• Latest

Tragedi Sudan: Ketika Negara Diperjualbelikan oleh Kekuasaan

November 4, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tragedi Sudan: Ketika Negara Diperjualbelikan oleh Kekuasaan

Redaksiby Redaksi
November 4, 2025
Reading Time: 3 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Kuldip Singh,

Aktivis 1998 dan Senator Prodem

Berita pembantaian massal oleh Rapid Support Forces (RSF) di Sudan kembali mengguncang dunia. Ribuan warga sipil menjadi korban dari perang kekuasaan dua jenderal yang saling menuding dan saling menembak. RSF, yang dibentuk pemerintah Sudan pada 2013 untuk memerangi pemberontakan, kini menjelma menjadi kekuatan militer otonom yang menantang negara itu sendiri.

Anggotanya sebagian besar berasal dari milisi Janjaweed—kelompok yang pernah menebar teror di Darfur pada awal 2000-an. Mereka dulu dipelihara untuk menumpas pemberontak, tetapi kini berbalik menjadi penguasa senjata dan tambang emas.

Namun, persoalan Sudan bukan sekadar soal asal-usul RSF. Ini cermin dari negara yang kehilangan kendali atas kekerasan dan kedaulatannya. Para jenderalnya berebut kekuasaan, tentaranya berebut sumber daya alam, sementara rakyat menjadi korban dari ambisi dan persekongkolan antara militer dan bisnis.

Kondisi seperti ini bukan hanya milik Sudan. Banyak negara di Afrika—dan bahkan di luar Afrika—mengalami gejala serupa: militer yang terpikat pada politik, bisnis, dan tambang, serta elite yang lebih sibuk mempertahankan privilese daripada membangun negara. Di belakang layar, kekuatan asing ikut bermain, menawarkan senjata, logistik, dan dukungan politik demi akses terhadap sumber daya strategis.

Ketika kekuasaan politik diperdagangkan dan kekuatan militer dijadikan alat tawar-menawar, republik kehilangan maknanya. Negara hanya menjadi bendera yang berkibar di antara reruntuhan moral dan kemanusiaan.


Tragedi Sudan memberi peringatan keras bagi republik mana pun: negara bisa hancur bukan karena invasi asing, tetapi karena kebutaan elite terhadap akar rakyatnya sendiri. Ketika demokrasi disingkirkan, ketika lembaga sipil dilemahkan, dan ketika rakyat hanya dijadikan objek pembangunan—maka republik perlahan kehilangan jiwa.

RSF lahir bukan dari ruang kosong. Ia lahir dari kemiskinan yang dibiarkan, dari ketimpangan yang terus melebar, dari politik kekuasaan yang menumbuhkan milisi untuk menjaga kepentingan sesaat. Dan seperti api yang membakar rumah sendiri, kekerasan yang dulu dipelihara kini menelan negara yang melahirkannya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Dari tragedi Sudan, kita belajar bahwa demokrasi, meski sering lamban dan melelahkan, tetap satu-satunya sistem yang memberi ruang koreksi. Demokrasi sejati bukan sekadar pemilu lima tahunan, melainkan sistem berjenjang yang hidup dari bawah—dari unit-unit masyarakat yang representatif dan partisipatif.

Dalam sistem semacam itu, republik tidak mudah runtuh karena kekuasaan tersebar, tidak dimonopoli oleh satu kelompok, satu seragam, atau satu partai. Demokrasi memungkinkan rakyat menjadi subjek yang sadar, bukan korban yang pasrah.

Ya, demokrasi sering menimbulkan kekacauan kecil. Tetapi dibanding kekacauan besar yang lahir dari kudeta, perang saudara, dan politik militeristik, demokrasi tetap jauh lebih manusiawi dan lebih layak dipertahankan.


Tragedi Sudan adalah potret ekstrem dari apa yang terjadi bila republik kehilangan akal sehat dan kendali moralnya.
Kita di Indonesia, yang hidup di bawah panji Republik dan Pancasila, mesti belajar dari sana—bahwa kekuasaan tanpa kendali rakyat, tanpa akar demokrasi yang sejati, selalu berakhir pada kehancuran.

Sebab, ketika negara memperdagangkan kekerasan, maka kekerasanlah yang pada akhirnya memperdagangkan negara.


Referensi:

  1. Al Jazeera – “A true genocide: RSF kills at least 1,500 people in Sudan’s El Fasher” (29 Oktober 2025) https://www.aljazeera.com/news/2025/10/29/horrific-violations-arab-nations-slam-rsf-killings-in-sudans-el-fasher
  2. The Guardian – “‘They killed civilians in their beds’: chaos and brutality reign after fall of El Fasher” (30 Oktober 2025) https://www.theguardian.com/global-development/2025/oct/30/they-killed-civilians-in-their-beds-chaos-and-brutality-reign-after-fall-of-el-fasher
  3. Amnesty International – “Sudan: RSF must end attacks and further suffering of civilians in El Fasher” (28 Oktober 2025) https://www.amnesty.org/en/latest/news/2025/10/sudan-el-fasher
  4. Sindonews – “Siapa Itu RSF, Kelompok Bengis yang Bantai Massal Warga Sipil Sudan?” (3 November 2025) https://international.sindonews.com/read/1639385/44/siapa-itu-rsf-kelompok-bengis-yang-bantai-massal-warga-sipil-sudan-1762049491

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 367x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 333x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Nasionalisme dan Ekologi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com