POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Krisis Nurani: Mengapa di Negeri Ini Harus Viral Dulu Baru Ada Keadilan?

RivaldiOleh Rivaldi
October 16, 2025
Krisis Nurani: Mengapa di Negeri Ini Harus Viral Dulu Baru Ada Keadilan?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Rivaldi

Ketua Umum HMI FKIP USK Banda Aceh

Pertanyaan ini seharusnya menjadi cambuk bagi bangsa yang katanya menjunjung tinggi nilai moral dan keadilan. Mengapa kebenaran selalu datang terlambat, menunggu kamera menyala, menunggu netizen berteriak, dan menunggu nama tercoreng di linimasa?

Indonesia hari ini sedang mengalami krisis kesadaran. Kita bukan hanya sedang menghadapi krisis ekonomi atau politik, tapi juga krisis nurani. Hukum dan moral seperti kehilangan daya hidup, dan keadilan kini bergantung pada satu hal: seberapa viral sebuah kasus.

Hukum yang Menunggu Trending Topic

Mari kita lihat realitasnya. Banyak persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan jernih sejak awal, tapi dibiarkan membusuk. Baru ketika video tersebar dan suara korban didengar jutaan kali di media sosial, barulah semua pihak bergerak. Seolah hukum kini punya “syarat tambahan,” yakni harus trending lebih dulu sebelum ditegakkan.

Contohnya ada di depan mata kita. Seorang guru menegur muridnya yang merokok di sekolah. Sebagai pendidik, ia hanya menjalankan tugas moralnya. Tapi apa yang terjadi? Ia justru dilaporkan. Dunia seolah terbalik: yang benar disalahkan, yang salah merasa benar. Semua berjalan sunyi, hingga video itu viral. Publik pun baru bereaksi, guru dibela, laporan dicabut, dan narasi berubah total. Pertanyaannya: mengapa baru sekarang? Mengapa kita perlu menunggu dunia maya bereaksi untuk menegakkan logika sederhana bahwa mendidik bukanlah kejahatan?

Kasus lain adalah isu pesantren yang diangkat oleh salah satu stasiun televisi nasional. Tayangan itu menggiring persepsi bahwa tradisi mencium tangan guru adalah praktik yang “aneh.” Padahal, di dunia pesantren, itu adalah bentuk penghormatan adab, simbol cinta pada ilmu. Namun, media dengan mudah menafsirkan tanpa konteks, mencoreng wajah lembaga pendidikan Islam. Ketika kemarahan publik membara, barulah muncul klarifikasi dan permintaan maaf. Lagi-lagi, kesadaran datang bukan karena tanggung jawab, melainkan karena tekanan publik.

📚 Artikel Terkait

Doa, Prediksi, dan Harapan: Mencegah Dunia Tergelincir ke Jurang Perang Total

Demokrasi Sebagai Topeng

Indahnya Menjaga Lisan Agar Tak Ada Hati yang Terluka

Jejak Digital Perempuan, Moral Publik, dan Ruang Strategis Negara

Kita pun menyaksikan banyak hal serupa: jalan rusak yang baru diperbaiki setelah viral, tambang ilegal yang baru ramai dibicarakan setelah viral, hingga kasus pelecehan yang baru diakui lembaga setelah korban berani bersuara di dunia maya. Semua menunjukkan satu pola: bukan nurani yang memimpin, tapi viralitas yang memaksa.

Saat Kamera Lebih Berkuasa dari Hati Nurani

Kita sedang hidup di era di mana kamera lebih berkuasa daripada hati, dan rating lebih berharga daripada kejujuran. Pejabat lebih takut trending negatif daripada melanggar sumpah jabatan. Media lebih sibuk memburu sensasi daripada mendalami konteks. Akibatnya, keadilan menjadi tontonan, kebenaran menjadi konten, dan penyesalan menjadi strategi citra.

Aceh, negeri yang dijuluki Serambi Mekkah, pun tidak luput dari arus ini. Negeri yang seharusnya menjadi panutan moral justru sering ikut terseret dalam permainan opini. Semangat syariat Islam yang kita banggakan seharusnya menuntun pada keadilan yang hidup dalam diam, bukan keadilan yang lahir karena tekanan viral.

Viralitas kini menjadi ukuran moral. Kalau ramai, baru ditindak. Kalau sepi, dibiarkan. Padahal, hukum dan keadilan tidak boleh pilih kasih, tidak boleh bergantung pada jumlah penonton atau jumlah like.

Kesadaran Sebelum Kamera Menyala

Negeri ini membutuhkan keberanian untuk sadar sebelum disorot. Kita butuh pejabat yang berani berkata “saya salah” tanpa harus viral. Kita butuh media yang mengoreksi diri tanpa harus ditekan publik. Kita butuh masyarakat yang peduli pada kebenaran, bukan karena sedang ramai, tapi karena itu memang benar.

Sebab, bangsa yang hanya belajar dari viralitas adalah bangsa yang kehilangan arah moral. Bangsa yang sibuk memperbaiki citra, tapi lupa memperbaiki hati.

Kita tidak butuh lebih banyak drama permintaan maaf di depan kamera. Kita butuh kesadaran jujur sebelum kamera menyala. Keadilan tidak boleh bergantung pada algoritma, karena algoritma tak punya nurani. Sudah saatnya kita semua sadar bahwa viralitas bukanlah satu-satunya ukuran kebenaran.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rivaldi

Rivaldi

Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Satu Tamparan di Sekolah: Hukuman atau Kejahatan? Membedah Dilema Pendidikan Kita

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00