Dengarkan Artikel
Oleh: Siti Hajar
Setiap tahun, Hari Guru Nasional datang dengan ucapan selamat, unggahan seremonial, dan senyum-senyum yang difoto untuk memenuhi layar. Namun bagiku, momentum ini selalu membawa rasa lain—semacam perasaan kekhawatiran, cemas dan kegundahan yang mendalam dan berpikir bagaimana nasib guru-guru di negeri ini, terutama di Aceh, tanah tempatku tumbuh.
Bukan karena aku seorang guru, tetapi karena aku lahir dan besar di tengah keluarga guru. Bapakku seorang guru, kembaranku guru, dan suamiku juga guru. Maka setiap cerita pedih, lelah, dan getir yang mereka bawa pulang ke rumah, mau tidak mau, ikut merasakan apa yang mereka rasakan.
Yang membuatku paling terpukul adalah kenyataan bahwa tantangan guru hari ini jauh lebih berat dibandingkan generasi sebelumnya. Di era digital, anak-anak memang hadir secara fisik di kelas, tetapi sering kali ruh dan jiwa mereka berada entah di mana.
Ada yang tenggelam dalam layar gawai, ada yang lebih peduli pada notifikasi, ada yang duduk, tetapi pikirannya berlarian mengejar dunia maya yang tak bertepi. Guru berdiri di depan, berbicara dengan seluruh tenaganya, tetapi yang kembali hanyalah gema yang memantul di dinding kelas. Dan di sinilah luka pertama itu dimulai—ketika usaha tak lagi dihargai, ketika ilmu tak lagi diindahkan.
Lebih memilukan lagi, ketika seorang guru sedikit keras atau tegas dalam mendidik, niat baik itu bisa membawanya berurusan dengan kepolisian. Kita tahu beberapa kasus di tanah air di mana guru yang berusaha menegakkan disiplin justru dilaporkan. Padahal, pendidikan tanpa ketegasan hanya akan melahirkan generasi yang rapuh, generasi yang mudah tersinggung, generasi yang tak tahan disentuh kritik.
Ironisnya, yang sedang kita bangun sekarang bukanlah anak-anak yang tangguh, melainkan generasi yang perlahan kehilangan rasa hormat.
Lalu, ada lagi pemandangan yang membuat hatiku tertegun: guru berjoget TikTok bersama siswa di kelas demi konten viral. Aku tidak menolak kreativitas, tidak menolak metode belajar yang menyenangkan. Tapi ketika ruang kelas berubah menjadi studio konten, ketika marwah guru dicabut perlahan oleh budaya hiburan yang kebablasan, maka ada sesuatu yang sangat salah sedang terjadi.
Dan aku hanya bisa membayangkan bagaimana bapakku atau suamiku memandang situasi ini—perasaan getir yang sulit dijelaskan.
📚 Artikel Terkait
Di titik ini, aku merasa kita semua harus berani bercermin. Bukan hanya guru, bukan hanya sekolah, bukan hanya pemerintah. Tapi semua—orang tua, pengambil kebijakan, masyarakat. Kita sering lupa bahwa rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Jika anak tidak diajarkan menghormati orang tuanya, bagaimana mungkin ia akan menghormati gurunya?
Jika di rumah ia dibiarkan tumbuh tanpa batasan, bagaimana ia akan siap menerima aturan di sekolah? Sekolah hanya bisa meneruskan apa yang telah ditanamkan di rumah, bukan menggantikan seluruh perannya. Maka, sebelum kita menuntut guru menjadi sempurna, marilah kita terlebih dahulu menata rumah sebagai ruang pendidikan yang sesungguhnya.
Sekolah juga harus berbenah. Pengambil kebijakan tidak bisa menutup mata. Guru tidak bisa terus dibebani administrasi yang menggunung, tuntutan yang tak masuk akal, serta aturan-aturan yang membuat mereka seolah bekerja tanpa dilindungi.
Guru membutuhkan ruang aman untuk mendidik, bukan ruang yang membuat mereka takut mengambil keputusan. Dan guru itu sendiri, siapapun yang sedang mengemban profesi ini, harus kembali mengingat makna mulia dari kata pendidik.
Jika merasa tidak mampu menjadi panutan, berhentilah sejenak, belajarlah lagi. Tidak ada salahnya mundur demi menjaga martabat profesi. Bahkan alih profesi pun lebih baik daripada memaksakan diri mengajar tanpa ruh dan arah. Karena menjadi guru bukan soal menggugurkan tugas, tetapi soal membentuk manusia.
Hari Guru Nasional seharusnya menjadi waktu bagi kita semua untuk menundukkan kepala dan mengakui bahwa jalan pendidikan kita sedang berada di persimpangan yang genting. Jika kita berharap Aceh dan Indonesia melahirkan generasi cerdas, berkarakter, dan berdaya saing, maka kita harus menjaga guru-guru kita.
Kita harus menguatkan mereka, menghargai mereka, dan memberi mereka dukungan yang layak. Tanpa guru yang terlindungi, tidak akan ada anak yang benar-benar terdidik. Tanpa guru yang berwibawa, tidak akan ada generasi yang berkarakter. Dan tanpa guru yang dihormati, jangan pernah berharap pada masa depan bangsa.
Maka di Hari Guru Nasional ini, izinkan aku menyampaikan satu hal sederhana yang selama ini tertahan di dada: hormatilah guru. Jangankan hari ini, bahkan dalam setiap detik hidup kita. Sebab di tangan merekalah arah masa depan kita ditentukan.
Lalu, bagi para guru di Aceh Besar, Aceh, dan seluruh Indonesia—semoga kalian tetap kuat, tetap tegar, dan tetap percaya bahwa pekerjaan kalian bukan sekadar profesi, tetapi ibadah panjang untuk peradaban.
Selamat Hari Guru Nasional. Tetaplah semangat di tengah gempuran dunia yang kian tak menentu ini. Di saat perubahan datang begitu cepat, ketika nilai-nilai lama digeser oleh budaya instan, ketika ruang kelas tak lagi tenang seperti dulu, kalian—para guru—tetap berdiri.
Kadang dengan hati yang lelah, walau kadang dengan kening yang berkerut, akan tetapi dengan tekad yang mulia, yaitu mendidik. Tetap Semangat wahai Guru.
Semoga setiap langkah kalian dicatat sebagai amal yang terus mengalir. Semoga keikhlasan kalian menjadi cahaya bagi anak-anak yang tumbuh di zaman serba bergejolak ini. Dan semoga negeri ini, termasuk para pemimpinnya, semakin peka bahwa masa depan bangsa bertumpu di pundak kalian. Terima kasih, Guru. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






