• Latest
Pembelajaran yang Memuliakan

Pembelajaran yang Memuliakan

Oktober 17, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pembelajaran yang Memuliakan

Redaksiby Redaksi
Oktober 17, 2025
Reading Time: 5 mins read
Pembelajaran yang Memuliakan
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Aiyub, S.Pd.,M.Pd

Fasilitator Pembelajaran mendalam dan Pengurus IGI Aceh

Berangkat dari kasus bu Dini yang sangat viral secara Nasional tergerak hati ingin mengomentari kasus bu Dini Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 1 Cimarga,Lebak karena menampar siswa merokok di sekolah. Dampak dari kasus tersebut sebanyak 630 murid mogok belajar memberi dukungan kepada temannya yang  kena tampar. Orang tua siswa ingin melaporkan bu Dini kepada pihak berwajib, dan bu Dini dinonaktifkan oleh Gubenur. 

Dari peristiwa tersebut kita selaku pendidik yang mungkin juga akan terjebak kasus yang sama, bila kita berada di posisi bu Dini, tindakan apa yang kita lakukan, begitu juga bila kita di posisi orang tua tindakan  apa yg harus kita lakukan dan selaku kepala pemerintahan daerah apa tindakan yang patut diterapkan supaya masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

Ada beberapa pertanyaan yang perlu kita jawab dengan jernih. Pertama, apakah tindakan bu Dini sudah benar untuk mendisiplinkan siswa? Kedua, apakah tindakan orang tua siswa sudah tepat melaporkan kepada pihak berwajib? Le tiga, apakah tindakan Gubernur sudah sesuai untuk menonaktifkan bu Dini?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari sejenak kita melihat 5 posisi kontrol guru terhadap murid dalam mendisiplinkan mereka. Dirangkum dari buku Aksi Nyata Pendidikan Guru Penggerak karya Prasetyo Budi Maryanto, berikut lima posisi kontrol guru:

1. Penghukum

Seorang penghukum menggunakan hukuman fisik atau verbal untuk mengendalikan perilaku. Guru dengan sikap seperti ini cenderung percaya bahwa satu-satunya cara untuk memastikan keberhasilan pembelajaran adalah dengan cara mereka sendiri.

Penghukum seringkali menggunakan ucapan seperti “Patuhi aturan saya, atau awas!” atau “Kamu selalu saja salah!”.

2. Pembuat merasa bersalah

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026

Pada posisi ini, guru menggunakan kata-kata yang lembut untuk membuat orang lain merasa bersalah atau rendah diri. Mereka mungkin mengatakan hal seperti “Ibu sangat kecewa dengan kamu” atau “Berapa kali harus saya ingatkan kamu?”.

Pendekatan ini dapat menyebabkan siswa merasa tidak berharga dan mengecewakan orang-orang yang mereka sayangi.

3. Teman

Guru dalam posisi teman menggunakan persuasi dan hubungan baik untuk mempengaruhi perilaku. Mereka bisa menggunakan humor dan hubungan yang baik dengan siswa untuk mencapai tujuan mereka. Namun, ada risiko siswa menjadi tergantung pada guru tertentu dan merasa kecewa jika guru tersebut tidak membantu.

4.Pemantau

Seorang pemantau adalah orang yang menjaga ketertiban dengan memberlakukan hukuman atau akibat. Guru dengan posisi ini cenderung melihat perilaku siswa dan menggunakan bukti-bukti tersebut untuk membuat keputusan tentang tindakan apa yang perlu diambil.

Guru yang berperan sebagai pemantau juga memantau dan mencatat informasi tentang perilaku siswa untuk referensi di masa depan.

5. Manajer

Guru yang memposisikan diri sebagai manajer cenderung bersikap kolaboratif dengan siswa untuk menemukan solusi atas masalah perilaku.

Sebagai “manajer”, guru akan membimbing siswa untuk mengatur diri dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Pendekatan ini mendorong siswa untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab.

Memahami lima posisi kontrol ini akan membuat guru dapat memilih pendekatan yang paling sesuai dengan situasinya. Mereka juga dapat memberikan pendampingan yang efektif kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan, baik akademis maupun nonakademik.

Dari ke lima posisi kontrol ini, bu Dini berada di posisi kontrol pertama sebagai penghukum, maka akan timbul perlawanan dan melahirkan dendam seumur hidup.  Kalau seandainya saya berada di posisi bu Dini, maka posisi kontrol yang saya lakukan kepada siswa yang berkasus tersebut adalah sebagai manajer, yaitu posisi kontrol yang kelima. Saya akan terapkan kepada siswa yg bermasalah dengan segitiga Restitusi. Dimana segitiga Restitusi,  menuntun siswa  untuk memperbaiki kesalahannya dengan tiga langkah, yakni menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. 

Tujuannya bukan untuk menghukum, tetapi untuk membantu siswa belajar dari kesalahan, menemukan solusi, dan membangun karakter yang lebih kuat dan disiplin positif. 

Tiga langkah segitiga restitusi yang bisa ditetapkan adalah sebagai berikut.

Pertama, menstabilkan identitas. Tahap ini bertujuan mengubah identitas siswa  dari “pelaku kesalahan” menjadi “orang yang mampu memperbaiki diri”. Guru akan mengingatkan bahwa “berbuat salah itu normal” dan bahwa mereka tidak sendirian melakukan kesalahan, lalu menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah.

ADVERTISEMENT

Kedua, validasi tindakan yang salah. Pada tahap ini, guru akan mengakui dan memvalidasi bahwa tindakan salah itu sering kali didasari oleh kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Guru akan mencoba memahami apa yang memicu tindakan tersebut tanpa menghakimi, seperti “Kamu pasti sedang merasa marah, ya?” atau “Kenapa kamu melakukan itu?”.

Ke tiga, menanyakan keyakinan. Langkah terakhir adalah menanyakan keyakinan yang mendasari tindakan tersebut. Guru akan menuntun siswa  untuk memikirkan nilai-nilai apa yang mereka yakini dan bagaimana tindakan mereka bertentangan dengan nilai tersebut, serta apa yang bisa mereka lakukan untuk memperbaikinya. 

Segi Restitusi sejalan dengan pedekatan pembelajaran mendalam yang memuliakan siswa berkesadaran, bermakna dan menggembirakan melalui olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga secara menyeluruh.

Begitu juga, selaku orang tua tidak semestinya membawa kasus bu Dini ke ranah hukum. Di satu sisi, guru mengambil tindakan tersebut untuk mendisiplinkan siawa. Bilapun kita membela anak yang berbuat salah, maka anak kita dan anak-anak yang lain akan merasa benar ketika melakukan kesalahan. Bila saya berada di posisi orang tua, akan melakukan diskusi dengan kepala sekolah tersebut. Hal yang pertama  adalah mengucapkan terimakasih telah membantu anak saya untuk menuju jalan yang benar. Selain itu cukup meminta kepada kepala sekolah bila menemukan hal tersebut disampaikan kepada saya tidak langsung dipermalukan di depan umum. Saya yakin bila orang tua selalu mitra pembelajaran di sekolah ikut andil dalam mendisiplinkan anaknya, maka anak kita akan  menjadi baik.

Kemudian, selaku kepala daerah, sebelum menonaktifkan bu Dini tersebut, perlu dilakukan coaching oleh pihak terkait dan meminta pendapat Organisasi propesi guru, apakah  tindakan yang diambil oleh bu Dini melanggar kode etik Guru. Apakah bu Dini melaku kesalahan berat atau ada sebab lain yang tidak diketahui. Setelah dilakukan coaching baru diambil tindakan sesuai dengan kode etik guru.

Coaching adalah proses pembimbingan untuk membantu seseorang mencapai tujuan, mengembangkan kemampuan, atau menyelesaikan masalah dengan cara menggali potensi dan memfasilitasi pemikiran mandiri. 

Demikian paparan saya terkait kasus bu Dini, sehingga masalah yang sedang dihadapi bu Dini dapat diselesaikan dengan bijaksana, sehingga semua pihak dapat diterima dengan baik. Yang pada akhirnya dapat berpihak pada siswa,  juga memuliakan guru jauh dari penghakiman semua pihak. Setiap manusia itu tidak luput dari kesilapan dan kesalahan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Utang dan Kecepatan Cahaya Bernama Whoosh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com