Dengarkan Artikel
Oleh Ryan P. Putra
Lelaki yang salat di saf belakang itu mencurigakan!
Aku tak tahu siapa dia. Ia bukan warga kampung di sini dan bukan warga kampung sebelah. Pakaiannya saja seperti preman; baju gambar tengkorak, kalung logo grup band barat, dan celana panjangnya yang ketat
Tiap salat maghrib, lelaki itu selalu ada. Tapi, pantaskah ia salat dengan penampilannya seperti itu? Tentunya akan membuat risih jamaah yang lain. Aku ingin bertanya langsung kepadanya. Asalnya dari mana dan mengapa kok salat di sini? Jujur, aku tak berani bertanya seperti itu.
Mendekatinya saja pun takut.
“Permisi, Mas. Kamar kecil di mana ya?”
“Dari tempat wudhu pria, belok kiri ya, Mas.”
“Terima kasih, Mas.”
Kaget! Seusai salat ia menepuk bahuku dan menanyai itu. Aku santai menghadapi itu dan menjawab pertanyaannya. Meskipun sedikit takut juga dengan lelaki seperti itu.
Aku melihatnya dari kejauhan. Benar, ia menuju ke kamar kecil; mungkin buang air atau merapikan pakaian. Tetapi ia sudah tak ada ketika aku ke kamar kecil untuk mencuci tangan setelah makan bersama dengan jamaah masjid.
Pengalaman berjumpa dengan orang asing seperti dia pernah aku lalui. Saat itu aku mengantar kue kering buatan ibuku kepada seorang pelanggan di pasar. Kue yang aku antar tak beberapa buah, tapi sekitar seribu buah untuk dijual kembali. Pekerjaan ini sering aku lakukan, bahkan mendarah daging di hidupku.
Sekantung plastik kue kering aku panggul. Baru tiba di halaman parkir, aku diberhentikan oleh seorang lelaki. Pakaiannya yang ia gunakan pun sangar. Kata warga sekitar, ia preman pasar yang kerjanya menagih pajak setiap orang yang melakukan penjualan barang. Pikirku, aku hanya mengantar pesanan dan tak ada perjanjian pajak dengannya. Namun, preman itu masih meminta sejumlah uang dariku.
Saat itu hanya dua puluh ribu. Jumlah yang tak terlalu besar bagiku. Sedihnya, aku tak membawa uang seperak pun. Aku mencoba bernegosiasi dengan preman itu, mencari jalan keluar sementara. Tapi preman itu masih menginginkan uang yang ia minta.
Jalan keluarnya, ia menginginkan puluhan kue kering yang aku bawa menjadi penggantinya. Membuat ibuku tak untung kali ini.Hanya modal yang didapat ibuku.
***
Lelaki yang salat di saf belakang itu mencurigakan!
📚 Artikel Terkait
Ia kembali salat di masjid. Di waktu yang sama, maghrib. Aku berpikir, mengapa dia selalu ada saat salat maghrib? Kok tak ada pada waktu salat isya yang waktunya berdekatan dengan maghrib? Tak hanya itu saja. Ia masih salat di posisi yang sama, di saf belakang.
Salah seorang jamaah masjid memanggilku. Tentunya untuk makan bersama. Aku tetap menunggu lelaki misterius itu keluar dari kamar kecil. Sekitar dua puluh menit, ia tak keluar juga. Hingga kesabaranku habis. Mengingat adzan isya sebentar lagi dikumandangkan oleh sang muadzin, sebungkus nasi aku makan di tengah-tengah kerumunan jamaah masjid yang telah usai makannya. Aku tak malu atau sungkan sedikit pun.
“Mas, tadi ngapain nunggu di depan kamar kecil?” Aku kaget ketika Pak Dul, seorang muadzin masjid menanyakan hal itu. Aku ingat pesan almarhumah ibuku, bahwa salah satu budi pekerti luhur adalah sebuah kejujuran.
“Begini, Pak Dul. Setiap maghrib selalu ada lelaki yang berpakaian seperti preman salat di masjid ini. Nah, saya tadi nungguin dia di depan kamar kecil itu tadi.”
“Oh. Itu pedagang sate keliling, Mas.”
Pedagang sate? Ini adalah hal yang tak wajar. Kalau ia salat maghrib di sini tak masalah bagiku. Mungkin saja masjid ini sebagai lewatannya ketika berjualan sate. Tapi masalah pakaiannya dan saf salatnya itulah yang masih menggantung. Tak terbayangkan besarnya rasa penasaran ini.
***
Lelaki yang salat di saf belakang itu mencurigakan!
Seusai salat maghrib, aku langsung bertanya beberapa hal kepadanya. Rasa takutku kian menghilang ketika aku tahu ia hanya pedagang sate. Kata orang dulu, kalau pedagang bersifat galak, maka dagangannya tak akan laris. Tapi aku tak tahu kebenaran itu. Mungkin hanya mitos.
“Mas, dagangannya laris ya?” Aku basa-basi dulu kepadanya.
“Iya, Mas. Alhamdulillah.”
“Oh, iya. Saya boleh tanya-tanya sesuatu?”
“Boleh saja kok.”
“Kalau boleh tahu, saya perhatikan Mas kok selalu pakai baju seperti ini?”
“Oh, baju ini aku pakai karena aku tak ada baju yang bagus lagi, Mas. Setiap hari aku jualan selalu pakai baju seperti ini. Nyari uang buat makan sehari-hari saja susah, apalagi buat beli baju?”
Aku terharu mendengar cerita singkatnya. Aku yakin ia belum menikah. Dilihat dari wajahnya saja masih muda. Itu semua hanya menjawab beberapa bagian dari penasaranku. Bagian yang lain yakni ketika ia selalu salat di saf belakang. Sebenarnya, ada apa dengan saf belakang?
“Lalu, kenapa Mas kok selalu salat di saf bagian belakang? Apa Mas selalu telat salat maghribnya?”
Tak ada yang bisa aku katakan lagi. Sepatah pun tak bisa merespon cerita singkatnya kali ini. Aku tahu ia hanya pedagang sate keliling, tapi ceritanya tak bisa diragukan lagi. Saf belakang menjadi tempat idamannya saat salat maghrib karena ia tak ingin mengganggu jamaah yang salat dengan pakaiannya yang tak karuan.
Serta tak ingin jamaah terganggu dengan aroma asap sate yang sempat memeluk tubuhnya. Alasan yang sedikit tak masuk akal. Namun tujuannya baik, menjaga kekusyukan jamaah yang salat. [ ]
Surabaya, Juni 2016
Biodata:
RYAN P. PUTRA. Penulis asal Surabaya. Menulis cerpen, esai, dan resensi. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan online. Penulis buku “Kelinci Percobaan K-13” (FAM Publishing, 2016).
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





