Dengarkan Artikel
Oleh Feri Irawan
Keajaiban lahir di kualifikasi Piala Dunia Zona CONCACAF. Negara mungil Kepulauan Karibia,
Curacao, yang penduduknya hanya 156 ribu jiwa, mewujudkan mimpi negara sebesar Indonesia.
Bayangkan dua negara yang sama-sama memiliki hasrat besar di dunia sepak bola, tetapi berbeda ukuran dan populasi. Indonesia, dengan lebih dari 270 juta jiwa, telah lama menantikan momen tampil di Piala Dunia.
Negara yang pernah dilatih mantan manajer Timnas Indonesia Patrick Kluivert, baru saja mengukir sejarah besar dengan lolos ke Piala Dunia 2026.
Ini adalah pertama kalinya Si Ombak Biru, julukan Curacao, lolos ke turnamen empat tahunan tersebut, dan memecahkan sebuah rekor sensasional.
Curacao resmi memecahkan rekor Islandia sebagai negara dengan jumlah penduduk paling kecil yang pernah tampil di Piala Dunia 2018.
Mereka juga menggeser Trinidad & Tobago sebagai negara dengan luas wilayah terkecil yang berhasil tampil di Piala Dunia 2006.
Negara yang pernah dikalahkan dua kali oleh Timnas Indonesia tersebut justru lebih dulu mencatatkan sejarah dengan tampil di Piala Dunia pertamanya.
Prestasi ini membuktikan bahwa ukuran negara bukanlah jaminan dalam sepakbola.
📚 Artikel Terkait
Di sisi lain, pencapaian Curacao otomatis menyindir negara-negara raksasa seperti India, China, dan Indonesia yang justru kesulitan menembus Piala Dunia.
Perbedaan populasi yang mencolok ini semakin menegaskan betapa luar biasanya kisah sukses Curacao lolos Piala Dunia. Pencapaian ini bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang semangat dan kemampuan sebuah negara kecil untuk bersaing di level tertinggi.
Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakatnya, tetapi juga menambah daftar kisah inspiratif negara-negara kecil yang mampu bersaing di panggung global.
Analog dengan Sekolah
“Negeri Kecil, Mimpi Tak Terbatas” dapat diartikan secara harfiah sebagai sebuah tempat atau negara yang secara fisik kecil ukurannya, tetapi memiliki aspirasi, harapan, atau potensi yang sangat besar dan tidak terbatas.
Frasa ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi di mana keterbatasan fisik atau sumber daya tidak menghalangi impian dan ambisi yang tinggi. Ini adalah cara puitis untuk menyampaikan gagasan bahwa besar kecilnya sebuah tempat tidak menentukan besarnya impian yang bisa diwujudkan oleh masyarakatnya.
Interpretasi ini dapat diterapkan pada sekolah kecil dengan segala keterbatasan namun memiliki mimpi tak terbatas. Meskipun lingkungan belajar (sekolah) berukuran kecil atau terbatas sumber dayanya, potensi dan aspirasi para siswanya (mimpi) tidak memiliki batas.
Ibarat anak-anak desa dalam menuntut ilmu, meski jarak dan keterbatasan fasilitas sering kali menjadi tantangan, namun tidak pernah merasa kecil hati.
Keterbatasan bukanlah halangan untuk bermimpi besar. Anak-anak dan para guru harus percaya diri, karena dari tempat terpencil sekalipun, bisa lahir generasi yang hebat.
Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






