Dengarkan Artikel
Tgk. Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.
Dosen UNISAI Salamanga, Bireuen, Aceh
Sore hari, orang-orang sering berkumpul di pinggir pantai untuk menikmati keindahan panorama air laut berwarna merah akibat disinari matahari yang siap-siap terbenam. Peristiwa itu sering disebut sebagai momen ‘sunset’. Pemandangan indah itu tidak hanya bisa dinikmati ketika matahari mulai terbenam, tetapi juga ditawarkan di pagi hari ketika mentari mulai menampakkan diri, yang dikenal dengan momen ‘sunrise’
Ada apa di pagi hari…?
Semua orang tahu, di pagi hari tersimpan udara yang bersih dan suasana yang sangat menenangkan jiwa. Di pagi hari, orang-orang melakukan jogging dan jalan santai untuk menikmati kesejukan dan ketenangan tersebut.Pagi hari juga menyimpan keberkahan dan rezki. Makanya sangat tidak layak jika di pagi hari kita bermalas-malasan dan mengambil kesempatan untuk tidur.
Apalagi menjelang subuh atau yang dikenal dengan sepertiga malam yang terakhir, terdapat banyak sekali hikmah dan keberkahan yang ditawarkan pada waktu tersebut. Pada waktu itu, para ulama dan umara bermunajat kepada Allah memohon petunjuk dalam membimbing dan memimpin umat.
📚 Artikel Terkait
Para penulis menuangkan ide-idenya memenuhi lembaran demi lembaran. Para orang tua memohon kemudahan dalam memperjuangkan keluarga dan mendidik anak agar menjadi penuntun menuju Ridha-Nya. Para guru menadahkan kedua tangan mengharap petunjuk dalam mendidik murid. Maka dalam Islam sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam di sepertiga yang terakhir, diawali dengan shalat sunnah tahajjud, dilanjutkan dengan bermunajat kepada Allah sampai tiba waktu subuh. Usai subuh dilanjutkan dengan mencari rezki yang halal.
Perjalanan di Pagi Buta
Di pagi ini, kami berkesempatan menempuh perjalanan panjang dari Samalanga, Bireuen menuju Kota Banda Aceh sebanyak tiga orang untuk kegiatan akademik, yaitu pelatihan penulisan proposal penelitian ilmiah yang sangat bermanfaat bagi karir akademik. Dalam perjalanan, kami juga menjemput dua orang rekan kami yang berada di Wilayah Pidie Jaya. Kami berangkat sebagai perwakilan dari UNISAI Samalanga, memenuhi undangan mengikuti pelatihan tersebut yang diadakan oleh Koordinatorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah V Aceh.
Pelatihan ini tentunya diharapkan mampu menghasilkan sebuah output berupa proposal penelitian yang ke depannya akan menjadi sebuah laporan penelitian untuk selanjutnya dipublish sebagai artikel ilmiah secara online dan dapat diakses oleh semua kalangan.
Artikel ilmiah merupakan produk setiap dosen dan peneliti yang menjadi kontribusi bagi masyarakat sekaligus sebagai bentuk dedikasi mereka dalam mewujudkan kemajuan negeri. Artikel ilmiah online menjadi bahan bacaan bagi masyarakat yang sangat mudah diakses, di mana pun dan kapan pun. Bacaan tersebut bisa mengisi ruang-ruang kosong dengan butiran-butiran ilmu pengetahuan juga menjadi pembanding dalam memilah beragam perbedaan dalam bidang kajian keilmuan. Semakin banyak artikel yang diproduk oleh para dosen dan peneliti, semakin banyak pula bacaan-bacaan yang ditawarkan kepada publik untuk mengisi waktu luang. Mendapatkan bacaan-bacaan tersebut tidak mesti harus menyediakan media, waktu dan tempat khusus. Bacaan tersebut bahkan bisa diakses ketika nongkrong, di Warkop atau saat ngumpul sama keluarga atau teman sambil bermain gadget. Sangat simpel bukan…?
Kemudahan itu merupakan sisi positif dari kemajuan teknologi yang sering diabaikan oleh generasi muda sekarang ini. Kebanyakan generasi muda, bahkan orang dewasa lebih sering menghabiskan waktu bersama gadget untuk mengakses hal-hal yang tidak sepenuhnya bermanfaat bagi kehidupan mereka. Bahkan, tidak jarang gadget digunkakan untuk hal-hal negatif, seperti bermain game tanpa kenal waktu dan berinteraksi di media sosial melewati batas.
Hal itu sungguh sangat miris dan disayangkan. Di saat kemajuan memberikan berbagai kemudahan, kebermanfaatan justru dikalahkan oleh kesia-siaan.
Peran Ekstra dari Semua Pihak
Peran ekstra dari orang tua dalam kondisi ini sangat dibutuhkan. Mereka harus benar-benar paham, kapan si anak boleh mengenal gadget dan membatasi serta mengatur waktu mereka menggunakannya. Para orang tua juga harus beradaptasi dengan kemajuan agar mereka bisa membimbing dan mengarahkan anak dalam menjalani hidup ke depan yang semakin hari semakin banyak tantangan.
Upaya yang dilakukan oleh para tenaga pendidik di berbagai lembaga pendidikan dengan membatasi bahkan melarang penggunaan gadget kepada peserta didik sangat sesuai dengan pola pendidikan di era kemajuan yang pesat dengan berbagai tantangan ini. Walaupun di satu sisi, peserta didik juga diharapkan mampu berbaur dengan kemajuan teknologi, namun perlu adanya pembatasan dan pemantauan yang maksimal agar mereka tidak terbuai dan jatuh ke dalam nilai-nilai negatif dari kemajuan tersebut.
Penggunaan gadget semestinya dilakukan untuk meningkatkan wawasan keilmuan, salah satunya adalah dengan mengakses bacaan-bacaan yang sarat dengan nilai-nilai pengetahuan, dan jika sudah mampu, ikut pula hadir dalam menawarkan bacaan-bacaan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya, begitu juga dengan konten-konten yang bersifat edukatif dan bisa menjadi konsumsi publik. Menikmati hiburan tidak dilarang, asalkan tidak ada waktu yang terabaikan dan tidak melihat tontonan yang melanggar nilai-nilai syariat.
Alhamdulillah, perjalanan kami telah sampai di tempat tujuan. Coretan tangan yang telah menemani perjalanan ini kiranya bisa menjadi bacaan sebagai bahan renungan yang akan mengisi waktu luang.
Wallahu waliyyut taufiq.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






