POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Menulis Resensi; Mengasah Literasi Santri Sejak Dini

Mahmudi HanafiahOleh Mahmudi Hanafiah
October 26, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Tgk. Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.

*Dosen UNISAI Samalanga, Bireuen, Aceh*

Literasi menulis merupakan salah satu hal yang perlu ditumbuhkan menjadi sebuah tradisi di kalangan santri. Literasi menulis diindikasi olehf kemampuan membaca cepat dan memahami serta menganalisa isi bacaan kemudian menuangkannya dalam sebuah narasi atau bahkan dalam sebuah gagasan baru. Ada banyak hal yang bisa diselenggarakan oleh pihak lembaga pendidikan dalam memicu kemampuan literasi para peserta didik. Di antaranya, sebagaimana yang baru saja diadakan oleh Lembaga Pendidikan Islam Dayah Jamiah Al-Aziziyah Batee Iliek, adalah LMRB (Lomba Menulis Resensi Buku).

Lomba Menulis Resensi Buku (LMRB) di Dayah Jamiah Al-Aziziyah diadakan oleh Bagian Perpustakaan Dayah yang diketuai oleh Tgk. Fakrurradhi, M.Sos. Perlombaan tersebut dikoordinir oleh Tgk. Yuda Alfitra, S.Sos dan Tgk. Riezki Batuah, S.Pd. Lomba tersebut diselenggarakan sebagai salah satu bentuk kepedulian Dayah dalam menumbuhkembangkan budaya literasi sejak sini dalam diri para santri. _Kenapa tidak?_ Lomba tersebut tidak hanya ditargetkan kepada para santri jenjang kuliah, yang notabennya sesuai dengan level pendidikan mereka, melainkan juga ditujukan kepada santri jenjang SMK, bahkan SMP. Perlombaan tersebut melahirkan santri-santri yang mempunyai bakat dalam hal menulis. Hal itu ditandai dengan kemampuan mereka dalam membaca dan memahami isi buka, kemudian menuangkannya dalam bentuk narasi baru sesuai dengan hasil analisa mereka masing-masing.

Kegiatan-kegiatan seperti itu atau kegiatan lain yang serupa sangat perlu ditingkatkan dan diselenggarakan secara berkelanjutan. Sebuah peribahasa dalam bahasa Arab menyebutkan: “_Qalilun mustamir khairun min katsirin munqathi’_”, yang artinya: ‘sedikit, tapi dilakukan secara terus menerus lebih baik dari pada banyak, tapi dilakukan secara terputus-putus’. Peribahasa tersebut menegaskan pentingnya konsisten dan kontinu dalam melakukan sesuatu. Suatu hal yang dilakukan secara totalitas bahkan sedikit memaksakan keadaan sama sekali tidak akan bermanfaat kalau hanya sebatas gebrakan bagaikan angin lalu. Akan tetapi, jika dilakukan dengan kontinu, walaupun tidak banyak hal yang dihasilkan setiap pelaksanaannya, lama-lama akan bertumpuk bak sebuah gunung yang berdiri kokoh dan akarnya menancap ke dasar bumi. Dalam peribahasa lain disebutkan, ‘_sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit_’. Begitulah perumpamaan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus. Butuh waktu yang lama untuk memetik hasil, tapi hasilnya pasti ada. Orang di seberang bilang, ‘_slow, but sure_’ (lambat, tapi pasti). Beda halnya sesuatu yang dilakukan umpama sebuah gebrakan, seolah-olah hasilnya sudah terpampang di depan mata, namun ternyata itu hanyalah fatamorgana.

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Ibu yang Menjaga Api Kehormatan

Antara Tsunami dan Banjir Aceh 2025: Refleksi Akhir Tahun

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Mendidik generasi muda agar tumbuh menjadi pegiat literasi, butuh kesabaran dan konsistensi dalam diri. Hal itulah yang sedang dijajaki oleh Lembaga Pendidikan Islam Dayah Jamiah Al-Aziziyah melalui kegiatan-kegiatan yang berbau literasi, khususnya dalam hal menulis. Tidak hanya LMRB yang baru saja diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, beberapa bulan yang lalu Dayah Jamiah Al-Aziziyah juga telah mengadakan beragam cabang perlombaan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1447 H, yang salah satu cabang perlombaan yang diadakan adalah lomba menulis artike ilmiah. Perlombaan seperti itu tentunya bisa menjadi pemicu bagi para santri untuk menggali potensi diri dalam hal menuangkan ide-ide dalam berbagai lembaran, baik cetak maupun digital.

Para generasi muda harus diberikan pemahaman bahwa menuangkan ide-ide positif dalam bentuk tulisan merupakan hal yang sangat dituntut oleh perkembangan zaman. Era 5.0 menawarkan beragam fasilitas yang sangat mudah diakses melalui AI (_artificial intelligence_), ‘kecerdasan buatan’. Melalui AI, orang-orang bisa melakukan banyak hal, termasuk mengolah data. Penyalahgunaan AI tentu saja dapat menyebabkan lahirnya berita-berita hoaks yang menjadi sumber perpecahan jika tidak dilakukan tabayyun sebelum dikonsumsi.

Dalam keadaan seperti itu, kehadiran para intelektual muslim berbekal pengetahuan agama dari karya klasik yang diintegrasikan dengan karya kontemporer dan dipadukan dengan pengetahuan umum sangat diperlukan. Para santri disemai sebagai benih unggul yang tumbuh dan berkembang sebagai pengisi ruang-ruang tersebut. Para santri dididik tidak hanya sebagai konsumen bagi perkembangan teknologi ke depan, akan tetapi juga sebagai produsen, baik untuk menanggapi isu-isu aktual maupun menawarkan gagasan-gagasan dalam menghadapi perkembangan dan kemajuan agar tidak bertentangan dengan norma-norma yang telah ditetapkan.

Untuk itu, para santri diberikan kesadaran bahwa, hidup bukanlah semata untuk hidup. Buya Hamka pernah mengatakan, ‘_Kalau hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup._’ Ungkapan tersebut terkesan sangat sederhana, tetapi penuh sindiran dan makna. Hidup dituntut untuk kreatif dalam hal menaburkan manfaat bagi semua. Rasulullah pernah bersabda: _Khairunnas anfa’uhum linnas_, yang artinya: manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Menawarkan ide positif dan solutif lewat coretan tangan tentu saja merupakan salah satu hal yang bermanfaat bagi orang lain.

Para santri diberitahu bahwa dakwah (_nasyr_), yang merupakan salah satu tugas pokok mereka tidak hanya dengan menyampaikan mau’idhah lewat mimbar-mimbar atau podium. Coretan tangan yang disebarkan melalui media cetak maupun digital juga merupakan bagian dari bentuk _nasyr_ yang bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun. Lebih dari itu, tulisan yang ditinggalkan menjadi bukti bagi generasi setelah kita, bahwa kita pernah hidup sebelum mereka. Oleh karena itu, lewat coretan singkat ini saya juga mengajak para pembaca sekalian untuk menulis. 

Sebagai penutup, saya menghimbau para pembaca sekalian: _Menulislah, agar namamu tetap bersemi, meskipun jasadmu telah bersemayam di perut bumi._

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Mahmudi Hanafiah

Mahmudi Hanafiah

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

The Never- Ending Shuffle: Indonesia’s Education Curriculum Can’t Catch a Break

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00