Dengarkan Artikel
Oleh Andi Kurniawan / Relawan Aceh Berdaya
Tidak ada yang membantah bahwa negara Indonesia kaya akan sumber daya alam; tidak perlu juga kita jelaskan lagi detailnya, karena hal ini sudah diajarkan sejak kita Sekolah Dasar. Barangkali salah satu yang perlu kita pelajari adalah curah hujan yang tinggi setiap akhir tahun di Indonesia. Hal ini membuat hutan-hutan di Indonesia berperan secara maksimal menyimpan kandungan air di dalamnya.
Pernahkah kita berpikir dari mana mata air yang mengaliri sungai-sungai? Ya, dari pegunungan yang di dalamnya terdapat ekosistem hutan, terdiri dari pepohonan yang memiliki akar kuat dan batang besar, serta makhluk hidup lainnya.
Hutan selayaknya waduk alami yang menyimpan kandungan air dan dilengkapi pengaturan debit air yang teratur, baik pada musim hujan maupun saat musim kemarau datang. Apa yang terjadi jika hutan digunduli secara membabi buta atau secara ilegal? Pohon-pohon besar yang berfungsi sebagai kanopi—sehingga air tidak langsung jatuh menghantam tanah—akan hilang. Belum lagi lahan sawit dan tambang-tambang yang ada di hutan Aceh.
Saya tidak mau mengajari pembaca, karena pengetahuan saya mengenai hutan juga sedikit. Namun dalam tulisan kali ini saya ingin mengajak diri saya untuk mencari tahu kembali betapa pentingnya keberadaan hutan bagi keberlangsungan makhluk hidup. Dalam kajian krisis ekologi, punahnya satu spesies makhluk hidup akan mempengaruhi sebuah ekosistem.
Menurut Sayyed Hossein Nasr, “Ketika manusia melupakan bahwa alam itu suci, ia menghancurkan alam dan dirinya sendiri. Krisis ekologi bukan hanya akhir dari alam, tetapi awal bagi akhir manusia.” Oleh karena itu, saat kita tidak lagi menghormati alam, sebenarnya kita sedang menciptakan kiamat kita sendiri.
📚 Artikel Terkait
Per tanggal 6 Desember 2025 BNPB telah merilis jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebanyak 914 jiwa. Dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41 disebutkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Allah SWT tentu menginginkan kita kembali sadar akan tugas kita sebagai khalifah di muka bumi, bukan menjadi Firaun, Qarun, dan Bal‘am.
Akar Krisis Ekologi
Di antara tiga makhluk hidup—manusia, hewan, dan tumbuhan—siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan bumi? Sudah pasti makhluk yang berakal. Manusia menjadi masalah saat memiliki mindset bahwa ia adalah subjek, sedangkan makhluk hidup lain hanyalah objek. Pemikiran ini melahirkan sifat superior (kesombongan) saat berhadapan dengan alam, bahkan dengan sesama manusia.Kedua, manusia menjadi masalah saat mengutamakan kesenangan saja.
Hal ini tampak jelas saat pedagang menaikkan harga barang ketika terjadi musibah. Perilaku eksploitatif atau keserakahan sudah menjalar dari hulu ke hilir, dari ujung rambut hingga ke kaki.
Terakhir, manusia menjadi masalah saat perilaku apatis atau cuek mendominasi. Ketidakpedulian kita terhadap lingkungan, penambangan, penebangan hutan, kasus korupsi, suap-menyuap, dan maksiat, membuat hari ini kita merasakan sebagian dari akibat perbuatan kita. Hanya kepada Allah SWT kita memohon ampun dan kembali. Jika bukan karena cinta Allah kepada hamba-Nya, tidak akan terpancar cinta pada diri manusia untuk membantu korban yang kesulitan mengakses makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang nyaman.
Tentu, apa yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam membantu sesama warga tidak membuat pemerintah boleh melepaskan tanggung jawab. Karena segala izin penambangan, perluasan sawit, penebangan hutan, pembukaan lapangan pekerjaan, serta pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor merupakan keputusan politik yang terdapat dalam kebijakan-kebijakan pemerintah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






