• Latest
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

Desember 3, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?

Ririe Aikoby Ririe Aiko
Desember 3, 2025
Reading Time: 3 mins read
Ketika Ratusan Nyawa Tenggelam, Apakah Nurani Pejabat Ikut Menghilang?
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Kabar duka dari Sumatera kembali menyayat nurani bangsa. Hingga hari ini, korban meninggal akibat banjir dilaporkan telah mencapai lebih dari 750 jiwa, angka yang begitu besar, begitu menyedihkan, dan seharusnya cukup untuk mengguncang kesadaran publik serta pemerintah untuk menetapkan hal ini sebagai Bencana Nasional.

Namun anehnya, para pejabat kita yang terhormat, justru menganggap suasana mencekam ini hanya tampak di media sosial, seolah tragedi kemanusiaan sebesar ini hanyalah efek dramatisasi internet. Pertanyaannya, sampai sejauh apa empati bisa tergerus? Bagaimana mungkin kehilangan ratusan nyawa dianggap sebagai isu yang bisa ditanggapi dengan santai?

Media sosial, baik disukai maupun tidak, telah menjadi ruang dokumentasi paling jujur dari kondisi di lapangan. Ketika video rumah hanyut, jenazah ditemukan di lumpur, atau tangis para pengungsi muncul di layar ponsel, itu bukan sekadar “konten mencekam”.

Sebaliknya, hal itu adalah bukti bahwa realitas di lapangan jauh lebih menyakitkan dari apa yang tampak. Namun respons para pejabat publik kita, justru mengerdilkan fakta tersebut, seolah tragedi dapat dikecilkan hanya karena mereka menontonnya dari jarak aman.

Sikap seperti ini tidak hanya menunjukkan kurangnya empati, tetapi juga mengungkapkan betapa mudahnya kita kebal terhadap derita sesama.

Hal lain yang lebih membuat saya geram adalah ketika bermunculan video di linimasa, tentang bagaimana proses bantuan pemerintah diberikan pada korban bencana. Dimana beredar dalam sebuah video yang saya kutip dari unggahan Instagram Story @drtanshotyen, mengenai korban banjir Sumatera yang mengaku diminta KTP dan KK hanya untuk mendapatkan bantuan.

Sebuah pertanyaan muncul, berkecamuk dalam pikiran saya: logikanya bagaimana? Dalam kondisi darurat, saat banyak dari mereka bahkan kehilangan anggota keluarga, rumah, dan seluruh harta benda, apakah wajar menuntut dokumen yang kemungkinan besar sudah hanyut terbawa arus?

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
img-0531_11zon

Mengingat Masa Lalu, Menentukan Arah Masa Depan

Maret 29, 2026

Kita hidup di negeri yang terkenal dengan birokrasi berlapis-lapis. Tetapi ketika aturan administratif diterapkan secara kaku pada situasi bencana, itu bukan lagi urusan administrasi, itu adalah pengingkaran moral. Ketika seseorang sedang kehilangan segalanya, meminta KTP atau KK sama saja seperti memperlihatkan bahwa empati telah digantikan oleh sistem yang dingin dan tak berperasaan.

Bukankah seharusnya dalam keadaan darurat, pertolongan didahulukan, soal administrasi itu hanya masalah teknis yang bisa dikesampingkan. Seluruh prinsip penanganan bencana di dunia menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas pertama, bukan mengajukan syarat-syarat yang bahkan tidak mungkin bisa dipenuhi korban, yang berada ditengah kesedihan dan keputusasaan.

Belum lagi peristiwa bantuan yang dilempar dari helikopter, sebuah tindakan yang mungkin dimaksudkan sebagai upaya cepat, tetapi justru berakhir tragis karena sebagian besar bantuan itu tidak dapat dimanfaatkan warga. Bantuan berhamburan, tercecer, bahkan tidak ada satu pun yang benar-benar sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Lantas, apa gunanya pertunjukan “aksi cepat” jika tidak efektif menyelamatkan warga?

Peristiwa seperti ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi dengan para pemimpin negeri ini? Mengapa koordinasi penanganan bencana masih begitu lemah, lamban, dan terlihat lebih mementingkan citra daripada memastikan warga selamat? Mengapa selalu ada jarak antara tindakan dan kebutuhan nyata di lapangan?

Bencana seharusnya menjadi momentum untuk menunjukkan solidaritas, kepemimpinan, dan kemanusiaan. Tetapi ketika syarat administrasi dipaksakan, ketika bantuan tidak terdistribusi dengan benar, ketika tragedi direspons dengan komentar meremehkan, kita harus berani mengakui bahwa yang mengalami banjir bukan hanya Sumatera, melainkan juga kemanusiaan para pejabat yang kini perlahan tenggelam.

Sudah saatnya pemerintah mengevaluasi total sistem penanganan bencana: mulai dari kecepatan reaksi, efektivitas distribusi bantuan, hingga fleksibilitas prosedur dalam situasi genting. Kita tidak boleh lagi membiarkan birokrasi mengalahkan empati.

Ratusan nyawa telah hilang. Air mungkin akan surut, tetapi luka kolektif ini tidak akan pernah benar-benar kering. Pertanyaan paling penting yang tersisa adalah: apakah pemerintah akan belajar dari tragedi ini, ataukah tragedi ini hanya akan kembali berlalu tanpa menjadi evaluasi yang berarti?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Aceh Tamiang, Derita Berkepanjangan

Mendorong Lahirnya Engineer Masa Depan di Tengah Keterbatasan Akibat Bencana Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com