Dengarkan Artikel
Oleh Feri Irawan
Kita sering merasa merdeka karena bisa memilih makanan sendiri. Dan pula, ragam makanan di negeri kita telah semakin kaya. Sementara, makanan-minuman bermerek luasan jagat pun telah menyerbu tanah air sejak lama. Di setiap kota telah berdiri restoran cepat saji, semerek dengan yang ada di Amerika. Kita telah memakan (merek) apa yang orang Amerika makan. Kita telah meminum (merek) apa yang orang Jepang minum. Kita telah setara dengan orang-orang barat dan timur sana, telah sama-sama makan-minum merek dan karenanya kita merasa berderajat sama dengan mereka.
Anak-anak kita lebih hafal nama jajanan kemasan ketimbang nama sayur yang tumbuh di pekarangan. Mereka bangga membawa roti bermerk ke sekolah, tapi malu kalau bekalnya singkong rebus. Lidah kita sudah dipisahkan dari tanahnya.
Dulu, selera dibentuk oleh musim. Musim jagung, kita makan jagung. Musim ketela, kita kenyang dengan ketela. Semua mengikuti irama bumi. Sekarang, selera dibentuk oleh iklan. Apa yang muncul di layar, itulah yang kita cari di warung.
Kita telah lama tersesat di perkeliruan soal rasa. Kita terjebak merek, terperangkap cap, dimangsa iklan, dan habis-habisan diperas pabrik-pabrik. Kita telah lama membeli bungkusan yang rapi, gambar-gambar menarik, dan wajah-wajah cetakan TV. Yang kita perhatikan ialah pesohor mana memakan apa, bukan makanan apa mengandung gizi bagaimana. Yang kita beli sering kali cangkang, bukan isinya.
📚 Artikel Terkait
Mulut-mulut bangsa kita ialah giuran yang luar biasa, yang melelehkan liur para pedagang raksasa. Hasrat mereka menaik melihat 250 juta lebih orang Indonesia. Rupiah demi rupiah mereka incar dari setiap makanan yang mereka buat.
Perut kita ialah industri besar, lidah kita ialah pasar utama, mulut kita ialah arena niaga raksasa. Kita membengkak, terus bertumbuh bersama bahan pengawet, pelezat kimia, zat pewarna, dan segala jenis bahan tak ramah. Anak-anak telah terbiasa dengan serbakemasan. Telah terbuai dalam bungkusan. Lelap amat sangat, bermimpi bersama iklan. Cita-cita mereka telah diawetkan dan kealamian telah menjadi asing.
Inilah kolonialisme pangan yang paling halus menjajah tanpa paksa, hanya dengan membuat kita percaya bahwa apa yang kita punya tidak cukup. Bahwa yang sederhana tidak pantas. Bahwa yang tumbuh di tanah sendiri kalah dibanding yang datang dengan merek dan kemasan.
Kita tidak lagi lapar pada makanan, tapi lapar pada citra. Dan pada saat itulah, kita benar-benar dijajah.
Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb, Kabupaten Bireun, Aceh
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






