Dengarkan Artikel
Oleh Siti Hajar
Kemarin aku mengikuti Pertemuan Grup Seniman Aceh. Ada banyak hal yang dibicarakan, tapi ada satu pernyataan yang terus menggelitik pikiranku: hari ini ruang seni dan budaya sudah tidak lagi diminati, terutama oleh anak-anak muda.
Di suratkabar kita tak lagi menemukan kolom sastra, tidak terbaca lagioleh kita cerpen, syair dan puisi. Panggung seni makin sepi, bahkan acara budaya sering hanya menjadi agenda formalitas semata. Pertanyaannya sederhana: mengapa bisa begitu?
Menurut salah satu peserta, jawabannya juga sederhana—tapi menohok. Seni dan budaya tidak lagi dilirik karena tidak lagi menarik. Bukan karena hilang nilainya, melainkan karena kemasannya yang terasa usang. Kita masih memperkenalkan seni dengan cara lama, sementara dunia sudah bergerak cepat. Dan ternyata, persoalan ini bukan hanya milik Aceh atau Indonesia, melainkan juga dialami oleh negara jiran kita, Malaysia, Singapura, hingga Thailand.
Dalam kehidupan masyarakat Aceh, seni selalu hadir sebagai denyut yang menyatu dengan budaya sehari-hari. Ia bukan sekadar tontonan yang indah, melainkan juga bahasa ekspresi yang menyimpan rasa dan makna. Dari syair yang dilantunkan dengan penuh penghayatan, hikayat yang diwariskan turun-temurun, hingga tarian yang digerakkan dengan irama tubuh, semua menjadi cermin keindahan sekaligus kebijaksanaan orang Aceh dalam memaknai hidup.
Namun seni di Aceh tidak berhenti pada keindahan semata. Ia menjadi ruang pendidikan dan dakwah yang halus, mengajarkan nilai-nilai agama dan moral melalui lantunan syair dan tabuhan rapa’i yang menggetarkan hati. Sejak lama, seni juga menjadi alat perjuangan, menyemangati rakyat untuk bangkit melawan penjajahan dan meneguhkan identitas mereka.
Kehadiran seni dalam berbagai acara adat, kenduri, hingga penyambutan tamu menjadikannya perekat sosial yang menguatkan rasa kebersamaan.
Lebih jauh lagi, seni adalah penyimpan memori kolektif. Kisah kepahlawanan, sejarah perjuangan, dan nasihat leluhur tidak hanya ditulis dalam buku, melainkan hidup dalam pantun, hikayat, dan lagu rakyat yang terus diwariskan.
Di situlah seni berfungsi menjaga ingatan bersama, agar generasi Aceh tidak tercerabut dari akar budayanya. Maka, berbicara tentang seni di Aceh sesungguhnya berbicara tentang jiwa yang tak pernah padam, tentang identitas yang tetap hidup meski zaman berganti.
Aku termenung. Benarkah seni budaya sudah kehilangan pesonanya? Atau jangan-jangan kita sendiri yang gagal merawat nyalanya agar tetap hangat di hati generasi baru? Sebab kalau mau jujur, anak-anak muda sebenarnya tidak pernah benar-benar meninggalkan seni. Mereka masih menulis puisi, hanya saja diunggah ke Instagram, status whatsapp dengan visual yang rapi dan menarik. Mereka masih memainkan teater, tapi dalam bentuk monolog singkat yang viral di Youtube atau TikTok. Mereka masih mendengar musik tradisional, berbagai gubahan syair terdengar pada dalail khairat di bale-bale beut (balai pengajian).
📚 Artikel Terkait
Seni dan budaya itu ibarat api. Apinya tidak padam, hanya wadahnya yang berubah. Kalau dulu ia menyala di koran, panggung, atau sanggar yang selalu dinanti biasanya keluar di akhir pekan, tetapi kini ia muncul di layar ponsel, di podcast, di konten digital yang bisa menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik.
Kalau dulu kita mengenal budaya tutur berupa syair seperti hikayat prang sabi, do da idi yang diwariskan dari mulut ke mulut. Banyak di antaranya kita bahkan tak tahu siapa pengarangnya, siapa yang mempopulerkannya, atau kapan syair itu diciptakan. Syair hidup bukan karena nama, tapi karena ia dibutuhkan dan dirasakan Masyarakat in menjadi denyut nadi bagi ureung Aceh terutama di kampung-kampung.
Ironisnya, hari ini justru terbalik. Kita punya banyak penulis, tapi sedikit pembaca. Kita punya banyak buku, tapi sedikit yang benar-benar dibuka dan ditelaah. Seolah-olah gudang kita penuh cahaya, namun lampunya enggan kita nyalakan.
Bagaimana kita berharap anak-anak kita dekat dengan buku, memperoleh banyak wawasan dan ilmu pengetahuan melalui gerakan membaca, sementara -kita- orang tua mereka, setahun tidak tamat lima buah buku.
Setidaknya hari ini kita bisa mulai dari kita sendiri, untuk lebih rajin membaca untuk diri sendiri dan membaca kepada kepada anak-anak kita dengan suara nyaring dan penuh khidmat, sehingga benar-benar memahami makna dari apa yang kita baca.
Di Aceh, seni dan budaya punya harta yang tak terhitung. Dari syair, hikayat, hingga tarian sarat makna. Sayang rasanya jika semua ini hanya disimpan dengan cara lama, lalu perlahan hilang dari pandangan generasi mendatang. Sebab setiap karya seni adalah cerita, dan setiap cerita selalu punya jalan untuk menemukan pendengarnya—asal kita berani meramu ulang cara menyampaikannya.
Bagian lain dari hikayat dan syair-syair, di Aceh kita mengenal hadih maja (kata-kata nasihat) orang tua yang penuh makna. Ada hiem (teka-teki), ada haba peu-aliet (kata-kata kiasan), haba khem, haba beurakah (berupa kata-kata candaan/kelakar).
Bahkan hari ini saat kita mencari di google atau Chat GPT hanya sedikit informasi yang bisa didapat tentang ini. Tentu ini tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tentu akan menjadi PR besar. Namun, jika kita, para seniman Aceh, mau duduk bersama, berpikir bersama, lalu bergerak bersama, jalan ini pasti terasa lebih ringan.
Aceh punya banyak ruang untuk itu. Ada panggung yang bisa dihidupkan kembali, ada media cetak yang masih beredar, dan ada media online yang bisa menjadi rumah baru. Beberapa di antaranya adalah potretonline.com, portalsatu.com dan sitihajarinspiring.com yang dapat menjadi wadah untuk tulisan, karya, dan gagasan agar seni budaya tetap bergema.
Seni adalah keberanian untuk terus hidup, bukan hanya dalam kenangan, tapi dalam denyut zaman. Dan mungkin, hari ini adalah saat yang tepat untuk kita menyalakan apinya kembali.
Kelak, mungkin seratus tahun dari sekarang, orang-orang juga akan bertanya: siapa yang pertama kali menyuarakan keresahan ini? Siapa yang memulai? Kita tak perlu tahu jawabannya. Yang penting, api seni itu tetap menyala—meski berganti wadah, meski berpindah zaman.
Api itu kini ada di tangan kita. Jangan biarkan ia padam. Terus hidup, terus bertumbuh, seni dan budaya Aceh adalah warisan yang tak terganti! []
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






