POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Wanti dan Di: Identitas yang Dikubur Sejarah, Martabat Wangsa yang Dirampas dari Sejarah Aceh

RedaksiOleh Redaksi
October 6, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Wanti dan Di: Identitas yang Dikubur Sejarah, Martabat Wangsa yang Dirampas dari Sejarah Aceh

Oleh: @Frida.Pigny

ACEH. Ia bukan hanya Serambi Mekkah, tapi juga kuburan massal bagi identitas yang sengaja dibungkam. Di balik keagungan Teuku, Cut, Said, dan Syarifah, tersembunyi sebuah pengkhianatan sejarah: Wanti dan Di. Dua gelar yang hampir tak terdokumentasi. Dua nama yang memuat nyawa, kehormatan, dan kepedihan yang dibayar mahal oleh para pemiliknya.

Mereka bukan sekadar gelar. Mereka adalah strategi bertahan hidup, kode rahasia, dan simbol kehormatan yang dipaksa bersujud di hadapan badai politik yang menuntut agar garis darah mereka lenyap.

Gelar ‘Di’ diyakini berasal dari pemenggalan kata Arab Sayyidi (سيدي), yang berarti “Tuanku” atau “Yang Mulia.” Dalam tradisi Islam, Sayyid adalah gelar untuk keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali. Namun, dalam masa konflik sosial seperti Perang Cumbok (1945-1946), gelar ini menjadi beban politik.

Keturunan bangsawan dan keturunan Nabi dianggap sebagai ancaman terhadap gerakan egaliter, sehingga banyak dari mereka menyembunyikan identitasnya. Maka, penggunaan “Di” sebagai bentuk ringkas dari “Sayyidi” menjadi strategi bertahan hidup dan simbol kehormatan yang disamarkan.

Sementara itu, ‘Wanti’ diyakini berasal dari bahasa Jawa halus, yang berarti “kehormatan” atau “yang dijaga.” Dalam konteks Aceh, terutama di wilayah seperti Calang, Aceh Jaya, nama ini digunakan oleh perempuan keturunan Syarifah yang memilih hidup di luar jalur nasab resmi, yang disebut oleh sebagian kalangan sebagai “jalur kiri”.

Nama ‘Wanti’ menjadi bentuk kompromi sosial, sekaligus penyamaran identitas agar tidak dikenali sebagai keturunan Nabi dan golongan istimewa.

Wangsa Al-Jamalulail: Sultan Imigran yang Dipuja, Tapi Dihapus

Wangsa Al-Jamalulail, leluhur Arab Hadramaut yang memimpin Kesultanan Aceh, mereka adalah Sultan Imigran yang membuka gerbang emas Selat Malaka bagi dunia. Sultan Jamalul Alam Badrul Munir, sang visioner, mengubah Aceh menjadi poros perdagangan internasional. Namun, inilah dosa mereka: Kekuatan ekonomi dan garis darah asing mereka memicu api cemburu elite lokal.

Di bawah kepemimpinannya, Aceh membuka pelabuhan bagi kapal-kapal Inggris dari Madras (India), menjadikan wilayah ini sebagai pelabuhan utama di Selat Malaka. Membuat jalur perdagangan internasional antara Eropa, Timur Tengah, India, dan Tiongkok berkembang pesat. Sultan Jamalulail memperkuat posisi Aceh sebagai pusat transit dan diplomasi maritim.

Namun, kekuatan ekonomi dan latar Arabnya menimbulkan kecemburuan dari elite lokal dan kelompok ulama.

Lalu datanglah Perang Cumbok (1945–1946), sebuah masa yang menghapus jejak dan menuntut pertumpahan darah bangsawan. Demi bertahan hidup, perempuan-perempuan dari Wangsa Jamalulail dipaksa bersembunyi. Solidaritas lintas etnis, terutama dari Komunitas Jawa di Kampung Jawa, kota Banda Aceh sekarang, menjadi satu-satunya benteng. Nama Wanti dipakaikan bukan untuk kenangan, tapi sebagai tameng nyawa.

Ini bukan sekadar strategi, tapi bentuk solidaritas lintas etnis yang menunjukkan bahwa sejarah Aceh tidak bisa dipisahkan dari interaksi budaya yang kompleks.

Kekacauan Identitas: Syarif vs Said: Hasan atau Husain?

Gelar Sayyid dan Syarif diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad SAW melalui dua cucunya: Hasan dan Husain, anak dari Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Syarif/Syarifah, digunakan untuk keturunan dari Hasan bin Ali. Gelar ini banyak digunakan di wilayah Arab Barat seperti Maroko dan Yordania, di mana keturunan Hasan sering menjadi raja atau pemimpin.

Sementara, Sayyid/Sayyidah (atau Said/Sahida di Nusantara), digunakan untuk keturunan dari Husain bin Ali. Di Indonesia, terutama di Aceh, gelar ini sering diserap menjadi Said atau Sahida, meski penggunaannya kadang tumpang tindih.

Dalam tradisi Islam, ‘Sayyid’ (سيد) adalah gelar untuk laki-laki keturunan Nabi Muhammad SAW dari Husain bin Ali. ‘Sahida’ Adalah padanan perempuan dari garis Husain (kadang disebut Sayyidah atau Alawiyah).

📚 Artikel Terkait

Ngopi: Membumikan Interaksi yang Mengudara

Mafia Tanah Sedang Merakit Bom Waktu*

Surabaya Lombok

The Influence of Getting Up Early on Increasing the Children’s Discipline

Sementara ‘Syarif’ adalah laki-laki dari garis Hasan bin Ali dan padanannya adalah ‘Syarifah’ untuk versi perempuannya.

Namun, di Aceh, terjadi ketidaksinkronan. Laki-laki keturunan Nabi sering disebut Said atau Sayyid, tapi padanan perempuannya disebut Syarifah, meski secara genealogi seharusnya Syarifah berpasangan dengan Syarif, dan Sayyid dengan Sahida.

Hal ini menciptakan kerancuan identitas, terutama ketika gelar digunakan secara sosial tanpa memperhatikan asal-usul nasab yang sebenarnya. Kerancuan ini makin rumit ketika gelar seperti Di dan Wanti berperan sebagai “identitas alternatif”.

Panggilan ‘Kesayangan’: Cut Wan dan Cut Aja

Dalam tradisi Aceh, penamaan sayang atau nama kecil memiliki pola yang mencerminkan status sosial dan garis keturunan. ‘Cut Wan’ adalah perempuan bergelar Wanti atau nama sayang untuk anak perempuan dari garis Sayyedi atau nama lain penyamaran Syarifah.

‘Cut Aja’ adalah perempuan bergelar Syarifah atau nama kecil yang menunjukkan kehormatan perempuan keturunan Nabi.

Selain gelar kehormatan dari keturunan ‘imigran’ di atas, di Aceh juga ada gelar lokal yang digunakan untuk anak perempuan bangsawan atau ulèëbalang Aceh, yaitu ‘Cut Nyak’ untuk anak perempuan bergelar ‘Cut’, dan ‘Popon’ atau ‘Ampon’ untuk anak laki-laki.

Panggilan seperti ‘Cut Wan’ dan ‘Cut Aja’ digunakan untuk membedakan status sosial secara halus, terutama dalam komunitas yang masih menjunjung tinggi garis nasab.

Dalam beberapa komunitas, anak perempuan keturunan Al-Jamalulail dipakaikan nama ‘Wanti’ atau ‘Cut Wan’ versi orang lokal Aceh, agar tak langsung dikaitkan sebagai keturunan Nabi yang dianggap kontroversial di periode konflik.

Distorsi Gelar: Ketika Kenang-kenangan Menjadi Penistaan Sejarah

Fenomena ‘nama kesayangan’ ini tak luput dari kasus penyalahgunaan. Misalnya, ada keluarga dari luar Aceh yang ditugaskan dinas di wilayah Aceh, lalu memberi nama kedua putrinya dengan awalan “Cut” karena lahir di Aceh, walaupun tanpa garis keturunan yang dapat ditelusuri jejak sejarahnya.

Praktik ‘kenang-kenangan’ itu bukan sentimentalitas; itu adalah penghinaan dingin terhadap sejarah.  

Sama halnya dengan para ‘Syarifah’ yang menikah di luar nasabnya, atau yang memilih hidup pada ‘jalur kiri’, umumnya disebabkan karena cinta. Entah karena belum bisa ‘move on’ untuk melepaskan identitas mereka yang sebelumnya secara sepenuhnya, mereka memantapkan diri untuk menamai anak-anak mereka dengan ‘Wanti’ dan ‘Di’. Walaupun secara patriarkial ini menyalahi dan tidak dibenarkan. 

Hal serupa terjadi pada anak-anak yang bukan keturunan asli ‘Teuku’, namun diberi nama kesayangan seperti ‘Popon’ atau ‘Ampon’. Hanya karena status perempuan ‘Cut Nyak’ yang menghasilkan keturunan dari hasil pernikahannya dengan ‘rakyat biasa’. Nama kesayangan ini yang dulunya dalam beberapa komunitas digunakan untuk menyamarkan status sosial menjadi benteng pertahanan ego matriarki yang belum bisa ‘move on’.

Terdengar kasus sepele karena lumrah terjadi, tapi efeknya lintas generasi. Bayangkan, selang beberapa generasi kemudian, jejak gelar kehormatan yang semestinya dapat dengan mudah ditelusuri garis patriarki-nya ini menjadi kabur dan dengan sekenanya terciptalah narasi baru diluar jalur aslinya.

Ini menunjukkan bahwa gelar-gelar kehormatan di Aceh telah mengalami distorsi makna, dan patutlah perlu diluruskan agar tidak terjadi pengaburan sejarah.

Mengurai Benang Kusut Identitas Aceh

Gelar ‘Wanti’ dan ‘Di’ adalah cermin dari sejarah yang kompleks, sekaligus bukti bahwa identitas bisa berubah bentuk demi bertahan hidup akibat konflik dan krisis.

Penamaan sayang seperti Cut Wan, Cut Aja, Popon, Ampon dan saya yakin banyak lagi lainnya, bukan sekadar panggilan manja semata. Tetapi juga strategi sosial untuk menyamarkan atau menegaskan status.

Di tengah kekacauan penamaan seperti Sayyid yang semestinya berpadanan dengan Sahida/Sayyida, bukan malah Syarifah, Aceh menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya soal catatan resmi, tapi juga tentang bagaimana masyarakat menavigasi identitas mereka di tengah tekanan zaman.

Wangsa Al-Jamalulail bukan hanya bagian dari sejarah Aceh dari perkara identitas, menelaah nama ataupun gelar yang sudah bergeser maknanya. Tulisan ini adalah upaya kecil dalam memulihkan martabat sebuah wangsa yang pernah berjasa menjadikan Aceh sebagai mercusuar dunia.

Warisan mereka layak diangkat kembali sebagai bagian dari narasi besar Aceh yang terlupakan, bahkan mungkin ‘sengaja dikubur’. Karena ketika gelar keagamaan dan penghormatan dibungkam atau disamarkan secara sistemik, generasi mendatang kehilangan jejak, bukan karena lupa ingatan, tetapi karena digeser oleh kekuatan politik dan sosial.

Di tengah dunia yang kian mengglobal, keberanian untuk mengakui gelar-gelar tersembunyi seperti ‘Wanti’ dan ‘Di’ adalah keberanian menjaga jati diri Aceh, agar sejarah kita tidak hanya dikenang, tetapi dipahami. Mereka adalah tulang punggung budaya, pengikat generasi, dan fondasi kebanggaan kolektif.

Nama bisa diganti, gelar bisa dihapus, tetapi darah dan cerita tidak pernah lenyap; ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali. 

Dengan penuh hormat, memanggil para sejarawan Aceh agar bisa menggali dan meneliti lebih dalam perihal ini.

Foto Koleksi Keluarga DM: Di Manyak (aka Di Ali) bin Tgk Sayedi Hasan Al-Jamalullail

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Makanan Gratis dan Generasi yang Diuji: Antara Niat Baik, Kelalaian, dan Kecurigaan Global

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00