POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Budi Arie Setiadi Unfollow

RedaksiOleh Redaksi
September 15, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

BUDI ARIE SETIADI UNFOLLOW

oleh ReO Fiksiwan 

„Bias kognitif bawaan kita membuat kita rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi oleh mereka yang punya agenda untuk didorong, terutama jika mereka dapat mendiskreditkan semua sumber informasi lainnya.” — Lee McIntyre(63), Post-Truth(2018).

Di zaman ketika satu sentuhan jari bisa lebih menggelegar daripada pidato kenegaraan, Budi Arie Setiadi(56) tampil sebagai tokoh utama dalam drama digital yang tak kalah absurd dari teori relativisme epistemik. 

Ia bukan hanya mantan Menteri Komunikasi dan Informatika yang sempat terseret isu judi online dan pinjol, tetapi juga mantan Menteri Koperasi di era Prabowo Subianto(73)—jabatan yang ia emban setelah era Jokowi(64), seolah loyalitas bisa dikemas ulang dalam format .zip dan dikirim lintas rezim. Namun, panggung politik Indonesia selalu punya babak baru. 

Dalam reshuffle kabinet pekan silam, Budi Arie ikut diganti bersama empat menteri lainnya. Dan seperti tokoh dalam novel satir, ia tidak memilih refleksi atau klarifikasi, melainkan satu aksi yang mengguncang jagat maya: ia unfollow akun Instagram Presiden Prabowo Subianto. 

Netizen pun bersorak, sebagian tertawa, sebagian mencibir, dan sebagian bertanya-tanya: apakah ini bentuk protes, patah hati, atau algoritma yang sedang mencari makna?

Dunia kini yang dijelaskan oleh Alan Sokal(70) dalam Beyond the Hoax, kita hidup di tengah banjir simbol dan narasi yang tak lagi tunduk pada verifikasi. 

Sokal mengkritik bagaimana jargon ilmiah dan retorika akademik bisa dipakai untuk membungkus kebohongan, dan dalam konteks ini, gestur Budi Arie menjadi semacam meta-narasi politik: ia tidak bicara, tapi ia mengisyaratkan. Ia tidak mengklarifikasi, tapi ia menghapus. 

Dan publik, yang sudah terbiasa hidup dalam lanskap post-truth seperti dijelaskan oleh Lee McIntyre(65) dalam  Post-Truth (2018), langsung menafsirkan aksi itu sebagai bentuk kekecewaan, pengkhianatan, bahkan sinyal bahwa ia akan “ngadu ke Solo”—tempat di mana loyalitasnya berakar.

Budi Arie adalah produk dari zaman di mana loyalitas politik bisa lebih kuat daripada etika jabatan. 

Ia dikenal sebagai bagian dari “geng Solo”, lingkaran relawan Jokowi yang tak hanya mendukung, tapi juga menjaga warisan politik sang presiden ketujuh.

📚 Artikel Terkait

Berkat Sebuah Kejujuran

Doa Seorang Ayah yang Tenggelam di Balik Dinding Pesantren

Sungai Yang Meminta Kedatangan

Cegah Stunting, Cabdindik Subulussam – Singkil Koloborasi dengan Tim Dinas Kesehatan

Ketika ia diangkat oleh Prabowo, banyak yang melihatnya sebagai jembatan antara dua era. Tapi ketika jembatan itu runtuh, ia memilih unfollow, bukan membangun ulang.

Dalam dunia yang rasional, tindakan seperti ini mungkin dianggap remeh. 

Tapi dalam dunia yang telah kehilangan batas antara fakta dan opini, antara gestur dan substansi, unfollow adalah pernyataan politik. 

Ia lebih viral daripada program koperasi, lebih dibahas daripada laporan audit, dan lebih ditafsirkan daripada pidato reshuffle. 

Bahkan Mahfud MD(68) menyebut reshuffle ini sebagai “pintu yang dibuka” untuk menuntaskan kasus judol yang sempat menyeret nama Budi Arie.

Maka, kita bertanya: apakah politik kini telah menjadi panggung performatif, di mana tindakan kecil bisa menjadi simbol besar? 

Apakah keadilan dan akuntabilitas masih punya tempat, atau sudah digantikan oleh algoritma dan gestur digital? 

Dalam dunia yang dijelaskan oleh Sokal dan McIntyre, kebenaran bukan lagi soal bukti, tapi soal siapa yang paling viral.

Dan Budi Arie, dengan satu sentuhan jari, telah membuktikan bahwa dalam politik Indonesia, bahkan unfollow bisa menjadi headline.

#coversongs: „Under Pressure” adalah lagu kolaborasi legendaris antara Freddie Mercury (vokalis Queen) dan David Bowie, yang pertama kali dirilis pada tahun 1981. Lagu ini muncul sebagai single dan kemudian dimasukkan dalam album Greatest Hits milik Queen. 

Lagu ini menggambarkan tekanan hidup yang menindas manusia dalam berbagai bentuk—baik tekanan ekonomi, sosial, maupun emosional. Liriknya menyentuh tema:

Kecemasan dan stres yang bisa menghancurkan kehidupan sehari-hari: “Pressure pushing down on me / Pressing down on you, no man ask for”

Ketidakadilan sosial, seperti keluarga yang terpecah dan orang-orang yang kehilangan tempat tinggal: “Splits a family in two / Puts people on streets”

Ketakutan akan realitas dunia yang keras dan tidak adil: “It’s the terror of knowing what this world is about.“ 

Namun, menyampaikan harapan dan kekuatan cinta sebagai solusi: “Love dares you to care for the people on the edge of the night.“

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Pamer Kemewahan Berujung Nestapa

Pamer Kemewahan Berujung Nestapa

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00