Dengarkan Artikel
Oleh Rahmat Firman Hafrizal
Di tengah kota kolaborasi, dalam kerumunan makhluk sosial, aku duduk sambil meneguk segelas kopi pahit khas Aceh. Berbicara banyak hal dengan teman seperjuanganku, membahas berbagai isu panas yang baru-baru ini terjadi di bumi Indonesia, mulai dari isu politik, sosial, anarkisme, sampai bagaimana menciptakan pendidikan yang efektif pun kami bicarakan.
Ya, pendidikan. Pendidikan yang tidak lagi feodal, pengajar yang tertindas karena gaji yang kurang pantas, kesejahteraan guru dan segala macam permasalahan di dalamnya. Hematnya itu yang coba kami diskusikan.
Namun seketika aku tersentak oleh wanita paruh baya yang tiba-tiba berhadapan lurus denganku. Wanita yang mungkin umurnya sudah menyentuh setengah abad lebih. Sambil menenteng sebuah alat musik dan keranjang kecil, wanita tua itu bernyanyi, berupaya menghibur kerumunan yang ada di dekatnya.
Lalu aku menghela nafas panjang dengan dilanjutkan mengambil sebatang rokok legal yang cukainya sudah lumayan mahal. Perlahan aku menghisap dan berfikir, betapa kasihannya wanita setua itu harus menjalani kehidupan demikian, hanya untuk makan esok hari. Kenapa hal seperti ini masih juga belum selesai di umur negara yang sudah hampir satu abad? Mengapa hal seperti ini pula masih ada di tengah glamournya kota kolaborasi saat ini?
📚 Artikel Terkait
Tidak lama aku kembali dikagetkan oleh salah satu temanku yang mengetuk pundakku pelan, dengan nada kecil dan sidikit menahan tangis ia berbicara “dimana keadilan sosial itu? Mengapa masih ada wanita setua itu yang menjalankan hari tuanya dengan cara begitu?, Apakah membeli mobil dinas yang mahal lebih penting dari pada melihat wanita tua itu bisa kenyang di esok hari?” Sontak aku langsung menatap temanku pelan, sambil menyeruput lagi kopi yang mulai dingin di depanku.
“Begitulah, terkadang kita punya banyak konsep sebelum kita menjadi pemimpin, namun gampang lupa ketika kita memimpin,” ucapku santai, seakan hal seperti ini sudah sangat sering terjadi.
Begitulah demokrasi berjalan, demokrasi tidak seutuhnya akan melahirkan sosok pemimpin yang memang bisa memimpin, sering orang yang tak paham kerap menduduki jabataan penting itu, yang dampaknya dirasakan oleh banyak kalangan proletar. Ini tentu menjadi salah satu cabang, atau bahkan akar dari masalah mengapa keadilan sosial tidak dirasakan oleh semua orang.
Kemudian ada satu hal lain yang kiranya perlu ada dari seorang pemimpin yang bodoh dalam memimpin sekalipun, ialah rasa kemanusiaan. Mereka lebih memikirkan perut rakyat dari pada membeli mobil dinas mewah contohnya.
Tahun 1789-1799 di Perancis, itu menjadi pembelajaran bagi seluruh manusia, bahwasanya penting bagi seluruh pemimpin untuk peduli terhadap rakyat, memiliki rasa kemanusiaan dan bisa terus membangun untuk keberlangsungan rakyat. bukan hanya omong belaka, tapi juga harus ada bentuk implementasi nyata.
Tak terasa waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul satu pagi, bergegas aku menghabiskan kopi yang hanya tersisa sedikit lagi, dan sebelum kami beranjak, temanku berjalan ke arah wanita paruh baya itu, mengambil beberapa rupiah di kantong jeans belakang, lalu memberikannya kepada wanita itu sambil tersenyum dan berkata “sehat-sehat ibu” dan wanita itupun tersenyum tipis dengan kerutan di ujung bibirnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






