• Latest
Ketika Lidah Dipisahkan dari Tanahnya

Ketika Lidah Dipisahkan dari Tanahnya

September 7, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Lidah Dipisahkan dari Tanahnya

Feri Irawanby Feri Irawan
September 7, 2025
Reading Time: 2 mins read
Ketika Lidah Dipisahkan dari Tanahnya
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Feri Irawan

Kita sering merasa merdeka karena bisa memilih makanan sendiri. Dan pula, ragam makanan di negeri kita telah semakin kaya. Sementara, makanan-minuman bermerek luasan jagat pun telah menyerbu tanah air sejak lama. Di setiap kota telah berdiri restoran cepat saji, semerek dengan yang ada di Amerika. Kita telah memakan (merek) apa yang orang Amerika makan. Kita telah meminum (merek) apa yang orang Jepang minum. Kita telah setara dengan orang-orang barat dan timur sana, telah sama-sama makan-minum merek dan karenanya kita merasa berderajat sama dengan mereka. 

Anak-anak kita lebih hafal nama jajanan kemasan ketimbang nama sayur yang tumbuh di pekarangan. Mereka bangga membawa roti bermerk ke sekolah, tapi malu kalau bekalnya singkong rebus. Lidah kita sudah dipisahkan dari tanahnya.

Dulu, selera dibentuk oleh musim. Musim jagung, kita makan jagung. Musim ketela, kita kenyang dengan ketela. Semua mengikuti irama bumi. Sekarang, selera dibentuk oleh iklan. Apa yang muncul di layar, itulah yang kita cari di warung.

Kita telah lama tersesat di perkeliruan soal rasa. Kita terjebak merek, terperangkap cap, dimangsa iklan, dan habis-habisan diperas pabrik-pabrik. Kita telah lama membeli bungkusan yang rapi, gambar-gambar menarik, dan wajah-wajah cetakan TV. Yang kita perhatikan ialah pesohor mana memakan apa, bukan makanan apa mengandung gizi bagaimana. Yang kita beli sering kali cangkang, bukan isinya.

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Mulut-mulut bangsa kita ialah giuran yang luar biasa, yang melelehkan liur para pedagang raksasa. Hasrat mereka menaik melihat 250 juta lebih orang Indonesia. Rupiah demi rupiah mereka incar dari setiap makanan yang mereka buat. 

Perut kita ialah industri besar, lidah kita ialah pasar utama, mulut kita ialah arena niaga raksasa. Kita membengkak, terus bertumbuh bersama bahan pengawet, pelezat kimia, zat pewarna, dan segala jenis bahan tak ramah. Anak-anak telah terbiasa dengan serbakemasan. Telah terbuai dalam bungkusan. Lelap amat sangat, bermimpi bersama iklan. Cita-cita mereka telah diawetkan dan kealamian telah menjadi asing.

Inilah kolonialisme pangan yang paling halus menjajah tanpa paksa, hanya dengan membuat kita percaya bahwa apa yang kita punya tidak cukup. Bahwa yang sederhana tidak pantas. Bahwa yang tumbuh di tanah sendiri kalah dibanding yang datang dengan merek dan kemasan.

Kita tidak lagi lapar pada makanan, tapi lapar pada citra. Dan pada saat itulah, kita benar-benar dijajah.

Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb, Kabupaten Bireun, Aceh 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Puisi-Puisi Sigit Prasojo

Jejak Luka di Jalan Binatang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com