• Latest

Anak Pertama Tidak Harus Sempurna

Oktober 1, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Anak Pertama Tidak Harus Sempurna

Redaksiby Redaksi
Oktober 1, 2025
in #Cerpen, Cerpen, Cerpen Remaja
Reading Time: 6 mins read
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Anna Althafun Nisa

Di sudut ruang tamu yang remang, Ana duduk memeluk lutut. Suara tangis adik-adiknya terdengar dari kamar sebelah, bersahut-sahutan dengan teriakan Ayah dan Ibu yang bertengkar di dalam kamar. 

Rumah yang dulu penuh tawa, kini seolah tak menyisakan ruang untuk bernapas.

Sejak Ayah kehilangan pekerjaan, suasana berubah drastis. Ayah lebih sering diam, tatapannya kosong. Ibu pun berubah, lebih mudah menangis, lebih sering menghindar. Dan Ana, anak sulung berusia lima belas tahun, terjebak di tengah semuanya. Bukan hanya sebagai saksi, tapi seolah menjadi penyangga agar rumah itu tidak runtuh.

“Anak pertama harus kuat,” kata Ayah suatu malam. Kalimat itu menancap dalam. Ia tak bisa menghitung berapa kali ia mengulang kata-kata itu dalam hatinya. Mungkin sebagai mantra. Mungkin juga sebagai pengingat bahwa ia tak punya pilihan lain.

Namun suatu malam, saat suara pertengkaran mereda dan Naufal, adik bungsunya, keluar dari kamar dengan mata sembab, Ana sadar — ia juga butuh sandaran.

“Aku takut, Kak,” bisik Naufal. “Kalau Ayah dan Ibu terus kayak gini, kita gimana?”

Ana memeluk adiknya erat-erat. “Kakak juga takut, Naufal,” katanya dalam hati, tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah, “Nggak apa-apa. Kakak jaga kamu. Kita akan baik-baik saja.”

Tapi malam-malam berikutnya tak selalu baik-baik saja. Ana mulai kehilangan dirinya sendiri. Ia tetap bangun pagi, memasak, menyiapkan seragam adik, lalu ke sekolah dengan senyum yang ia paksa. Di sekolah, ia belajar seperti biasa, tapi pikirannya tak pernah benar-benar ada di kelas.

Suatu hari, di perpustakaan sekolah yang sepi, ia mendengar suara — bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya.

“Apa kamu yakin bisa terus begini, Ana?”

Ia menutup buku. Mungkin… sudah saatnya ia jujur, setidaknya pada dirinya sendiri.

Malam itu, Ana duduk di meja belajarnya, membuka buku catatan, dan menulis:

“Dear Ayah dan Ibu…
Aku tahu kalian lelah. Tapi aku juga lelah. Aku takut. Aku ingin menangis, tapi aku takut membuat kalian lebih sedih.”
“Aku rindu rumah kita yang dulu. Bisa nggak kita pelan-pelan ke sana lagi?”

Surat itu ia lipat dan sembunyikan. Ia tidak berniat mengirimnya. Tapi entah kenapa, hatinya terasa sedikit lebih ringan.

Hari-hari berlalu. Perlahan, ada yang berubah. Ayah mulai bangun lebih pagi, membantu menyiapkan sarapan. Ibu mulai tersenyum, meski tipis. 

Suatu sore, Ana pulang dan melihat Ayah bermain catur dengan Naufal, sementara Ibu menjahit di sudut ruang tamu. Ada cahaya kecil yang menyelinap masuk ke dalam rumah mereka.

Ibu menghampiri Ana, menggenggam tangannya. “Maaf, ya, Nak. Ibu terlalu lama diam. Ibu lupa kamu juga butuh Ibu.”

Dan sore itu, Ana menangis di pelukan ibunya. Tangisan yang selama ini ia tahan akhirnya mengalir — tidak karena lemah, tapi karena tahu bahwa ia tidak sendirian lagi.

Beberapa bulan kemudian, Ayah mendapat pekerjaan sebagai sopir antar barang. Ibu mulai menjual kue. Ana dan Naufal membantu sebisanya. Masalah belum sepenuhnya selesai, tapi mereka tidak lagi saling menjauh. Mereka mulai belajar saling bicara, bukan saling menyalahkan.

Ana tak lagi memikul semua beban sendiri. Ia mulai berbicara pada sahabatnya, Faiza. Mulai berani mengatakan, “Aku capek,” tanpa merasa bersalah.

“Jadi anak pertama nggak harus sempurna, Na,” kata Faiza suatu sore. “Yang penting kamu jujur sama dirimu sendiri.”

Ana mengangguk, dan untuk pertama kalinya, ia merasa… benar-benar dilihat.

Beberapa waktu kemudian, Ayah harus pindah ke luar kota demi pekerjaan. Artinya, Ana kembali harus menjaga rumah bersama Ibu dan Naufal. Dulu, hal itu akan membuatnya gemetar. Tapi kali ini, ia tak merasa sendirian.

Suatu malam, Ana akhirnya meletakkan surat yang dulu ia tulis di meja ruang tamu. Tanpa sepatah kata.

Malamnya, Ibu masuk ke kamar Ana dengan mata berkaca. “Nak… terima kasih. Suratmu itu… membuka mata Ibu.”

Ayah menyusul, memeluknya dari belakang. “Mulai sekarang, kita jalan bareng, ya. Bukan kamu sendiri yang harus kuat.”

Dan untuk pertama kalinya, Ana merasa — didengar. Dipahami. Dicintai.

Waktu berlalu. Ana lulus SMA, mendapat beasiswa kecil untuk kuliah. Di hari kelulusannya, Ayah datang. Dengan pakaian kerja yang masih bau oli, tapi dengan senyum yang tulus.

“Kakak lulus, Yah,” kata Ana, memeluk Ayah.

ADVERTISEMENT

Ayah mengangguk, matanya berkaca. “Ayah bangga. Bukan karena nilai kamu… tapi karena kamu bertahan.”

Baca Juga

IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Di rumah, mereka duduk di teras sambil menikmati sore. Naufal kini tumbuh remaja, tak lagi bocah yang menangis di kamar. Ibu dan Ayah tampak lebih tenang, lebih utuh.

“Kak Ana mau kuliah di kota?” tanya Naufal, menahan sedih.

Ana mengangguk. “Tapi seminggu sekali pulang. Rumah ini tetap rumah Kakak.”

Ibu menggenggam tangan Ana. “Dan kamu nggak harus jadi penopang keluarga lagi, Nak. Kami sudah belajar.”

Ana memandang mereka satu per satu, dan dalam hatinya berkata:

“Dulu aku pikir jadi anak pertama artinya harus selalu kuat. Tapi sekarang aku tahu, yang membuatku kuat adalah kalian. Karena kekuatan bukan soal menahan semuanya sendiri, tapi soal saling menggenggam tangan dan tetap berjalan… meski pelan.”

TAMAT


ANNA  ALTHAFUN  NISA, orang – orang sekitanyamemanggilnya dengan sebutan Anna. Anna lahir di Aceh Selatan, pada tanggal 29 Juni 2010

 Anak pertama dari 3 bersaudara .  ia menyelesaikan pendidikan formalnya di SDN 2 MEUREUDU, selesai pada pertengahan tahun 2022.kemudian ia melanjutkan ke SMPN 2 MEUREUDU, selesai pada pertengahan tahun 2025 . Kemudian dia melanjutkan pendidikan nya di SMK 3 BANDA ACEH. 

  Anna ,sekarang duduk di bangku kelas 1 SMK. Anna mempunyai 2 adik laki-laki. Yang setiap hari selalu bertengkar, tapi dibalik itu Anna tetap sayang sama kedua adiknya. Ayahnya adalah seorang Buruh Tani, sedangkan ibunya hanya seorang IRT. 

Anna mempunyai hobi menulis membaca dan mendengar musik. Anna selalu mencoba terus mengembangkan hobinya di saat dia memiliki waktu luang. Terutama membaca dan menulis. 

Dia saat ini sedang menulis cerpen yang judulnya “ANAK PERTAMA HARUS KUAT “ . 

Dia sangat ingin kalau cerpennya dijadikan sebagai buku, dia ingin semua orang membaca buku nya.

Saat ini dia sedang berusaha mengembangkan hobinya yaitu menulis,. Do’ain ya semoga si Anna bisa menyelesaikan cerpen nya sampai selesai . 

IG : @althafun_85 

Tiktok:@anqk pertama 💪

!

!

I

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Pajak, Plat Kendaraan, dan Ekonomi Lintas Daerah: Belajar dari Konflik Aceh–Sumut

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com