Dengarkan Artikel
BUDI ARIE SETIADI UNFOLLOW
oleh ReO Fiksiwan
„Bias kognitif bawaan kita membuat kita rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi oleh mereka yang punya agenda untuk didorong, terutama jika mereka dapat mendiskreditkan semua sumber informasi lainnya.” — Lee McIntyre(63), Post-Truth(2018).
Di zaman ketika satu sentuhan jari bisa lebih menggelegar daripada pidato kenegaraan, Budi Arie Setiadi(56) tampil sebagai tokoh utama dalam drama digital yang tak kalah absurd dari teori relativisme epistemik.
Ia bukan hanya mantan Menteri Komunikasi dan Informatika yang sempat terseret isu judi online dan pinjol, tetapi juga mantan Menteri Koperasi di era Prabowo Subianto(73)—jabatan yang ia emban setelah era Jokowi(64), seolah loyalitas bisa dikemas ulang dalam format .zip dan dikirim lintas rezim. Namun, panggung politik Indonesia selalu punya babak baru.
Dalam reshuffle kabinet pekan silam, Budi Arie ikut diganti bersama empat menteri lainnya. Dan seperti tokoh dalam novel satir, ia tidak memilih refleksi atau klarifikasi, melainkan satu aksi yang mengguncang jagat maya: ia unfollow akun Instagram Presiden Prabowo Subianto.
Netizen pun bersorak, sebagian tertawa, sebagian mencibir, dan sebagian bertanya-tanya: apakah ini bentuk protes, patah hati, atau algoritma yang sedang mencari makna?
Dunia kini yang dijelaskan oleh Alan Sokal(70) dalam Beyond the Hoax, kita hidup di tengah banjir simbol dan narasi yang tak lagi tunduk pada verifikasi.
Sokal mengkritik bagaimana jargon ilmiah dan retorika akademik bisa dipakai untuk membungkus kebohongan, dan dalam konteks ini, gestur Budi Arie menjadi semacam meta-narasi politik: ia tidak bicara, tapi ia mengisyaratkan. Ia tidak mengklarifikasi, tapi ia menghapus.
Dan publik, yang sudah terbiasa hidup dalam lanskap post-truth seperti dijelaskan oleh Lee McIntyre(65) dalam Post-Truth (2018), langsung menafsirkan aksi itu sebagai bentuk kekecewaan, pengkhianatan, bahkan sinyal bahwa ia akan “ngadu ke Solo”—tempat di mana loyalitasnya berakar.
Budi Arie adalah produk dari zaman di mana loyalitas politik bisa lebih kuat daripada etika jabatan.
Ia dikenal sebagai bagian dari “geng Solo”, lingkaran relawan Jokowi yang tak hanya mendukung, tapi juga menjaga warisan politik sang presiden ketujuh.
📚 Artikel Terkait
Ketika ia diangkat oleh Prabowo, banyak yang melihatnya sebagai jembatan antara dua era. Tapi ketika jembatan itu runtuh, ia memilih unfollow, bukan membangun ulang.
Dalam dunia yang rasional, tindakan seperti ini mungkin dianggap remeh.
Tapi dalam dunia yang telah kehilangan batas antara fakta dan opini, antara gestur dan substansi, unfollow adalah pernyataan politik.
Ia lebih viral daripada program koperasi, lebih dibahas daripada laporan audit, dan lebih ditafsirkan daripada pidato reshuffle.
Bahkan Mahfud MD(68) menyebut reshuffle ini sebagai “pintu yang dibuka” untuk menuntaskan kasus judol yang sempat menyeret nama Budi Arie.
Maka, kita bertanya: apakah politik kini telah menjadi panggung performatif, di mana tindakan kecil bisa menjadi simbol besar?
Apakah keadilan dan akuntabilitas masih punya tempat, atau sudah digantikan oleh algoritma dan gestur digital?
Dalam dunia yang dijelaskan oleh Sokal dan McIntyre, kebenaran bukan lagi soal bukti, tapi soal siapa yang paling viral.
Dan Budi Arie, dengan satu sentuhan jari, telah membuktikan bahwa dalam politik Indonesia, bahkan unfollow bisa menjadi headline.
#coversongs: „Under Pressure” adalah lagu kolaborasi legendaris antara Freddie Mercury (vokalis Queen) dan David Bowie, yang pertama kali dirilis pada tahun 1981. Lagu ini muncul sebagai single dan kemudian dimasukkan dalam album Greatest Hits milik Queen.
Lagu ini menggambarkan tekanan hidup yang menindas manusia dalam berbagai bentuk—baik tekanan ekonomi, sosial, maupun emosional. Liriknya menyentuh tema:
Kecemasan dan stres yang bisa menghancurkan kehidupan sehari-hari: “Pressure pushing down on me / Pressing down on you, no man ask for”
Ketidakadilan sosial, seperti keluarga yang terpecah dan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal: “Splits a family in two / Puts people on streets”
Ketakutan akan realitas dunia yang keras dan tidak adil: “It’s the terror of knowing what this world is about.“
Namun, menyampaikan harapan dan kekuatan cinta sebagai solusi: “Love dares you to care for the people on the edge of the night.“
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





