• Latest
Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1) - 329ca3ea 319d 4ee5 92f4 202eeee5c6e3 | Konflik | Potret Online

Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1)

Maret 18, 2025
06d8027d-a2d7-42d1-a3d1-ad2fe9ddf489

Hari Ini Gubernur Kaltim akan Dilengserkan Rakyatnya, is Apakah Berhasil?

April 22, 2026
Pendidikan SD

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;Kartini Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1) - 1001348646_11zon | Konflik | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1) - 1001353319_11zon | Konflik | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1)

Redaksi by Redaksi
Maret 18, 2025
in Konflik, Pandemi
Reading Time: 4 mins read
0
Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1) - 329ca3ea 319d 4ee5 92f4 202eeee5c6e3 | Konflik | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Paulus Laratmase)*

Papua, sebuah provinsi di ujung timur Indonesia, selalu menjadi sorotan dalam wacana politik dan keamanan nasional. Sejak integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1969, wilayah ini telah mengalami ketegangan dan konflik yang tak kunjung selesai. Keadaan yang kini dikenal dengan istilah “Papua tidak sedangbaik-baik saja” menggambarkan kondisi yang semakin memprihatinkan. 

Baca Juga
  • Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott
  • Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Konflik ideologi antara perjuangan kemerdekaan oleh kelompok separatis dan upaya pemerintah Indonesia untuk menjaga integritas NKRI terus mewarnai dinamika di sana.

Masyarakat sipil, aparat keamanan seperti TNI dan Polri, serta infrastruktur yang telah dibangun selama bertahun-tahun menjadi sasaran dari kekerasan dan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok yang kini dikenal dengan sebutan Kelompok Separatis Teroris Papua (KSTP).

Baca Juga
  • Empat Pulau yang Dikhianati
  • EMPAT PULAU SIAPA PUNYA: ACEH ATAU SUMATERA UTARA?

Pada tahun 2021, perubahan penyebutan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menjadi KSTP memunculkan berbagai diskusi dan pandangan mengenai politik keamanan di Papua. Apakah langkah ini merupakan upaya yang  tepat untuk menangani kelompok yang berjuang demi kemerdekaan Papua, atau justru memperburuk situasi dengan menambah ketegangan dan memperkuat polarisasi?

Artikel ini mengkaji pandangan dan respons yang muncul seputar perubahan label tersebut, serta dampaknya terhadap kondisi keamanan, kebijakan pemerintah, dan persepsi internasional terhadap situasi di Papua.

Baca Juga
  • Dunia dalam Eskalasi: Ketika Rakyat Menjadi Korban Ambisi Para Penguasa
  • Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Mengapa Label KSTP Penting?

Perubahan label dari KKB menjadi KSTP, yang diumumkan oleh pemerintah Indonesia, telah memicu reaksi beragam. Bagi sebagian pihak, perubahan ini dilihat sebagai langkah untuk memperjelas posisi dan tindakan yang perlu diambil oleh aparat negara terhadap kelompok separatis. Label “teroris” memberikan landasan yang lebih kuat bagi TNI/Polri untuk bertindak, dengan dukungan legitimasi dari berbagai pihak, termasuk DPR RI. Namun, bagi mereka yang berada di pihak separatis, perubahan ini tidak mengubah esensi perjuangan mereka. Bagi mereka, tujuan akhir tetaplah kemerdekaan Papua, dan label apa pun yang diberikan oleh negara tidak akan menghentikan ideologi yang telah mereka anut selama ini.

Sebagian kalangan melihat bahwa kelompok separatis ini bukan sekadar melakukan tindakan kekerasan tanpa tujuan, melainkan berjuang untuk keadilan dan pengakuan atas hak-hak mereka sebagai masyarakat Papua yang merasa terpinggirkan dan tidak dihargai oleh negara. Kekecewaan terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat Papua, serta dominasi orang luar Papua dalam berbagai sektor kehidupan, memperburuk hubungan antara orang Papua dengan negara Indonesia. Dalam pandangan mereka, perjuangan merdeka adalah jalan yang sah untuk memperoleh hak dan keadilan yang selama ini terabaikan.

Ancaman Keamanan di Papua: TNI/Polri vs. Masyarakat Sipil

Ketegangan yang berlangsung di Papua tidak hanya berdampak pada aparat keamanan (TNI/Polri), tetapi juga pada masyarakat sipil. Kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis, yang sering melibatkan tindakan pembunuhan, pemerkosaan, dan perusakan, telah menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat di daerah-daerah terpencil. 

Namun, ancaman terhadap masyarakat sipil juga muncul akibat adanya ketegangan ideologi yang mendalam antara orang Papua dan pendatang luar. Keberadaan migran yang mendominasi ekonomi dan birokrasi di Papua, serta ketimpangan sosial yang terjadi, menjadi sumber ketegangan. Bagi sebagian masyarakat Papua, orang-orang yang datang dari luar daerah dianggap sebagai pihak yang memanfaatkan kekayaan alam Papua tanpa memberikan manfaat yang berarti bagi kesejahteraan rakyat asli Papua.

Oleh karena itu, ancaman tidak hanya berfokus pada TNI/Polri, tetapi juga pada orang luar yang tinggal di Papua, yang jika tidak mampu beradaptasi dengan budaya dan masyarakat setempat, berisiko menjadi korban.

Motivasi Di balik Perubahan Label KKB ke KSTP

Perubahan label ini tidak hanya terkait dengan langkah-langkah keamanan, tetapi juga dengan motif politik yang lebih besar. Pemerintah Indonesia, melalui Menkopolhukam, berpendapat bahwa perubahan ini memberikan legitimasi yang lebih kuat bagi TNI/Polri untuk bertindak secara lebih efektif dalam mengatasi kelompok separatis. Namun, banyak pihak yang berpendapat bahwa hal ini tidak akan menyelesaikan persoalan mendalam yang ada di Papua. Perjuangan untuk kemerdekaan bukanlah masalah yang dapat diselesaikan dengan perubahan label atau tindakan represif semata.

Bagi kelompok separatis, perjuangan mereka sudah menjadi bagian dari identitas dan keyakinan ideologis mereka. Sebuah label, baik itu KKB atau KSTP, tidak akan menghentikan perjuangan tersebut, yang bahkan bisa semakin mengakar dan berkembang di kalangan generasi muda Papua.

Pendekatan yang Diperlukan untuk Menyelesaikan Konflik

Konflik di Papua tidak akan selesai dengan hanya mengubah label atau dengan langkah-langkah keamanan yang represif. Sebuah pendekatan yang lebih holistik, yang melibatkan dialog terbuka dan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi sosial, politik, dan ekonomi di Papua, diperlukan untuk menemukan solusi yang berkelanjutan. Meskipun perubahan label menjadi KSTP memberi ruang bagi pemerintah dan aparat keamanan untuk lebih leluasa bertindak, hal ini juga memperburuk hubungan dengan kelompok separatis dan meningkatkan ketegangan di lapangan.

Dalam konteks ini, kebijakan yang lebih inklusif dan berbasis pada penghargaan terhadap hak-hak orang Papua serta keberagaman ideologi mereka harus menjadi bagian dari solusi jangka panjang yang dapat menciptakan perdamaian dan stabilitas di Papua.

*)Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia, Tinggal di Biak Provinsi Papua

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Framing Politik Penetapan Separatis Teroris di Papua oleh Pemerintah Sejak 2021: Antara Konflik, Ideologi, dan Keamanan Nasional (1) - 96702e2a 05af 4cbb 87f6 21959e7921a5 | Konflik | Potret Online

Ziarah Kubur Untuk Memperoleh Kenyamanan dan Ketenteraman Batin

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com