POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Penjor vs Kabel PLN

RedaksiOleh Redaksi
November 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Setiap Galungan, Bali kembali memancarkan cahaya tuanya: penjor-penjor melengkung di pintu gerbang rumah, bagaikan doa yang menjulur ke langit. 

Bagi umat Hindu, penjor bukan sekadar hiasan musiman. Ia adalah tanda kemenangan dharma melawan adharma, pengingat bahwa hidup selalu bergerak di antara terang dan gelap. Ia bagian dari upakara, satu tarikan napas dengan banten, satu tubuh dengan lebuh tempat persembahan.

Penjor tak bisa dipindah-pindah semaunya, karena posisinya bukan barang teknis—ia sakral, ia simbol jalan pulang.

Namun di dunia paradoks Bali hari ini, bahkan sesuatu yang sesakral itu pun bisa berjumpa dengan logika kabel dan tiang listrik. 

PLN, melalui seorang pejabatnya, mengimbau agar penjor dipasang 2,5 meter dari kabel listrik. Maksudnya jelas: keselamatan, keamanan, dan kelancaran aliran listrik.

Tetapi kebaikan, bila tak diantar dengan bahasa yang tepat, bisa tiba sebagai tamu yang salah kamar. Imbauan itu sontak menjadi riuh, bukan karena umat menolak keselamatan, melainkan karena letak penjor bukanlah keputusan teknis yang bisa digeser demi jarak aman. 

Seolah PLN mengira penjor adalah layangan yang bisa dilarang terbang di zona tertentu, padahal penjor justru adalah akar yang ditancapkan pada pemeson rumah—tempat yang tak bisa dipindahkan hanya karena kabel melintas di atasnya.

Di sinilah paradoks itu menari: antara sakral dan teknis, antara upakara dan utilitas, antara tradisi yang mengakar ribuan tahun dan kabel yang baru beberapa dekade membentang di langit Bali.

Memang, umat Hindu selama ini bukan tak tahu risiko. Bila penjor kebetulan berada dekat dengan kabel, mereka menyesuaikan dengan cara mereka sendiri—tingginya ditakar, ronce janurnya dirapikan—tanpa menggeser makna dan tanpa menodai tata letak.

📚 Artikel Terkait

Profesor Agung Pranoto Mengapresiasikan Buku Sajak Secangkir Air Mata, Karya Hamdani Mulya

SHORES IN ACEH HAVE THE SAME LAVEL AS BALI

Andai Aku Lewat Pulang

Peran Milenial Membangun Negeri

Tradisi punya cara bertahan tanpa perlu diceramahi, asal didekati dengan bahasa yang mengerti roh zaman dan roh keyakinan.

Yang disayangkan adalah mereka yang memanfaatkan imbauan ini menjadi panggung politik murahan. Mereka yang dengan gesit menunggangi isu sensitif, seolah keberingasan itu adalah tugas sucinya. 

Padahal, tak semua perselisihan layak dijadikan komoditas emosional. Tidak semua kabar perlu dibakar agar tampak menyala.

Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanya satu hal: jeda untuk memahami sebelum menghakimi.

Saya yakin PLN punya niat baik. Hampir setiap Galungan, imbauan sejenis selalu muncul. Yang kurang hanyalah komunikasi yang mampu menembus nalar sekaligus nurani. Karena Bali bukan hanya soal efisiensi teknis, tetapi juga tentang rasa, tata, dan adat yang sudah lama mengisi ruang hidup warganya.

Mungkin yang lebih mendesak untuk dipikirkan adalah ini: Bali tanpa kabel semrawut. Kabel PLN, kabel Telkom, kabel dari berbagai operator yang bersilangan seperti jaring raksasa—menangkap langit bukan untuk kebaikan, melainkan untuk menghalangi. 

Berapa kali ngaben harus berhenti di tengah jalan agar wadah bisa lewat? Berapa kali mapepada tertahan oleh kabel yang menggantung rendah? Berapa banyak layang-layang yang putus karena tersangkut, berapa kali petugas harus memotong sementara jaringan demi memberi jalan bagi upacara adat?

Paradoksnya: Bali yang menjunjung langit justru dihalangi oleh kabel-kabel yang menjerat horizon.

Sudah saatnya Bali membayangkan ruang udara yang bersih, bukan hanya demi estetika, tetapi demi keharmonisan antara tradisi dan modernitas.

Teknologi bisa berbaikan dengan adat bila keduanya mau saling merunduk, saling memberi tempat.

Dan semua itu bermula dari satu hal yang sederhana: bahasa yang mengerti tempatnya, bahasa yang tahu kapan harus lembut, kapan harus tegas, dan kapan harus berhenti sebelum melukai.

Di Bali, kata-kata pun adalah upakara. Dan seperti penjor, ia tak boleh dipasang sembarangan.

Denpasar, 16 Nopember 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00