POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Belajar dari Kejujuran Rakyat Kecil

RedaksiOleh Redaksi
September 6, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Novita Sari Yahya

Ketika membaca kisah seorang ibu yang mengembalikan jam tangan mewah milik Ahmad Sahroni senilai Rp11 Miliar yang diambil anak remajanya saat penjarahan di rumah Sahroni pada 30 Agustus 2025, serta seorang pria yang mengumpulkan barang-barang berserakan di jalanan dari rumah Sri Mulyani dan mengembalikannya, saya tersentuh. Kisah ini mengajarkan banyak hal tentang kehidupan Marhaen dan makna kejujuran bagi rakyat kecil.

Marhaen: Simbol Rakyat Kecil

Istilah “Marhaen” diciptakan Soekarno untuk menyebut rakyat kecil, terinspirasi dari percakapannya dengan seorang petani penggarap. Marhaen mewakili kelompok terbesar dalam piramida masyarakat Indonesia, seperti petani, nelayan, pedagang kecil, dan buruh. Mereka adalah pekerja keras yang bangun pagi, berkeringat di bawah terik matahari di sawah atau laut, dan berjuang di tengah hujan untuk menjajakan dagangan di jalanan.

Berbicara tentang Marhaen membuat hati saya terenyuh. Para pendiri bangsa berjuang untuk mensejahterakan kelompok ini, namun kenyataannya, Marhaen sering kali menjadi kelompok terpinggirkan dalam kebijakan negara. Dominasi kapitalisme dan penguasaan sumber daya oleh segelintir pihak membuat mereka terus tertindas.

Pandangan Pendiri Bangsa tentang Marhaenisme

Marhaenisme, konsep yang dikembangkan Soekarno, menggabungkan nasionalisme, sosialisme, dan semangat gotong royong untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Berikut pandangan para tokoh pendiri bangsa:

Soekarno: Melihat marhaen sebagai simbol rakyat kecil yang harus dibebaskan melalui Marhaenisme, kombinasi nasionalisme dan sosialisme. Dalam Di Bawah Bendera Revolusi (1959), ia menyatakan, “Rakyat Marhaen harus jujur dan tulus, karena itulah yang membedakan kita dari penjajah yang licik.”

– Mohammad Hatta: Menekankan pemberdayaan Marhaen melalui koperasi dan ekonomi kolektif. Dalam pidato pada Kongres Pemuda 1928, Hatta berkata, “Kejujuran rakyat kecil adalah modal utama bangsa merdeka; tanpa itu, kemerdekaan hanyalah ilusi.”

– Sutan Sjahrir: Berfokus pada pendidikan dan modernisasi untuk memajukan Marhaen. Dalam Out of Exile (1949), ia menulis, “Rakyat Marhaen harus belajar kejujuran dari pengalaman penjara Belanda; itu satu-satunya cara menghadapi diplomasi licik.”

– Tan Malaka: Melihat Marhaen sebagai kekuatan revolusioner. Dalam Madilog (1943), ia menyatakan, “Kejujuran rakyat Marhaen adalah dialektika materialis yang melawan idealisme kosong dan membangun republik.

📚 Artikel Terkait

Republik Palato

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Refleksi Tentang Pemuda: Dari Rengasdengklok ke Ruang Rapat Ormas

‎Menonton “RRI Fest 2025”,  Benteng Terakhir, Pelindung Gempuran Serangan Budaya Global 

Marhaenisme dan Konsep Gotong Royong

Marhaenisme menekankan pentingnya gotong royong dalam menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Gotong royong diartikan sebagai kerja sama dan saling membantu untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks Marhaenisme, gotong royong merupakan salah satu pilar utama dalam membangun masyarakat yang adil dan makmur.

Pelajaran dari Kejujuran Marhaen

Kisah ibu dan pria yang mengembalikan barang curian menggambarkan nilai malu dan batasan yang kini hilang dari banyak pejabat. Pejabat yang korup atau memamerkan kekayaan seharusnya malu, belajar dari Marhaen yang hidup sederhana, bekerja keras, dan menjunjung etika.

Mari kita renungkan kutipan Tan Malaka: 

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Kesimpulan

Keempat tokoh pendiri bangsa sepakat bahwa kejujuran Marhaen adalah nilai inti perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Soekarno menekankan nasionalisme idealis, Hatta berfokus pada ekonomi praktis, Sjahrir pada rasionalitas diplomatis, dan Tan Malaka pada revolusi radikal. Nilai-nilai ini relevan dalam diskusi anti-korupsi saat ini. Marhaen mengajarkan kita tentang hidup sederhana, kerja keras, dan etika.

*Tentang Penulis*

Novita Sari Yahya adalah penulis dan peneliti. Buku-bukunya meliputi:

– Romansa Cinta

– Padusi: Alam Takambang Jadi Guru

– Novita & Kebangsaan

– Makna di Setiap Rasa: Antologi 100 Puisi Bersertifikat Lomba Nasional dan Internasional

– Siluet Cinta, Pelangi Rindu

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Di balik Berita

Kekuasaan di Balik Kata: Mempengaruhi Opini Publik dan Mengubah Sejarah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00