-mata sebagai kejadian alamiah yang berdiri sendiri. Bencana selalu berkaitan dengan relasi yang kompleks antara manusia, lingkungan, dan sistem sosial yang mengatur kehidupan bersama.

Dalam konteks Aceh kontemporer, bencana berkaitan erat dengan sejarah hubungan manusia dan alam, arah kebijakan pembangunan, serta kualitas etika sosial yang berkembang di masyarakat. Islam, sebagai sistem nilai yang menyeluruh, memandang bencana bukan hanya sebagai peristiwa fisik, tetapi sebagai peristiwa bermakna yang memiliki dimensi teologis, moral, sosial, dan ekologis secara bersamaan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh peristiwa di alam semesta berada dalam pengetahuan dan kehendak Allah SWT. Namun kehendak ilahi dalam Islam tidak dipahami secara umum yang meniadakan peran manusia. Kehendak Tuhan selalu berjalan dalam kerangka keadilan dan hikmah.

Oleh karena itu, bencana dalam perspektif Islam lebih tepat dipahami sebagai ibtilā’, yaitu ujian dan peringatan, daripada sekadar hukuman ‘iqāb. Ujian tersebut bertujuan membangkitkan kesadaran manusia agar mampu membaca tanda-tanda kekuasaan Tuhan di alam āyāt kawniyyah sekaligus melakukan evaluasi terhadap pola hidup yang menjauh dari prinsip keseimbangan mīzān dan keadilan.

Konsep khalīfah fī al-arḍ menempatkan manusia sebagai pemegang amanah untuk menjaga dan mengelola bumi secara bertanggung jawab. Amanah ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga struktural, karena berkaitan dengan relasi manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan hidup.

Dalam konteks Aceh, berbagai pengalaman empirik dari wilayah terdampak bencana menunjukkan bahwa kegagalan menjalankan amanah tersebut berujung pada meningkatnya kerentanan ekologis dan sosial.

Di Aceh Tengah, misalnya, Triyanda sebagai rekan semasa studi sarjana dan ia juga warga setempat menceritakan bahwa bencana longsor yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari perubahan fungsi lahan di kawasan perbukitan sekitar kampung.

Wilayah yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga ekologis mengalami degradasi akibat aktivitas ekonomi yang tidak disertai dengan upaya konservasi. Dalam kondisi tersebut, hujan lebat hanya berperan sebagai pemicu, sementara akar kerentanan bencana telah terbentuk melalui akumulasi kebijakan dan praktik sosial yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa bencana tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan pilihan-pilihan manusia. Pandangan ini sejalan dengan peringatan Al-Qur’an bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia sendiri.

Ayat tersebut bukan hanya menyampaikan pesan teologis, tetapi juga mengandung kritik etis terhadap model pembangunan yang berorientasi jangka pendek dan mengabaikan prinsip keberlanjutan.

📚 Artikel Terkait

Fauziah: Songket Banda Aceh Sangat Diminati oleh Wisatawan

Di Balik Logo Hari Pahlawan 2021

Bimbingan Konseling Kini Dan Esok

UN itu, Buruk Rupa, Cermin Dibelah

Kejadian serupa juga terjadi di Aceh Utara, wilayah yang menjadi tempat tinggal kawan semasa menempuh studi magister. Maulana, rekan seperjuangan di jenjang pascasarjana, menggambarkan bahwa banjir yang berulang setiap musim hujan mencerminkan lemahnya tata kelola lingkungan dan perencanaan wilayah.

Pendangkalan sungai, menyempitnya kawasan resapan air, serta pembangunan yang tidak berbasis kajian ekologis membuat masyarakat terus berada dalam kondisi rentan. Dalam pandangannya, banjir tidak lagi dipahami sebagai musibah alam semata, tetapi sebagai konsekuensi dari kebijakan dan praktik sosial yang mengabaikan prinsip keberlanjutan. Kesadaran ini menunjukkan tumbuhnya muḥāsabah kolektif, yaitu refleksi sosial yang lahir dari pengalaman langsung menghadapi bencana.

Dimensi penderitaan yang lebih luas tampak dirasakan masyarakat Aceh Timur. Informasi yang disampaikan oleh saudara angkat dan sepupu di sana, yaitu Roji dan Akbar. Mereka yang menetap di wilayah tersebut, menggambarkan bahwa banjir yang berulang tidak hanya merusak rumah dan lahan pertanian, tetapi juga memutus mata pencaharian, prasarana sekolah hancur, serta melemahkan ketahanan ekonomi keluarga.

Dalam situasi ini, bencana menyingkap ketimpangan sosial yang nyata, di mana kelompok masyarakat dengan sumber daya terbatas menanggung beban paling berat, sementara akses terhadap perlindungan dan pemulihan sering kali tidak merata.

Kondisi yang tidak kalah memprihatinkan juga dialami masyarakat Aceh Tamiang. Melalui komunikasi telepon, Pak Zainal yaitu saudara yang bermukim di wilayah tersebut menyampaikan kondisi pascabencana banjir yang melumpuhkan hampir seluruh aktivitas kehidupan. Akses jalan terputus, kegiatan ekonomi terhenti, usahanya terpaksa ditutup sementara, dan berbagai aset keluarga hanyut terbawa banjir.

Curahan perasaan sedih dan kelelahan yang disampaikannya memperlihatkan dimensi kemanusiaan bencana yang luar biasa. Dalam situasi tersebut, penulis hanya dapat memberikan penguatan moral dan mengingatkan bahwa setiap musibah mengandung hikmah serta akan di ganti yang lebih banyak dari dari Allah SWT.

Keyakinan tersebut berangkat dari pengalaman empirik penulis sendiri. Pada tahun 2009, daerah asal penulis pernah mengalami kebakaran besar yang menghanguskan harta dan sumber penghidupan. Namun melalui kesabaran dan ikhtiar yang berkelanjutan, Allah SWT memberikan penggantian yang jauh lebih baik.

Pengalaman ini menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, musibah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan fase ujian yang membuka peluang transformasi kehidupan yang lebih luas.

Pengalaman dari Aceh Tengah, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang menunjukkan bahwa bencana alam tersebut sebagai pengingat bagi kita semua. Musibah yang terjadi tidak berdiri sebagai peristiwa alam yang netral, melainkan dipengaruhi oleh kerusakan ekosistem, alih fungsi hutan, deforestasi, serta berbagai bentuk intervensi manusia yang mengabaikan kepedulian terhadap lingkungan.

Demikian juga Ketidakadilan struktural, lemahnya perlindungan sosial, dan praktik pembangunan yang tidak berorientasi pada keberlanjutan. Serta memperbesar dampak bencana. terutama bagi kelompok masyarakat yang secara ekonomi dan sosial berada dalam posisi rentan. Dalam kondisi demikian, bencana menjadi cermin dari kegagalan manusia dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian alam.

Oleh karena itu, Islam tidak memisahkan respons spiritual dari tanggung jawab sosial dan ekologis. Kesalehan individual yang diekspresikan melalui doa dan kesabaran harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga lingkungan bentuk dukungan kepada korban bencana. Instrumen-instrumen sosial Islam seperti zakat, infak, dan wakaf tidak semata berfungsi sebagai bantuan yang bersifat sementara, tetapi sebagai mekanisme dan struktural untuk memulihkan kekuatan mental dan martabat manusia pascabencana, memperkuat ketahanan sosial, serta mendukung upaya rehabilitasi lingkungan agar kerusakan serupa tidak terus berulang di masa depan.

Dalam konteks ini, Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menilai penderitaan orang lain. Penafsiran bencana secara moralistik dan individualistik yang secara tergesa-gesa mengaitkan musibah dengan dosa personal berpotensi melukai korban dan mengaburkan faktor struktural yang berperan besar.

Nabi Muhammad SAW mencontohkan empati, solidaritas, dan kehadiran nyata sebagai respons utama terhadap musibah, bukan penghakiman moral yang secara individual.

Lebih jauh, bencana juga menjadi ujian terhadap kualitas kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan. Dalam perspektif Islam, kepemimpinan adalah amanah untuk melindungi jiwa, harta, dan lingkungan. Berbagai pengalaman di Aceh menunjukkan bahwa lemahnya perencanaan, minimnya mitigasi, serta pengawasan lingkungan yang tidak optimal turut memperparah dampak bencana. Dengan demikian, bencana sering kali membuka krisis etika dalam praktik pembangunan dan pemerintahan.

Meski demikian, bencana juga menyimpan potensi transformasi sosial. Solidaritas yang tumbuh di tengah penderitaan dapat menjadi modal sosial untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memperkuat keadilan sosial. Islam mendorong agar solidaritas tersebut tidak berhenti pada respons darurat, tetapi dilanjutkan dengan rekonstruksi sosial yang berorientasi pada keberlanjutan dan pemulihan martabat manusia.

Dengan demikian, bencana dalam perspektif Islam merupakan peristiwa yang sarat makna. Ia menjadi ujian iman, cermin krisis etika manusia, sekaligus peluang untuk melakukan koreksi mendasar terhadap arah pembangunan dan relasi manusia dengan alam. Pengalaman konkret dari berbagai wilayah Aceh menunjukkan bahwa ajaran Islam memiliki relevansi yang kuat dalam membaca realitas sosial. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk larut dalam kesedihan atau menyalahkan takdir, melainkan mengajak untuk berpikir kritis, bertindak etis, dan meneguhkan kembali amanah kekhalifahan di muka bumi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share9SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Doa Di antara Lumpur dan Longsor

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00