POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dua Dekade Dana Otsus: Siapa yang Diuntungkan, Siapa yang Dirugikan?

RedaksiOleh Redaksi
November 19, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rivaldi

Sudah lebih dari dua puluh tahun Aceh menandatangani perjanjian damai, menutup lembaran konflik panjang dan membuka babak baru sebagai daerah dengan otonomi khusus. Sejak itu, mengalir dana raksasa bernama Dana Otsus, dana yang digadang-gadang sebagai mesin utama Aceh, jembatan menuju kesejahteraan, dan kompensasi atas sejarah panjang konflik serta eksploitasi sumber daya. Namun setelah perjalanan dua dekade, pertanyaan yang semakin sulit dihindari adalah: siapa sebenarnya yang menikmati manfaat Otsus, dan siapa yang justru tersisih?

Pertanyaan itu menjadi relevan karena realitas sosial Aceh hari ini jauh dari mimpi yang dulu dijanjikan. Infrastruktur dasar masih banyak yang compang-camping, pendidikan tertinggal di papan bawah nasional, dan ekonomi rakyat masih tercekat. Jika benar Dana Otsus mengalir triliunan setiap tahun, lalu mengapa Aceh masih seperti berdiri di tempat?

Yang Diuntungkan: Elite Politik, Birokrat, dan Jejaring Kekuasaan

Pertama-tama yang harus diakui: aliran Dana Otsus jauh lebih banyak menguntungkan para elite politik lokal, para pengambil keputusan, dan jejaring di sekitar mereka. Dana Otsus tidak pernah berjalan sebagai skema pemberdayaan rakyat, tetapi sebagai proyek yang diperebutkan, sebagai kue yang dibagi-bagi lingkar kekuasaan yang ada di daerah.

Begitu banyak cerita tentang proyek fiktif, pembangunan yang hanya setengah jadi, hingga program pemberdayaan yang tidak pernah menyentuh akar rumput. Tidak sedikit pula pejabat yang beralih dari tokoh perjuangan menjadi pengusaha proyek, dari suara rakyat menjadi pelindung jaringan rente.

Dana Otsus yang seharusnya menjadi alat pemulihan sosial-ekonomi justru sering menjadi sumber kekayaan baru bagi kelompok elite. Mobil mewah bertambah, rumah pribadi tumbuh, dan jaringan politik menguat. Ironisnya, ruang-ruang publik yang seharusnya dibangun dengan dana itu malah rapuh, mudah rusak, atau tidak pernah selesai.

Yang Dirugikan: Rakyat Biasa, Petani, Nelayan, dan Generasi Muda

Jika ada yang paling dirugikan oleh tata kelola Otsus yang gagal, jawabannya jelas: rakyat biasa. Petani yang lahannya sempit, nelayan yang perahunya sederhana, pedagang kecil yang bergantung pada daya beli yang rendah, hingga anak sekolah yang bermimpi melampaui batas kemiskinan, semua menjadi korban dari sistem yang tidak berjalan.

Dua dekade setelah damai, banyak desa masih kekurangan irigasi serta jalan produksi tak layak. Sekolah-sekolah di pedalaman masih kekurangan guru berkualitas. Banyak pemuda Aceh merantau demi pekerjaan karena ekonomi lokal tidak sanggup menampung mereka.

Padahal, jika Dana Otsus digunakan tepat sasaran, Aceh seharusnya mampu menjadi daerah dengan infrastruktur unggul, kualitas pendidikan meningkat, serta ekonomi rakyat yang bergerak.

Namun, apa yang kita lihat?

Fasilitas publik yang tidak merata.

Kemiskinan tetap tinggi dibanding provinsi lain.

Angka pengangguran dari kalangan muda selalu menonjol.

Kendala ekonomi rakyat nyaris tidak berubah.

Dengan kata lain, rakyat adalah pihak yang paling dirugikan bahkan lebih rugi dari masa sebelum Otsus, karena hari ini mereka melihat peluang perbaikan yang seharusnya ada, tetapi hilang ditelan mismanajemen.

Dua Puluh Tahun sudah tapi Infrastruktur Masih Belum Layak

📚 Artikel Terkait

Mewujudkan Pembelajaran Berkualitas Melalui Kurikulum Merdeka dan Pendekatan Berdiferensiasi

Kurikulum UbD Sebagai Solusi Pemahaman Tingkat Tinggi bagi Peserta Didik

Di Balik Suami yang Sukses, Ada Istri yang Hebat

Jendela Istana Hamatisa

Salah satu sektor yang seharusnya menjadi prioritas utama adalah infrastruktur dasar: jalan, jembatan, irigasi, pelayanan umum, dan fasilitas kesehatan. Tetapi Aceh tidak tampak seperti daerah yang diguyur dana luar biasa selama 20 tahun.

Masih banyak daerah dengan:

  • jalan rusak bertahun-tahun
  • jembatan darurat yang tak kunjung permanen,
  • Rumah sakit yang tidak merata di segala daerah
  • fasilitas publik yang rusak padahal baru dibangun.

Ada yang bilang Aceh kekurangan dana? Tidak. Yang kurang adalah kejujuran, perencanaan, dan pengawasan.

Pendidikan Tertinggal, Padahal Itu Kunci Masa Depan

Ironisnya, di tengah dana Otsus, indeks pendidikan Aceh justru bergerak lambat. Banyak sekolah dasar dan menengah kekurangan tenaga pengajar kompeten. Program peningkatan kualitas guru berjalan tidak efektif. Sementara beasiswa luar negeri dan proyek pendidikan sering dinikmati segelintir kelompok yang dekat dengan lingkaran kekuasaan.

Akibatnya, generasi muda Aceh tumbuh dengan modal pendidikan yang tidak kompetitif. Padahal, dua puluh tahun adalah waktu cukup panjang untuk membangun sistem pendidikan yang kuat.

Ekonomi Rakyat Masih Menjerit

Ekonomi Aceh masih tergantung pada APBA, bukan pada ekonomi produktif. Petani masih sendirian menghadapi harga pasar. Nelayan bergantung pada cuaca dan bahan bakar. UMKM terseok-seok tanpa pendampingan yang serius. Lapangan kerja sektor privat terbatas.

Dengan volume dana sebesar Otsus, Aceh seharusnya mampu membangun industri kecil-menengah, memperkuat produksi tani dan laut, bahkan menjadi pusat investasi regional. Namun apa daya, Otsus lebih sering menjadi sumber belanja konsumtif, bukan investasi jangka panjang.

Masalahnya Bukan Kurang Dana, Tapi Kurang Arah

Jika kita jujur, akar masalahnya bukan pada besaran dana, tetapi pada arah kebijakan dan kepemimpinan di tingkat lokal. Otsus terlalu lama dijadikan ruang pembiayaan proyek, bukan pembangunan.

Padahal rakyat Aceh tidak menuntut hal yang muluk:

Mereka hanya ingin jalan yang baik,

Pendidikan layak,

Layanan kesehatan yang bermutu,

Ekonomi yang memberi harapan.

Tapi ketika dana habis untuk program yang tidak jelas, proyek setengah hati, dan perencanaan yang tidak visioner, maka rakyat hanya mendapat sisa dari meja kekuasaan.

Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Pertanggungjawaban tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak. Ini adalah kegagalan kolektif elite politik Aceh, para pemimpin lembaga daerah, dan birokrasi yang tidak mampu membangun sistem transparan.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa rakyat juga ikut dirugikan oleh minimnya kontrol publik dan lemahnya ruang kritik. Ketika suara masyarakat dibungkam atau diabaikan, Otsus kehilangan ruh paling pentingnya: kedaulatan rakyat untuk menentukan masa depannya sendiri.

Kesimpulan: Otsus Mengalir, Tetapi Harapan Bocor

Dua dekade Dana Otsus seharusnya cukup untuk mengubah wajah Aceh menjadi daerah yang maju. Namun realitas berkata lain. Yang diuntungkan adalah elite kekuasaan, sementara rakyat yang terpinggirkan tetap merasakan pahitnya janji kosong.

Otsus bukan gagal karena kurang dana, tetapi karena gagal dimaknai sebagai amanah.

Selama Aceh tidak membenahi tata kelola, tidak memperkuat pengawasan, dan tidak menempatkan rakyat sebagai pusat pembangunan, maka berapa pun dana yang datang hanya akan mengalir di permukaan dan hilang sebelum sampai ke akar.

Dan pada akhirnya, yang paling dirugikan bukan hanya rakyat hari ini, tetapi generasi masa depan Aceh yang kehilangan kesempatan yang seharusnya mereka miliki.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Negeri Kecil, Mimpi Tak Terbatas

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00