• Latest

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Di Antara Bencana dan Tragedi

Redaksiby Redaksi
Desember 5, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: AcehBanjirLomba MenulisLongsorSumateraSumbarSumut
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Akhir November 2025, Sumatera kembali diuji. Di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, hujan ekstrem berhari-hari mengubah sungai menjadi amuk, meluluhlantakkan kampung, merendam ribuan rumah, dan menutup jalan-jalan vital oleh longsor. Pemerintah daerah melaporkan puluhan titik banjir besar dan serangkaian longsor yang memutus akses, menghentikan aktivitas ekonomi, bahkan menahan ambulan yang berjuang mencapai desa-desa terisolir.

Di atas kertas, peristiwa ini disebut bencana—fenomena hidrometeorologis akibat curah hujan tinggi, lereng jenuh air, dan tata ruang yang rapuh. Namun bagi warga, bencana itu menjelma tragedi: rumah yang hanyut, lahan mata pencaharian hilang dalam sekejap, dan nyawa orang terdekat yang tak sempat diselamatkan ketika air gelap datang tanpa suara.

Data nasional mencatat dampak yang mengejutkan: lebih dari 800 korban meninggal, ratusan masih hilang, dan ribuan luka-luka. Jalan nasional terputus, jembatan tergerus, listrik padam, dan ratusan desa harus hidup dalam isolasi sementara. Di tenda pengungsian, ratusan keluarga berbagi selimut tipis, nasi dingin, dan cerita duka yang sulit dituturkan tanpa air mata.

Namun di tengah kehancuran, ada sesuatu yang tetap tegak: kemanusiaan.

Warga saling memanggul karung berisi pasir untuk menahan arus, ibu-ibu memasak di dapur darurat, para pemuda membersihkan lumpur setinggi lutut agar akses evakuasi terbuka. Ada yang berjaga sepanjang malam memantau ketinggian air; ada yang menenangkan anak-anak agar tidak menangis melihat rumah mereka tinggal fondasi.

Inilah yang ingin kami rekam melalui Lomba Menulis Edisi Desember 2025: “Di Antara Bencana dan Tragedi.”Kami mengajak para penulis tidak hanya menuliskan besarnya kerusakan, tetapi juga denyut batin warga, keberanian kecil yang sering tak terlihat kamera, dan bagaimana masyarakat bergerak sendirinya ketika alam mengamuk.

Baca Juga

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Sebab banjir dan longsor ini tidak muncul tiba-tiba. Para ahli lingkungan telah bertahun-tahun memperingatkan bahwa tutupan hutan di hulu DAS menyusut, tanah kehilangan daya serap, aliran air permukaan meningkat drastis, dan tata ruang banyak mengabaikan zona rawan.

Ketika perubahan iklim memperberat curah hujan ekstrem, kondisi ekologis yang rapuh membuat bencana berkembang cepat menjadi tragedi. Pertemuan antara alam yang tercekik dan ruang hidup yang dikelola tanpa kehati-hatian melahirkan kehancuran yang kita lihat hari ini.

Menulis tentangnya berarti mengingatkan:bahwa tragedi bukan sekadar air bah dan reruntuhan, tetapi cermin kegagalan kita menjaga lingkungan. Dan di saat yang sama, ia juga menyimpan cerita keteguhan manusia yang menolak menyerah.

Melalui tulisan—ringkas, jujur, dan empatik—mari kita suarakan apa yang terjadi di Sumatera: rasa kehilangan yang sunyi, gotong royong yang tak pernah padam, dan harapan agar bencana tak terus berubah menjadi tragedi yang berulang.

Karena di antara bencana dan tragedi, ada manusia.Dan suara merekalah yang harus kita jaga. Periode lomba 06 Desember 2025 hingga 05 Januari 2026.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Mengenal Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah di Saat 173 Jiwa Tewas

Mengenal Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah di Saat 173 Jiwa Tewas

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com