POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Fenomena Politik TikTok dan Perubahan Demokrasi Digital

Perspektif Aceh, Nasional, dan Global

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
November 20, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman


  1. Pendahuluan: Politik 30 Detik dan Krisis Literasi Baru

Perubahan politik global hari ini dipercepat oleh kehadiran TikTok, platform yang mengubah cara publik memahami isu negara. Algoritma yang agresif, ritme video pendek, dan dominasi kreator non-eksper menciptakan realitas baru: politik dikonsumsi secara cepat, emosional, dan impulsif. Di Indonesia, tren ini melonjak tajam dan menembus semua wilayah, termasuk Aceh—daerah yang memiliki identitas religius, struktur sosial adat, dan penerapan Syariat Islam yang menjadi acuan moral publik. Masuknya konten politik nasional dan global ke Aceh memperlihatkan dinamika menarik: bagaimana masyarakat yang berakar pada nilai agama kini berinteraksi dengan demokrasi digital yang serba instan dan visual.


  1. Data dan Tren: Pergerakan Opini Publik yang Didikte Algoritma

Fenomena ini bisa dilihat dalam beberapa angka yang menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh platform ini. Di Indonesia, pengguna TikTok telah melebihi 125 juta, terbesar kedua di dunia. Survei penggunaan media menunjukkan bahwa 73% anak muda lebih percaya opini kreator TikTok dibandingkan media arus utama. Lebih jauh lagi, 58% pengguna mengakui tidak melakukan verifikasi fakta atas konten politik yang mereka tonton. Di Aceh, adopsi TikTok meningkat 62% dalam dua tahun terakhir, terutama di kalangan usia 17–35 tahun. Artinya, ruang produksi dan konsumsi politik kini beralih dari wartawan, dosen, dan ulama menuju kreator digital yang diukur bukan dari kebenaran argumentasinya, tetapi dari kecepatannya memancing emosi.


  1. Aceh, Syariat, dan Tantangan Banjir Narasi Digital

Aceh memiliki keunikan yang membuat interaksi dengan TikTok berbeda dibanding wilayah lain. Dengan identitas keislaman yang kuat, masyarakat Aceh terbiasa menerima panduan dari ulama, teungku, dan pemuka adat. Namun, ruang digital menghilangkan batas-batas otoritas keilmuan. Konten politik yang kadang menyinggung agama, syariat, atau isu sensitif nasional tiba tanpa filter. Banyak anak muda Aceh menyerap narasi politik yang tidak sesuai konteks lokal, sementara sebagian kreator dari Aceh sendiri membuat konten panas tanpa pemahaman fikih, sejarah konflik, maupun etika syariah dalam penyampaian pendapat.

Dalam konteks ini, hadis Rasulullah SAW menjadi sangat relevan:

“Cukuplah seseorang dianggap berdosa ketika ia menyebarkan setiap kabar yang ia dengar.”
(HR. Muslim)

Syariat menuntut kehati-hatian, verifikasi, dan adab, namun ruang digital mendorong kecepatan, sensasi, dan kompetisi viral. Inilah benturan antara nilai lokal Aceh dan budaya algoritma global.


  1. Nasional: Normalisasi Politik sebagai Hiburan

Di tingkat nasional, TikTok menjadikan politik sebagai tontonan. Banyak pejabat, politisi, dan partai politik mulai menyesuaikan gaya komunikasi mereka agar terlihat akrab dan “gaul” di hadapan pemilih muda. Konten politik berubah dari debat berbasis data menjadi hiburan ringan, meme, satire, dan drama. Perdebatan substansial soal ekonomi, pendidikan, dan kebijakan publik tenggelam oleh konten yang mengejar efek lucu dan dramatis.

📚 Artikel Terkait

Kisah Yusuf a.s.

Jiwa Fitrah

HARI ARAFAH

Forum Keluarga Aceh Pabasko dan IPMA Gelar Rapat Persiapan Peringatan Dua Dekade Tsunami

Fenomena ini membentuk realitas baru: publik tidak lagi menilai politisi dari kualitas gagasannya, tetapi dari kreativitas konten TikTok-nya. Maka muncullah istilah baru di kalangan pengamat: “demokrasi influensial”, yakni demokrasi yang dikendalikan oleh aktor viral, bukan aktor berpengetahuan.


  1. Regional Asia: Pola yang Berulang di Negara Tetangga

Perubahan ini bukan khas Indonesia. Di Filipina, kemenangan Ferdinand Marcos Jr. sangat dipengaruhi oleh operasi citra di TikTok yang membangun narasi positif keluarga Marcos. Di Thailand, gerakan pro-demokrasi anak muda menggunakan TikTok dan Twitter untuk menantang otoritas lama. Di Malaysia, partai politik mulai mengadopsi gaya komunikasi influencer demi menarik suara generasi Z. Asia kini berada dalam gelombang besar transformasi politik berbasis algoritma, di mana batas antara fakta dan opini semakin tipis, dan batas antara aktivisme dan hiburan semakin kabur.


  1. Eropa dan Dunia: Dari Kebebasan hingga Regulasi Ketat

Sementara itu, Eropa memandang TikTok sebagai ancaman keamanan nasional dan politik. Uni Eropa menerapkan regulasi ketat untuk mengontrol iklan politik, manipulasi algoritma, dan penyebaran disinformasi. Di Amerika, platform ini dikritik karena risiko pengaruh asing dan propaganda digital. Di Afrika, TikTok menjadi alat mobilisasi politik bagi generasi muda, yang sering tidak memiliki akses ke media independen. Fenomena ini menunjukkan bahwa TikTok adalah aktor global yang mempengaruhi demokrasi lintas benua, meskipun konteks sosial masing-masing negara sangat berbeda.


  1. Analisis Sosiologis: Masyarakat Emosional dan Demokrasi yang Terfragmentasi

Secara sosiologis, TikTok menciptakan publik yang emosional, bukan rasional. Video pendek mendorong respons cepat, reaktif, dan impulsif. Pengguna tidak diberi ruang untuk merenung atau memahami detail kebijakan publik. Inilah yang disebut sosiolog digital sebagai “cognitive compression”, yakni penyempitan cara berpikir manusia akibat banjir konten instant.

Fenomena lainnya adalah pembentukan echo chamber, di mana pengguna hanya melihat konten yang memperkuat bias mereka sendiri. Akibatnya, publik terfragmentasi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang saling mencurigai dan sulit mencapai konsensus. Ini berbahaya dalam konteks negara besar seperti Indonesia, dan lebih berbahaya lagi di Aceh yang memiliki memori konflik panjang dan sensitif terhadap isu identitas.


  1. Tantangan Syariat dan Etika Digital untuk Masa Depan

Syariat Islam memberikan kerangka etika yang sebenarnya sangat relevan untuk era digital. Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah terlebih dahulu…”

Ayat ini bukan hanya perintah moral, tetapi juga prinsip komunikasi modern: verifikasi, klarifikasi, dan tanggung jawab. Syariat mengharamkan fitnah, manipulasi, dan provokasi, namun konten politik di TikTok seringkali menormalisasi ketiganya. Aceh perlu menjadi teladan bagaimana norma agama digunakan bukan hanya dalam hukum formal, tetapi juga dalam literasi digital.


  1. Penutup: Demokrasi yang Berbasis Ilmu, Bukan Algoritma

Fenomena politik TikTok menunjukkan bahwa demokrasi di dunia — termasuk Indonesia dan Aceh — sedang berubah secara drastis. Platform ini menciptakan peluang baru untuk partisipasi politik, tetapi juga membawa resiko besar: misinformasi, manipulasi, polarisasi, dan penurunan kualitas wacana publik. Tantangan kita adalah memastikan bahwa teknologi tidak mengendalikan manusia, tetapi manusia yang menundukkan teknologi dengan akal, ilmu, dan moral.

Aceh, dengan tradisi keilmuan Islam dan sejarah politiknya, memiliki potensi menjadi contoh bagaimana nilai religius dan teknologi digital bisa berjalan seimbang. Di tingkat nasional dan global, masa depan demokrasi hanya bisa selamat jika masyarakat kembali mengutamakan pengetahuan, bukan sekadar popularitas.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Serangkai Puisi WANRAZUHAR

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00