Dengarkan Artikel
Revolusi Hijau Dayah-Dayah Salafi Aceh
Oleh: Hanif (Akademisi dan Penggiat Literasi)
Di tepian Samudra Hindia, ombak tak sekadar memecah karang. Ia membawa kisah perlawanan manusia merawat kehidupan. Di pantai Leupung yang pernah luluh lantak diterjang tsunami, dan di rawa gambut Meulaboh yang saban musim digenangi banjir, tumbuh harapan baru dari tempat yang tak disangka-sangka: dayah—pesantren tradisional salafi yang selama ini lebih dikenal sebagai ruang tafsir kitab kuning ketimbang ruang laboratorium ekologi.
Namun, justru dari tempat sederhana itulah narasi baru sedang ditulis. Bukan lewat seminar megah di hotel-hotel kota atau proposal proyek bersampul mengilap, melainkan dari tangan-tangan santri bersarung yang belepotan lumpur, kaki-kaki telanjang yang menancap di tanah basah, dan napas iman yang membumi pada ayat-ayat suci.
Di Aceh, tanah yang menyimpan luka panjang konflik dan bencana, Dayah Manyang Leupung di Sabang dan Dayah Darul Ihsan di Meulaboh tampil mengejutkan. Perlahan namun pasti, keduanya menjelma menjadi mercusuar kecil perubahan, memperlihatkan bahwa agama, adat, dan ilmu pengetahuan bukanlah jalan yang saling bertolak belakang, melainkan bisa berpadu dalam ikhtiar suci menyelamatkan bumi.
Leupung: Kaum Sarungan sebagai Seragam Penjaga Pantai
Mentari pagi belum utuh bersinar saat barisan santri bersarung bergerak ke pesisir Leupung. Suara zikir bergema bersama debur ombak, menjadi isyarat sunyi bahwa bumi sedang sakit dan butuh dirawat. Dengan kaki telanjang menyusuri lumpur, mereka menanam bibit bakau satu per satu. Tidak demi proyek pencitraan, bukan pula demi nama besar, melainkan demi amanah yang mereka yakini berasal dari Tuhan.
“Ini jihad kami, menyelamatkan titipan Allah yang bernama bumi,” ujar Teungku Faisal, pimpinan Dayah Manyang Leupung, sambil menggenggam akar bakau muda. Lima tahun lalu, ia dikejutkan kabar duka dari Darmawi, petambak sekitar dayah. Udang mati massal, air payau berubah keruh, dan laut menghangat. Semua bersumber dari satu sebab: kerusakan hutan bakau.
Data resmi Dinas Kelautan Aceh menunjukkan, dalam sepuluh tahun terakhir sekitar 40 persen hutan bakau Leupung hilang karena tambak ilegal dan pembangunan pariwisata yang tidak terkendali. Hutan yang dahulu menjadi benteng alami kini berubah menjadi tambak tak berizin dan bangunan villa.
Dayah Manyang menolak tinggal diam. “Pengajian jangan hanya di mimbar. Turun ke bumi, buktikan iman dengan kerja,” tegas Teungku Faisal. Kelas pun berpindah ke pesisir. Santri yang biasanya memegang kitab tafsir, kini membawa sekop dan bibit Rhizophora serta Avicennia. Ayat-ayat Al-Qur’an tentang penciptaan dan larangan merusak bumi dibacakan bersamaan dengan praktik mengukur pH air, sedimentasi, dan pemetaan pasang surut.
Revolusi kecil ini menarik perhatian banyak pihak, utamanya saat satu alat berat datang menggusur vegetasi bakau untuk menyiapkan lahan pembangunan villa. Puluhan santri menghadang dengan tubuh. Siti, santriwati 17 tahun, berdiri di garis terdepan meski tubuhnya gemetar.
“Tanah ini bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan anak cucu. Jangan sombong merusaknya!” serunya lantang.
Teologi Ekologi yang Membangkitkan Adat
Gerakan ini tidak berhenti pada penanaman belaka. Dayah Manyang membangkitkan kembali adat pendahulu sebagai payung penjaga alam. “Pawang Gampong”, sosok tetua kearifan lokal, kembali diaktifkan kembali perannya: mengajarkan membaca tanda alam dari kecepatan angin, arah burung camar, warna ombak, hingga bau lumpur.
Bersama tokoh adat, mereka merumuskan Hara Adat, yaitu zona sakral yang melarang penebangan bakau. Dayah juga membentuk Pasukan Siaga Bakau, yang terdiri dari santri dan nelayan. Mereka ronda bergilir memastikan kawasan tetap steril dari tangan usil.
📚 Artikel Terkait
Hasilnya sangat nyata. Dalam tiga tahun, 72 ribu bibit bakau tertanam, sekitar 25 hektar hutan terlindungi, produksi udang tambak yang bersinergi dengan dayah meningkat hingga 40 persen, ekowisata syariah tumbuh, tak lupa pendapatan masyarakat dari homestay dan jualan ekowisata naik signifikan. Darmawi yang dulu kerap membakar bakau, kini justru menjadi ketua kelompok pelestari.
“Allah ganti bakau yang dulu saya rusak dengan rezeki lebih luas dari arah yang tak saya sangka,” ungkapnya lirih, mata berkaca.
Meulaboh: Menyulap Banjir Menjadi Berkah
Berpindah ke barat Aceh, kabupaten dipinggir samudra India, Dayah Darul Ihsan Meulaboh ini menghadapi persoalan berbeda. Musuh mereka bukan abrasi pantai, melainkan banjir yang saban musim besar datang dari rusaknya gambut. Tahun 2020 menjadi puncaknya, ketika dua belas desa terendam, sawah dan rumah warga hilang disapu derasnya air.
Namun bagi Teungku Syukri, pimpinan Dayah Darul Ihsan, bencana bukan akhir. Ia mengajak para santri dan warga membaca banjir sebagai panggilan perbaikan, bukan sekadar musibah.
“Ini bukan azab. Ini alarm dari Allah agar kita kembali menjadi khalifah sejati,” tuturnya lirih.
Dayah bersama santri santrinya lalu meluncurkan Gerakan Gambut Beriman. Para santri memetakan lahan menggunakan alat seadanya dan sederhana, membagi wilayah menjadi Zona Ibadah (lindung), Zona Muamalah (kelola terbatas), dan Zona Haram (bekas pembalakan). Mereka menghidupkan kembali sistem parit bertingkatwarisan adat, menanam purun dan gelam—flora rawa khas Aceh yang tercatat dalam manuskrip kuno Bustanussalatinkarya Nuruddin ar-Raniry.
Ekonomi sirkular hadir dari nol di cetuskan dari atap dayah disulap menjadi sarang walet. Kotorannya dijadikan pupuk organik untuk kebun sayur gambut. Santri mengolah hasil kebun menjadi dodol gambut, sabun herbal halal-eco, hingga teh purun yang dijual ke Banda Aceh, Medan, dan bahkan Kuala Lumpur.
“Kami tak punya alat berat, tapi niat kami lebih berat untuk memperbaiki apa yang rusak,” kata Azwar, santri yang kini mahir membaca peta gambut dan memimpin patroli pemadam.
Restorasi yang Mengubah Nasib
Dalam beberapa tahun, hasilnya mengejutkan. Lebih dari 3.000 hektar lahan gambut berhasil direstorasi, frekuensi banjir turun hingga 70 persen. Warga memperoleh penghasilan baru rata-rata Rp2–3 juta per bulan. Tidak berhenti di situ, pola pemberdayaan dayah ini kemudian diadopsi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menjadi Peraturan Daerah Perlindungan Gambut 2023—langkah penting di tengah arus deras ekspansi lahan sawit.
Semua perubahan itu berawal dari mushalla kecil dan barisan santri bersarung. Mereka membuktikan bahwa dakwah tidak harus selalu tentang dalil di mimbar, tetapi bisa diwujudkan dalam aksi nyata menjaga alam. Sabda Nabi SAW “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya” menjadi prinsip kerja kolektif dayah—dengan bumi sebagai sesama makhluk Allah yang wajib dijaga.
Dakwah yang Membumi
Gerakan dua dayah tersebut memberi wajah baru dalam dakwah Islam. Dakwah tak lagi hanya tentang surga dan dosa di alam akhir, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga tanah, udara, air, dan seluruh ciptaan Tuhan di dunia. Mereka menghidupkan ayat Quran “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi” (QS Al-A’raf: 56) dengan kerja nyata di atas lumpur dan gambut.
Di Leupung, santri mengajari nelayan tentang larangan menebang bakau di zona sensitif. Di Meulaboh, santri menjadikan warung kopi sebagai ruang diskusi karbon dan perubahan iklim. Mereka membuktikan bahwa adat, agama, dan sains bisa bersetia kawan untuk melahirkan masa depan.
Pelita di Tengah Gelap
Perjuangan mereka memang belum selesai. Tekanan investor wisata, godaan hasil sawit yang mengiurkan, serta minimnya dukungan dana masih mengadang langkah mereka. Namun di tengah keterbatasan, semangat kecil yang enggan padam, api iman yang mendorong mereka untuk merawat bumi bukan demi pujian, melainkan demi pertanggungjawaban kelak di hadapan Sang Maha Pencipta.
“Kami bukan pahlawan lingkungan,” kata Teungku Syukri menutup perbincangan, “Tapi bila kami biarkan bumi rusak, berarti iman kami yang rusak.”
Mungkin, dari tanah paling barat Indonesia ini, sedang lahir sebuah pelajaran penting: bahwa revolusi hijau bisa dimulai dari pesantren kecil, dari santri bersarung, dari tangan-tangan berlumpur yang menanam harapan. Sebab setiap bibit bakau dan tanaman gambut yang mereka tanam adalah doa yang dikirimkan ke langit: agar bumi tetap damai, subur, dan laik dihuni oleh anak cucu kelak.
Dayah Salafi ( Pesantren Tradisonal)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






