Dengarkan Artikel
Karya: Miftahul Jannah
Hujan turun dengan deras,
dingin menusuk hingga tulang,
membuat malam menidurkan kami,
meski tidur tak pernah sepenuhnya tenang.
Air merembes pelan ke perkarangan,
menembus tanpa permisi,
mengotori lantai yang telah dipel bersih,
melonjak, menuntut kami bertahan.
Aku memanjat atap,
meraba ketidakpastian di bawah;
di sana, saudara-saudaraku juga terangkat,
menunggu bantuan, menahan arus yang tak bersahabat.
Ibu, Ayah, mereka dekatku,
dadaku berdegup kencang kala hujan menggila;
aku peluk erat tubuh mereka,
dengan gigi menggigil—suara hujan jadi nyanyian yang tak menenangkan.
“Tetaplah bertahan, Nak,”
kata mereka, lembut namun tegas,
“Ini ujian Tuhan, berdoalah,
yakinkan dirimu, Ia akan menyelamatkan kita.”
📚 Artikel Terkait
Aku terdiam, lalu menunduk,
membiarkan harapan meresap di tulang,
menyadari syukurku—
bahwa masih bersama mereka,
meski malam ini adalah lautan yang ganas.
Tak ada sinyal, listrik mati,
namun doa kami terbang ke langit.
“Tuhan, tolong selamatkan kami,”
bisikku pelan kala hujan membasahi wajahku.
Namun di sela derasnya hujan,
ada satu hal yang menahan napas:
kabar saudara-saudaraku
yang tak kunjung tiba.
Nama-nama mereka berputar di kepalaku,
seperti bayangan yang tak bisa kugapai.
Aku hanya bisa menatap gelap,
mendoakan langkah mereka tetap selamat.
Angin membawa kegelisahan,
namun juga sedikit harapan—bahwa di tempat lain,
mereka pun sedang berdoa untuk tetap kuat.
Di tengah malam yang kuyup dan asing,
aku memeluk doa lebih erat daripada selimut.
“Ya Tuhan… lindungi mereka,”
bisikku lirih namun sungguh,
sebelum kupejamkan mata
dengan hati yang tak sepenuhnya tenang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





