Dengarkan Artikel
Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya
Dunia paradoks kadang menertawakan manusia dengan cara yang paling getir.
Lihatlah kisah di Bandung Barat: sebuah program bernama Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang semestinya menjadi jalan menuju masa depan anak-anak yang sehat, justru menjadi jalan terjal penuh derita.
Dalam tiga hari, 842 anak sekolah setempat harus menanggung akibatnya—keracunan massal.
Niat mulia runtuh menjadi tragedi. Ironi itu menampar kesadaran kita. Bukankah makanan bergizi dirancang agar tubuh anak-anak lebih kuat, otaknya lebih cerdas, jiwanya lebih riang Bukankah tujuan negara menyiapkan anggaran gizi adalah demi masa depan bangsa?
Namun apa yang terjadi? Yang sampai ke tubuh mungil itu bukan vitamin, bukan protein, bukan karbohidrat sehat, melainkan racun yang meruntuhkan.
Racun yang entah dari mana datangnya, menyusup di antara nasi, lauk, sayur, atau buah.
Pertanyaan pun berhamburan: dari mana racun itu masuk? Apakah dari dapur yang kotor? Dari bahan yang tak terkontrol? Dari kelalaian petugas yang tak memeriksa dengan cermat? Atau justru dari keserakahan pihak ketiga yang memangkas biaya demi laba?
Lebih jauh lagi, tidakkah ada prosedur standar yang mewajibkan pengujian rasa, uji kualitas, atau sekadar mencicipi makanan itu sebelum dibagikan? Tidakkah ada pengawasan berlapis? Jika ada, mengapa bisa lolos? Jika tak ada, lalu siapa yang bertanggung jawab?
Paradoks itu semakin getir, sebab kita hidup di era media sosial. Kabar ini bukan sekadar berita di halaman surat kabar, atau hanya berkutat di daerah itu, melainkan gelombang kecemasan yang menjalar ke mana-mana.
Dari Bandung Barat, rasa waswas itu melompat jauh hingga ke Bali, bahkan ke seluruh penjuru negeri.
📚 Artikel Terkait
Orang tua mulai cemas: Apakah anakku aman? Apakah bekal yang masuk ke tubuhnya sungguh sehat? Rasa percaya yang seharusnya menjadi fondasi program publik, justru runtuh digerus oleh rasa takut.
Sejatinya solusi tak serumit jaring birokrasi. Jika anggaran MBG Rp10 ribu per anak, mengapa tidak langsung diberikan mentahnya kepada siswa dalam bentuk tunai?
Hari ini diberikan Rp10 ribu, besok guru atau ahli gizi menilai bekal yang dibawa siswa: apakah sesuai dengan panduan gizi—nasi, telur, sayur, buah. Dengan pola itu, ada banyak keuntungan:
Pertama, uang itu utuh sampai ke tangan anak, tanpa terpangkas oleh pihak ketiga yang mencari untung. Tak ada potongan, tak ada permainan, tak ada penggelembungan.
Kedua, orang tua ikut terdidik. Mereka belajar menyusun makanan sehat, bukan hanya bagi si anak di sekolah, tetapi juga bagi seluruh keluarga di rumah. Dengan begitu, gizi bukan sekadar program sekolah, melainkan budaya rumah tangga.
Ketiga, pengawasan menjadi sederhana. Guru atau ahli gizi hanya memeriksa apakah bekal sesuai dengan arahan. Tak perlu audit rumit, tak perlu kontrak panjang dengan vendor-vendor yang sulit dijangkau.
Keempat, risiko keracunan masal hampir mustahil. Kalaupun ada masalah, sifatnya sangat lokal—hanya satu keluarga, bukan ratusan siswa sekaligus.
Bukankah ini lebih sehat, lebih sederhana, dan lebih adil?
Lalu mengapa tak ditempuh? Mengapa logika sesederhana ini tak pernah dipertimbangkan? Mengapa negara selalu jatuh cinta pada jalur berliku yang memberi ruang bagi pihak ketiga, birokrasi gemuk, dan potensi korupsi?
Paradoks itu seakan membisikkan jawaban: barangkali, tragedi ini lahir bukan dari kekurangan niat, melainkan dari kelimpahan kepentingan. Bukan karena tak tahu cara sederhana, melainkan karena ada yang diuntungkan dari cara yang rumit sehingga jika bisa dirumitkan kenapa harus disederhanakan?
Dunia paradoks memang begitu: sebuah program bernama Makanan Bergizi Gratis bisa menjelma racun massal; sebuah niat baik bisa melahirkan penderitaan kolektif. Dan lagi-lagi, yang menanggung akibatnya adalah mereka yang paling rapuh: anak-anak.
Kini, kita hanya bisa berharap tragedi ini benar-benar menjadi pelajaran. Bahwa bangsa ini tak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Bahwa makanan anak-anak tak lagi dijadikan proyek yang dipermainkan. Karena tak ada yang lebih ironis daripada sebuah negara yang ingin menyehatkan generasi mudanya, tetapi justru melemahkan mereka dengan lalainya sendiri.
Denpasar, 25 September 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






