POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tragedi Sudan: Ketika Negara Diperjualbelikan oleh Kekuasaan

RedaksiOleh Redaksi
November 4, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Kuldip Singh,

Aktivis 1998 dan Senator Prodem

Berita pembantaian massal oleh Rapid Support Forces (RSF) di Sudan kembali mengguncang dunia. Ribuan warga sipil menjadi korban dari perang kekuasaan dua jenderal yang saling menuding dan saling menembak. RSF, yang dibentuk pemerintah Sudan pada 2013 untuk memerangi pemberontakan, kini menjelma menjadi kekuatan militer otonom yang menantang negara itu sendiri.

Anggotanya sebagian besar berasal dari milisi Janjaweed—kelompok yang pernah menebar teror di Darfur pada awal 2000-an. Mereka dulu dipelihara untuk menumpas pemberontak, tetapi kini berbalik menjadi penguasa senjata dan tambang emas.

Namun, persoalan Sudan bukan sekadar soal asal-usul RSF. Ini cermin dari negara yang kehilangan kendali atas kekerasan dan kedaulatannya. Para jenderalnya berebut kekuasaan, tentaranya berebut sumber daya alam, sementara rakyat menjadi korban dari ambisi dan persekongkolan antara militer dan bisnis.

Kondisi seperti ini bukan hanya milik Sudan. Banyak negara di Afrika—dan bahkan di luar Afrika—mengalami gejala serupa: militer yang terpikat pada politik, bisnis, dan tambang, serta elite yang lebih sibuk mempertahankan privilese daripada membangun negara. Di belakang layar, kekuatan asing ikut bermain, menawarkan senjata, logistik, dan dukungan politik demi akses terhadap sumber daya strategis.

Ketika kekuasaan politik diperdagangkan dan kekuatan militer dijadikan alat tawar-menawar, republik kehilangan maknanya. Negara hanya menjadi bendera yang berkibar di antara reruntuhan moral dan kemanusiaan.

📚 Artikel Terkait

Super Absurd, Masa’ Wakil Bupati Laporkan Bupati Jember ke KPK

Membaca Ayat-ayat -Mu, Aku Jatuh cinta

Aku dan Diriku

TRANSFORMASI PENGAWASAN


Tragedi Sudan memberi peringatan keras bagi republik mana pun: negara bisa hancur bukan karena invasi asing, tetapi karena kebutaan elite terhadap akar rakyatnya sendiri. Ketika demokrasi disingkirkan, ketika lembaga sipil dilemahkan, dan ketika rakyat hanya dijadikan objek pembangunan—maka republik perlahan kehilangan jiwa.

RSF lahir bukan dari ruang kosong. Ia lahir dari kemiskinan yang dibiarkan, dari ketimpangan yang terus melebar, dari politik kekuasaan yang menumbuhkan milisi untuk menjaga kepentingan sesaat. Dan seperti api yang membakar rumah sendiri, kekerasan yang dulu dipelihara kini menelan negara yang melahirkannya.


Dari tragedi Sudan, kita belajar bahwa demokrasi, meski sering lamban dan melelahkan, tetap satu-satunya sistem yang memberi ruang koreksi. Demokrasi sejati bukan sekadar pemilu lima tahunan, melainkan sistem berjenjang yang hidup dari bawah—dari unit-unit masyarakat yang representatif dan partisipatif.

Dalam sistem semacam itu, republik tidak mudah runtuh karena kekuasaan tersebar, tidak dimonopoli oleh satu kelompok, satu seragam, atau satu partai. Demokrasi memungkinkan rakyat menjadi subjek yang sadar, bukan korban yang pasrah.

Ya, demokrasi sering menimbulkan kekacauan kecil. Tetapi dibanding kekacauan besar yang lahir dari kudeta, perang saudara, dan politik militeristik, demokrasi tetap jauh lebih manusiawi dan lebih layak dipertahankan.


Tragedi Sudan adalah potret ekstrem dari apa yang terjadi bila republik kehilangan akal sehat dan kendali moralnya.
Kita di Indonesia, yang hidup di bawah panji Republik dan Pancasila, mesti belajar dari sana—bahwa kekuasaan tanpa kendali rakyat, tanpa akar demokrasi yang sejati, selalu berakhir pada kehancuran.

Sebab, ketika negara memperdagangkan kekerasan, maka kekerasanlah yang pada akhirnya memperdagangkan negara.


Referensi:

  1. Al Jazeera – “A true genocide: RSF kills at least 1,500 people in Sudan’s El Fasher” (29 Oktober 2025) https://www.aljazeera.com/news/2025/10/29/horrific-violations-arab-nations-slam-rsf-killings-in-sudans-el-fasher
  2. The Guardian – “‘They killed civilians in their beds’: chaos and brutality reign after fall of El Fasher” (30 Oktober 2025) https://www.theguardian.com/global-development/2025/oct/30/they-killed-civilians-in-their-beds-chaos-and-brutality-reign-after-fall-of-el-fasher
  3. Amnesty International – “Sudan: RSF must end attacks and further suffering of civilians in El Fasher” (28 Oktober 2025) https://www.amnesty.org/en/latest/news/2025/10/sudan-el-fasher
  4. Sindonews – “Siapa Itu RSF, Kelompok Bengis yang Bantai Massal Warga Sipil Sudan?” (3 November 2025) https://international.sindonews.com/read/1639385/44/siapa-itu-rsf-kelompok-bengis-yang-bantai-massal-warga-sipil-sudan-1762049491

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Nasionalisme dan Ekologi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00