Dengarkan Artikel
BIADAB
Karya Ilhamdi Sulaiman
Abu Khair dan Dongeng Terakhir
Matahari Gaza pagi itu menggantung tanpa malu. Ia memancarkan cahaya panas pada bangunan yang tak lagi bernama, menguapkan bau darah dari celah-celah aspal retak. Tak ada burung berkicau, tak ada suara anak-anak bermain. Yang terdengar hanyalah sayup suara drone di langit, seperti lalat maut yang terus mengawasi nyawa-nyawa yang tersisa.
Di bawah tiang listrik patah yang condong ke sisi barat, duduklah Abu Khair, lelaki berusia lebih dari tujuh puluh tahun, yang kini menjadi penjaga kisah. Tubuhnya kurus, punggungnya bungkuk, dan matanya menyimpan sejarah lebih banyak dari buku manapun. Ia dikenal anak-anak sebagai “Syekh Hikayat”, pendongeng tua yang dahulu setiap malam menenangkan jiwa-jiwa kecil yang ketakutan lewat cerita rakyat.
Tapi kini anak-anak itu entah di mana. Beberapa terkubur di bawah reruntuhan sekolah, beberapa hilang bersama orang tuanya. Dan sebagian lagi terlalu lapar untuk mendengar cerita.
Di pangkuannya tergeletak buku lusuh yang nyaris tinggal sampul. Tinta-tinta pada halaman dalamnya telah pudar, tapi ia masih menghafal setiap kalimat di dalamnya. Abu Khair tak butuh tinta. Ia menulis cerita di ingatannya.
“Kalian tahu kisah Al-Hilm?” gumamnya sambil menatap reruntuhan, seolah dinding-dinding runtuh bisa mendengar. “Ia raja yang membagikan roti kepada siapa pun yang lapar. Ia tak punya istana, tapi punya hati yang luas seperti sungai Yordan.”
Tak ada yang menjawab. Hanya angin yang membawa suara tangisan samar dari kejauhan.
Abu Khair memandangi langit.
“Mereka bilang bantuan akan datang hari ini,” katanya kepada dirinya sendiri.
Ia tahu bohong seperti itu biasa di tempat ini. Bantuan selalu “akan datang”. Tapi yang datang lebih dulu adalah peluru.
Di ujung lain kamp pengungsian yang makin menyempit oleh blokade dan puing, seorang pemuda bernama Yusuf berdiri di depan ibunya, Salma. Badannya tinggi namun kurus, pipinya tirus karena berhari-hari hanya minum air dan memakan roti keras yang ia rebut dari truk bantuan pekan lalu. Tangannya menggenggam tas kecil dari goni. Di dalamnya hanya ada botol air, kain basah, dan doa.
“Gerbang utara akan buka jam sebelas,” ujarnya perlahan.
Jangan pergi, Yusuf,” Salma memohon. Matanya sembab. “Kau lihat apa yang terjadi pada Fadel kemarin? Mereka menembak siapa pun yang mendekat ke truk!”
Yusuf menarik napas panjang. Ia memandang adiknya, Lina, yang berbaring lemas di atas tikar lusuh. Tubuh gadis kecil itu tak bergerak, hanya matanya yang berkedip lemah. Ia belum makan dua hari penuh. Tidak ada lagi air bersih, tidak ada lagi harapan dari dapur umum yang sudah diledakkan sepekan lalu.
“Aku harus pergi,” ucap Yusuf. “Bukan untukku. Untuk Lina.”
Salma menggigit bibirnya, menahan isak. Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya yang compang-camping. Di situ tertulis doa dalam huruf Arab yang halus—doa yang diajarkan nenek mereka, doa yang katanya bisa menahan peluru.
“Letakkan ini di dadamu.”
Yusuf tersenyum tipis dan meraih kertas itu. “Semoga Tuhan mendengar, Bu.”
Ia mencium kening ibunya, mengelus rambut Lina, dan melangkah keluar. Debu menempel pada sandal bolongnya, dan matahari semakin tinggi seperti sedang mengawasi apakah hari ini layak disebut “hari hidup” atau “hari
—
Gerbang Utara dan Suara Tanpa Perintah
Langkah Yusuf menapak di antara puing dan genangan air limbah. Gaza bukan lagi kota, tapi labirin luka yang tak kunjung sembuh. Di dinding yang masih tegak, ada coretan besar dengan cat merah:
“Kami lapar bukan karena tak mampu, tapi karena ditahan oleh yang mengaku kuat.”
Yusuf menoleh, lalu menunduk. Kata-kata itu ditulis oleh temannya, Amir, sebelum ia tewas mencoba meraih karung tepung yang dijatuhkan dari truk bantuan. Peluru mengenai tenggorokannya.
Kini Yusuf berjalan dengan tubuh tegak, tapi hati penuh waspada. Ia bukan pejuang bersenjata, bukan prajurit, bukan ancaman. Hanya pemuda biasa yang ingin membawa pulang sedikit makanan.
Ketika ia sampai di jalan utama menuju gerbang utara, ia melihat kerumunan mulai terbentuk. Ratusan orang—lelaki, perempuan, anak-anak—berkumpul di bawah terik, memegang karung kosong, botol air, dan sebagian bahkan hanya tangan kosong. Wajah mereka menggambarkan satu hal: lapar.
Truk bantuan dari badan internasional belum datang. Tapi orang-orang sudah berdiri di luar pagar kawat yang membatasi zona bantuan. Di balik pagar, berdiri pasukan tentara Israel lengkap dengan helm dan senapan otomatis.
Yusuf berdiri agak jauh, memelihara ruang antara dirinya dan pagar. Ia melihat seorang pria tua melambaikan bendera putih dari tongkat kayu, berharap isyarat damai itu bisa mencegah kebiadaban yang sudah terlalu sering terjadi.
“Truk katanya di jalan,” kata seseorang di sebelah Yusuf. Seorang perempuan muda membawa bayi dalam gendongan.
“Kalau tak datang dalam sejam, mereka akan bubar paksa kita dengan tembakan,” jawab orang lain.
Yusuf menggenggam tasnya erat. Matahari menekan dari atas, debu mengepul dari kaki-kaki resah.
Tiba-tiba, suara dari pengeras terdengar dari arah pos tentara:
SEMUA DUDUK! JANGAN MENDEKAT PAGAR! SIAPA PUN YANG MELANGGAR AKAN DITEMBAK!
Teriakan itu menggema, tapi banyak yang tak tahu bahasa itu. Beberapa anak terus berjalan pelan ke arah pagar, memikirkan sekarung tepung lebih dari teriakan keras.
Yusuf melihat ke sekeliling. Ia tahu ini situasi yang genting. Tapi perut adiknya… mata ibunya… tubuh Lina yang lemas… semua itu membuatnya tetap berdiri.
📚 Artikel Terkait
Dan lalu terdengar suara paling mematikan di dunia itu:
Door Door… Door!
Peluru pertama dilepaskan ke udara.
Seketika, orang-orang menjerit. Tapi tak semua berlari. Beberapa malah merunduk dan tetap maju, karena ketika kematian dan kelaparan bersaing, kadang manusia memilih mati cepat daripada lambat.
Lalu… peluru tak lagi diarahkan ke langit.
Seorang lelaki roboh di sebelah Yusuf. Pelipisnya pecah.
Anak laki-laki yang memegang bendera putih terhuyung, lalu ambruk dengan darah mengalir dari dada.
Yusuf tak sadar kapan ia mulai berlari. Ia tak tahu ke mana, hanya ingin menjauh dari pagar yang menjadi perbatasan antara manusia dan kebiadaban.
Tapi terlambat.
DOOR…
Peluru itu menembus sisi kanan tubuhnya. Yusuf jatuh ke tanah berdebu, menggenggam dada yang kini basah oleh darahnya sendiri. Tas kecilnya terlempar. Di dalamnya, kertas doa dari ibunya ikut basah.
Mata Yusuf mulai mengabur. Tapi ia sempat melihat satu hal terakhir:
Seseorang, seorang bocah, merangkak mengambil kantong tepung yang terjatuh. Dan dari balik helm dan senapan itu, tentara menembaknya juga.
Yusuf ingin berteriak, tapi mulutnya hanya mengucap satu kata:
“Biadab…”
Lalu gelap menelannya.
Hikayat Terakhir
Asar belum datang, tapi langit sudah merunduk. Di kamp pengungsian itu, Salma duduk mematung di ambang pintu tenda yang mulai koyak. Angin membawa bau garam dari pantai yang sudah lama tak dikunjungi. Tak ada kabar dari Yusuf. Tak ada kabar dari siapa pun.
Ia mendekap Lina yang sudah tertidur, entah karena lelah, lapar, atau harapan yang perlahan mati. Salma tahu, naluri seorang ibu tidak pernah bohong. Yusuf tak akan kembali. Atau jika kembali, ia bukan lagi Yusuf yang tadi pagi mencium keningnya.
Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Langkah-langkah tergesa. Tangis. Suara perempuan menjerit. Anak-anak yang meraung. Sebuah keranda darurat—terbuat dari kayu dan spanduk—dibawa masuk ke jalan sempit di antara tenda-tenda.
Abu Khair berdiri, walau lututnya goyah. Ia menatap barisan orang yang datang. Di atas keranda itu, tubuh Yusuf terbujur kaku. Wajahnya damai, dada masih basah, dan di tangannya tergenggam kertas lusuh yang berlumur darah. Doa.
Salma tak menjerit. Ia hanya duduk. Lalu suaranya keluar perlahan, bukan sebagai ratapan, tapi sebagai nyanyian rendah seperti doa:
“Anakku pulang tak membawa tepung, tapi membawa luka dunia.
Anakku mati tak karena perang, tapi karena mencoba hidup…”
Warga kamp berkumpul. Ada puluhan jenazah dibawa bersamaan. Semua dari gerbang utara. Semua dari “zona bantuan”.
Seorang anak kecil menatap mayat-mayat itu dan bertanya, “Ibu, kenapa mereka ditembak?”
Ibunya hanya menjawab pelan, “Karena mereka mencari makanan.”
“Siapa yang menembak mereka?”
Ibunya menjawab, “Bangsa yang sudah kehilangan hati.”
Malam itu, Abu Khair duduk di tengah kamp, dengan sisa-sisa lilin dan lampu darurat. Ia membuka buku lusuhnya. Dan seperti biasa, meski tanpa anak-anak, ia tetap bercerita.
Tapi malam ini berbeda. Orang dewasa ikut mendekat. Ibu-ibu. Lelaki muda. Bahkan orang yang baru kehilangan anak, istri, saudara. Mereka butuh cerita. Bukan untuk hiburan, tapi sebagai pegangan.
Abu Khair membuka kisah lama.
“Dahulu kala, di tanah suci para nabi, ada kerajaan bernama El-Mahfudz. Kerajaan kecil itu dikepung selama bertahun-tahun. Rakyatnya lapar, tapi mereka tak pernah mengambil hak orang lain. Suatu hari, Raja El-Hilm sendiri keluar dari benteng untuk membagikan sepotong roti terakhirnya. Ia membawa bendera putih.
Tapi panah musuh tetap menembus dadanya.
Rakyat pun marah. Mereka tak bersenjata, tapi mereka membawa cerita raja itu ke setiap kampung, setiap rumah, setiap anak. Dan meski raja mereka mati, kisahnya tak pernah padam. Dunia akhirnya tahu: yang biadab bukanlah yang miskin, bukan yang minta roti—tapi mereka yang takut pada roti yang dibagikan oleh orang baik.”
Suasana hening. Tak ada yang bertepuk tangan. Tapi mata-mata berkaca.
Dua hari setelah tragedi itu, wartawan internasional datang. Mereka mengambil gambar reruntuhan, memotret wajah-wajah lapar, mewawancarai Salma.
Salma hanya menunjuk foto Yusuf.
“Anakku tidak mati sebagai korban. Ia mati sebagai saksi,” katanya. “Tulis itu.”
Jurnalis itu bertanya, “Apa pesan Anda untuk dunia?”
Salma tak menjawab. Tapi Abu Khair yang menjawab untuknya. Ia menulis dengan arang di tembok yang masih berdiri:
“Kami tidak ingin kasihan. Kami ingin keadilan.”
Suara yang Tak Mati
Malam demi malam berlalu. Tragedi gerbang utara menjadi cerita yang hidup. Di kamp pengungsian lain, orang-orang mulai bercerita tentang Yusuf, tentang doa yang berdarah, tentang anak-anak yang ditembak saat membawa karung kosong.
Dongeng Abu Khair menyebar. Dicetak ulang secara rahasia. Dibacakan di sekolah-sekolah bawah tanah. Dijadikan teater boneka. Dikirim dalam selebaran dari kamp ke kamp.
Yusuf pun menjadi tokoh dalam dongeng baru.
“Yusuf, anak dari tanah pasir, yang mati memegang doa, hidup di hati semua yang belum kehilangan kemanusiaan.”
Di dunia luar, sebagian marah. Sebagian bungkam. Sebagian besar lupa. Tapi di Gaza, luka itu menjadi hikayat. Dan seperti kata Abu Khair:
“Selama dunia masih punya dongeng, dunia belum benar-benar kalah.”
Jakarta,23 Juli 2025
Catatan Penutup
Cerita ini fiksi, tapi akarnya nyata. Banyak warga sipil tak bersenjata termasuk pengungsi, ibu-ibu, anak-anak menjadi korban ketika mencari bantuan pangan di daerah konflik. Semoga dunia tak terus membisu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





