Dengarkan Artikel
Oleh : Nurlaili, S.Pd Guru MIN 10 Pidie Jaya
Hana ye keuh ka Ek boat nyan?? ( Tidak takutkah kamu naik boat itu?)
Sering kali pertanyaan seperti itu dilontarkan oleh orang-orang, ketika saya bercerita bahwa transportasi kami di sini adalah boat kayu.
Boat kayu ini sebenarnya bukan kapal penumpang. Hanya saja karena tidak adanya kapal khusus untuk transportasi penumpang, jadi untuk sampai ke Kota kami menumpang di kapal ini.
Untuk jadwalnya berbeda dengan kapal-kapal penumpang pada umumnya yang memang sudah terjadwal dengan jelas rute dan harinya untuk setiap minggunya. Sedangkan boat yang kami tumpangi ini jadwalnya tidak menentu, tergantung muatan yang mereka dapatkan dan cuaca yang mendukung.
Tujuan utama boat ini ke kota adalah membawa ikan hasil tangkapan para nelayan di Desa tersebut, yang sudah ditampung fiber. Jika muatannya sudah penuh, maka boat tersebut akan berangkat ke Kota.
Ada juga yang membawa kopra, yaitu kelapa yang sudah diolah sedemikian rupa yang akan diproses menjadi minyak goreng.
Jika KMP Wira Wiguna dari singkil menuju Nias membawa beras, dan pulang kembali ke Singkil dengan membawa pisang.Maka boat ini menuju kota membawa ikan dan kopra, dan pulang kembali dengan membawa bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari. Seperti beras, minyak, cabe, bawang, dan sebagainya. Jadi wajar jika harga barang di sini hampir 2 kali lipat dari harga di seberang.
Untuk waktu tempuhnya, paling cepat harus berlayar selama 3,5 jam baru sampai ke kota tujuan. Ada juga 4 jam bahkan ada yang 5 jam, tergantung kecepatan boat dan cuacanya.
Bahkan pengalaman saya pernah berangkat jam 8 pagi dan tiba jam 6 sore, faktor cuaca yang ekstrim membuat boat terpaksa singgah-singgah di pulau terdekat karena ombaknya tidak lagi memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan. Jika tetap memaksa melanjutkan ditsayatkan boatnya akan pecah, bahkan beberapa kali boatnya hampir oleng dan terbalik pada saat itu
📚 Artikel Terkait
Yang sedihnya lagi saya lupa membawa stok makanan waktu itu, bahkan sepotong roti saja tidak punya, hanya berbekal air Aqua 600 ml untuk mengganjal perut selama lebih kurang 10 jam di lautan.
Dan setelah kejadian itu, saya mengalami trauma dan tidak pernah keluar-keluar pulau hampir 3 bulan. Padahal bukan itu pertama kali saya terjebak badai.
Pernah suatu waktu saya menumpang di Speedboat yang penumpangnya hanya saya dan yang bawa speed. Dengan ukuran speed yang kecil ditambah ombak yang lumayan besar, seakan-akan kita sedang berselancar di tengah lautan. Jangan tanya gimana perasaannya, yang jelas tubuh membeku, bibir memucat, bahkan jantung pun ikut berdegup cepat.
Pernah juga saya menumpang di boat yang membawa karyawan PT yang ada di belakang pulau, yah berputar-putar lah kami mengelilingi pulau. Bayangkan saja berangkat jam 8 pagi tiba di rumah jam 9 malam, anggap saja sedang berlayar dengan kapal pesiar di laut lepas, haha
Ah, sudahlah jika bercerita tentang perjalanan ini ku rasa satu buku pun gak akan cukup
Dan ketika saya menulis, sudah 4 tahun saya mengabdi pada saat itu, pernah terlintas untuk berhenti dan meninggalkan semua kisah, tapi mengingat perjuangan 4 tahun itu yang tidak akan berujung, dengan berat hati tetap melanjutkan perjuangan meskipun kondisi sudah banyak menggores luka di hati.
Dan hari ini Allah menjawab semua doa saya, membalas semua perjuangan yang pahit dengan akhir yang sangat indah. Bagaimana tidak, setelah harus berjuang melintasi perjalanan Aceh-Sumatera, melewati Danau Toba, mengarungi Samudera Hindia untuk sampai ketempat tugas, kini Allah berikan saya tempat tugas yang hanya cukup dengan melangkah saja pun bisa. Allah gantikan semua goresan luka dengan lukisan kebahagiaan.
Ya, Alhamdulillah setelah 5 tahun berjuang mencerdaskan anak bangsa di pelosok Negeri, kini kami kembali untuk mengabdi di kampung halaman sendiri. Bukan kami tidak mencintai tunas bangsa di ujung Negeri, tapi ada kehidupan yang tidak bisa selamanya kami tinggali.
Itulah perjalanan hidup, roda akan selalu berputar, zaman akan terus berganti
Untuk teman-teman yang masih berjuang melawan kehidupan, tetap semangat dan jangan menyerah sebelum kapal mencapai tujuan.
Percayalah, tak selamanya hujan menciptakan badai, Adakalanya hujan membuat munculnya pelangi.
Hari ini mungkin hati dikita dirundung kepedihan yang amat dalam, tapi tak menutup kemungkinan besok lusa akan berganti dengan kebahagiaan.
Bukan kah setelah gelapnya malam akan munculnya mentari??
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






