POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Lelaki Saf Belakang

RedaksiOleh Redaksi
October 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Ryan P. Putra

Lelaki yang salat di saf belakang itu mencurigakan!

Aku tak tahu siapa dia. Ia bukan warga kampung di sini dan bukan warga kampung sebelah. Pakaiannya saja seperti preman; baju gambar tengkorak, kalung logo grup band barat, dan celana panjangnya yang ketat

Tiap salat maghrib, lelaki itu selalu ada. Tapi, pantaskah ia salat dengan penampilannya seperti itu? Tentunya akan membuat risih jamaah yang lain. Aku ingin bertanya langsung kepadanya. Asalnya dari mana dan mengapa kok salat di sini? Jujur, aku tak berani bertanya seperti itu. 

Mendekatinya saja pun takut.

“Permisi, Mas. Kamar kecil di mana ya?”

“Dari tempat wudhu pria, belok kiri ya, Mas.”

“Terima kasih, Mas.”

Kaget! Seusai salat ia menepuk bahuku dan menanyai itu. Aku santai menghadapi itu dan menjawab pertanyaannya. Meskipun sedikit takut juga dengan lelaki seperti itu.

Aku melihatnya dari kejauhan. Benar, ia menuju ke kamar kecil; mungkin buang air atau merapikan pakaian. Tetapi ia sudah tak ada ketika aku ke kamar kecil untuk mencuci tangan setelah makan bersama dengan jamaah masjid.

Pengalaman berjumpa dengan orang asing seperti dia pernah aku lalui. Saat itu aku mengantar kue kering buatan ibuku kepada seorang pelanggan di pasar. Kue yang aku antar tak beberapa buah, tapi sekitar seribu buah untuk dijual kembali. Pekerjaan ini sering aku lakukan, bahkan mendarah daging di hidupku.

Sekantung plastik kue kering aku panggul. Baru tiba di halaman parkir, aku diberhentikan oleh seorang lelaki. Pakaiannya yang ia gunakan pun sangar. Kata warga sekitar, ia preman pasar yang kerjanya menagih pajak setiap orang yang melakukan penjualan barang. Pikirku, aku hanya mengantar pesanan dan tak ada perjanjian pajak dengannya. Namun, preman itu masih meminta sejumlah uang dariku. 

Saat itu hanya dua puluh ribu. Jumlah yang tak terlalu besar bagiku. Sedihnya, aku tak membawa uang seperak pun. Aku mencoba bernegosiasi dengan preman itu, mencari jalan keluar sementara. Tapi preman itu masih menginginkan uang yang ia minta. 

Jalan keluarnya, ia menginginkan puluhan kue kering yang aku bawa menjadi penggantinya. Membuat ibuku tak untung kali ini.Hanya modal yang didapat ibuku.

***

Lelaki yang salat di saf belakang itu mencurigakan!

📚 Artikel Terkait

Ketika Dokter Salah Mengobati Penyakit Pendidikan Aceh

**Monolog Mata Ie: Surat Cinta yang Tak Pernah Usai**

Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

Tutup Tambang Ilegal, Buka Tambang Rakyat: Solusi atau Kamuflase Baru?

Ia kembali salat di masjid. Di waktu yang sama, maghrib. Aku berpikir, mengapa dia selalu ada saat salat maghrib? Kok tak ada pada waktu salat isya yang waktunya berdekatan dengan maghrib? Tak hanya itu saja. Ia masih salat di posisi yang sama, di saf belakang.

Salah seorang jamaah masjid memanggilku. Tentunya untuk makan bersama. Aku tetap menunggu lelaki misterius itu keluar dari kamar kecil. Sekitar dua puluh menit, ia tak keluar juga. Hingga kesabaranku habis. Mengingat adzan isya sebentar lagi dikumandangkan oleh sang muadzin, sebungkus nasi aku makan di tengah-tengah kerumunan jamaah masjid yang telah usai makannya. Aku tak malu atau sungkan sedikit pun.

“Mas, tadi ngapain nunggu di depan kamar kecil?” Aku kaget ketika Pak Dul, seorang muadzin masjid menanyakan hal itu. Aku ingat pesan almarhumah ibuku, bahwa salah satu budi pekerti luhur adalah sebuah kejujuran.

“Begini, Pak Dul. Setiap maghrib selalu ada lelaki yang berpakaian seperti preman salat di masjid ini. Nah, saya tadi nungguin dia di depan kamar kecil itu tadi.”

“Oh. Itu pedagang sate keliling, Mas.”

Pedagang sate? Ini adalah hal yang tak wajar. Kalau ia salat maghrib di sini tak masalah bagiku. Mungkin saja masjid ini sebagai lewatannya ketika berjualan sate. Tapi masalah pakaiannya dan saf salatnya itulah yang masih menggantung. Tak terbayangkan besarnya rasa penasaran ini.

***

Lelaki yang salat di saf belakang itu mencurigakan!

Seusai salat maghrib, aku langsung bertanya beberapa hal kepadanya. Rasa takutku kian menghilang ketika aku tahu ia hanya pedagang sate. Kata orang dulu, kalau pedagang bersifat galak, maka dagangannya tak akan laris. Tapi aku tak tahu kebenaran itu. Mungkin hanya mitos.

“Mas, dagangannya laris ya?” Aku basa-basi dulu kepadanya. 

“Iya, Mas. Alhamdulillah.”

“Oh, iya. Saya boleh tanya-tanya sesuatu?”

“Boleh saja kok.”

“Kalau boleh tahu, saya perhatikan Mas kok selalu pakai baju seperti ini?”

“Oh, baju ini aku pakai karena aku tak ada baju yang bagus lagi, Mas. Setiap hari aku jualan selalu pakai baju seperti ini. Nyari uang buat makan sehari-hari saja susah, apalagi buat beli baju?”

Aku terharu mendengar cerita singkatnya. Aku yakin ia belum menikah. Dilihat dari wajahnya saja masih muda. Itu semua hanya menjawab beberapa bagian dari penasaranku. Bagian yang lain yakni ketika ia selalu salat di saf belakang. Sebenarnya, ada apa dengan saf belakang?

“Lalu, kenapa Mas kok selalu salat di saf bagian belakang? Apa Mas selalu telat salat maghribnya?”

Tak ada yang bisa aku katakan lagi. Sepatah pun tak bisa merespon cerita singkatnya kali ini. Aku tahu ia hanya pedagang sate keliling, tapi ceritanya tak bisa diragukan lagi. Saf belakang menjadi tempat idamannya saat salat maghrib karena ia tak ingin mengganggu jamaah yang salat dengan pakaiannya yang tak karuan. 

Serta tak ingin jamaah terganggu dengan aroma asap sate yang sempat memeluk tubuhnya. Alasan yang sedikit tak masuk akal. Namun tujuannya baik, menjaga kekusyukan jamaah yang salat. [ ]

Surabaya, Juni 2016

Biodata:

RYAN P. PUTRA. Penulis asal Surabaya. Menulis cerpen, esai, dan resensi. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan online. Penulis buku “Kelinci Percobaan K-13” (FAM Publishing, 2016).

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Perjuangan Rakyat Samalanga Menghadapi Penjajahan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00