POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Nada-Nada Alam yang Membentuk Kekuatan

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
November 28, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

– Penikmat SuaraAlam

Alam tidak pernah berteriak, tetapi justru lewat senyapnya ia menggetarkan dunia. Ada suara yang tidak ditulis oleh hujan, tidak dipahat oleh sungai, tidak dipilih oleh angin—namun setiap dari mereka membawa pesan yang hanya bisa dibaca oleh hati yang masih hidup.


Setiap kali aku mendengarkan suara alam, aku merasa seperti seseorang yang diajak pulang oleh rumah yang sudah lama menunggu. Bukan rumah yang terbuat dari dinding dan atap, tetapi rumah yang terbuat dari kesadaran bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih tua daripada ingatan.

Hujan jatuh bukan hanya membasahi bumi. Ia membawa ritme yang membuat jiwa kembali menemukan nadanya. Setiap tetes, seperti mengetuk pintu dada, berkata:
“Bangunlah. Dengarlah. Di sinilah kekuatanmu bersembunyi.”
Angin yang melewati dedaunan tidak sekadar bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Ia sedang menyisir ruang-ruang dalam diri manusia yang penuh debu, mengangkatnya, membersihkannya, dan mengembalikannya menjadi bening. Sungai yang mengalir tidak sekadar menggeser batu kecil; ia menyampaikan pelajaran bahwa keteguhan tidak harus keras. Kadang, kekuatan yang paling besar justru berada pada aliran yang tidak pernah menyerah.

Di dalam tubuh kita, suara-suara itu menyalakan kembali saklar-saklar lama yang padam oleh hiruk pikuk dunia. Orang modern selalu merasa kehilangan kekuatan, padahal mereka hanya kehilangan frekuensi alam. Suara alam merembes masuk ke dalam syaraf, melunakkan ketegangan yang membatu di leher, melarutkan beban yang tidak tampak di dada, dan mengembalikan pikiran kepada kejernihan yang pernah kita miliki waktu kecil—ketika dunia masih sederhana, ketika angin masih cukup untuk membuat kita tersenyum.

📚 Artikel Terkait

Memahami Kejatuhan Aceh sebagai Pembelajaran Peradaban

Membangun Kemampuan Literasi Anak Negeri Tanpa Bacaan, Mungkinkah?

Menapak Jejak Literasi di Bireun

DPKA Bedah Buku Prof. Hasbi Amiruddin: Tengku Daud Zamzani Ulama Karismatik dan Visioner

Tetapi suara alam bukan hanya menyembuhkan manusia. Ia juga membentuk kekuatan pada bahan-bahan yang diam, namun penuh memori. Pohon yang tumbuh bersama nyanyian angin dan hujan mengandung keteguhan yang tidak bisa diajarkan oleh manusia. Batu yang bertahan ribuan tahun di bawah gemuruh ombak memiliki struktur yang tidak dimiliki batu yang “dibentuk” dalam sepi buatan.

Material yang lahir dari irama alam membawa roh bumi itu sendiri—keteguhan yang tak terlihat, tetapi terasa. Para ahli menyebutnya sebagai resonansi frekuensi. Para leluhur menyebutnya sebagai napas bumi. Dan aku memilih untuk menyebutnya: getaran asal.

Kehadiran suara alam di telinga manusia seperti pembuka pintu-pintu lama yang berkarat. Ketika seseorang duduk di bawah pohon dan membiarkan angin berbicara, tubuhnya perlahan berubah. Detak jantung menenangkan diri, pikiran mendapatkan ruang untuk bernafas, dan jiwa… ah, jiwa mulai mengingat bahwa ia pernah kuat. Ia pernah utuh. Ia pernah tenang. Dan ia bisa kembali menjadi semua itu.

Kadang aku berjalan di tepi sungai dan merasakan dunia seperti sedang berdoa. Kadang aku berdiri di bawah hujan dan merasa seolah-olah langit sedang memapahku, bukan sekadar menurunkan air. Malam, dengan suara serangga yang seperti mantra kecil, membuatku merasa bahwa kesunyian pun punya bahasa. Orang yang tak bisa membaca pun akan mengerti bahwa suara alam adalah pesan Tuhan yang tidak dibatasi huruf. Ia hadir untuk siapa saja yang berani membuka telinga dan membuka hati.

Aku menulis ini bukan untuk mengajarkan. Bukan untuk memaksa. Aku hanya ingin menyampaikan satu kebenaran lembut yang sering dilupakan manusia:
bahwa kekuatan paling dalam tidak datang dari luar, tetapi dari cara kita mendengar alam yang memanggil kita pulang.
Dan suara alam—meski sederhana, meski hanya bunyi—mampu membangunkan jiwa yang sudah lama tertidur. Ia memukul sesuatu di dalam diri kita tanpa menyentuhnya. Ia menggetarkan sesuatu tanpa menyentuh kulit.

Selama sungai masih bernyanyi, selama angin masih menjahit dedaunan, selama malam masih dihidupkan oleh suara kecil makhluk-makhluk yang tidak terlihat—manusia tidak akan pernah benar-benar kehilangan arah. Suara alam tidak datang untuk memimpin. Ia datang untuk mengingatkan.

Bahwa kita ini rapuh.
Bahwa kita ini kuat.
Bahwa kita ini bagian dari sesuatu yang lebih besar, lebih tua, lebih bijak.

Dan selama kita berani mendengar, kekuatan itu tidak akan pernah hilang.
Tidak akan pernah pergi.
Ia hanya menunggu.

Seperti bumi yang menunggu langkah kita kembali.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Jeritan Banjir Sumatera- Tangkap dan Hukum Cukong di Balik Itu, Bukan Pekerja yang Dibayar 100 Ribu Perhari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00