• Latest
Jangan Lupakan Sejarah - 2025 07 04 11 58 30 | Konflik | Potret Online

Jangan Lupakan Sejarah

Juli 8, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Jangan Lupakan Sejarah - 1001348646_11zon | Konflik | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Jangan Lupakan Sejarah - 1001353319_11zon | Konflik | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Jangan Lupakan Sejarah - 1001361361_11zon | Konflik | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Jangan Lupakan Sejarah

Redaksi by Redaksi
Juli 8, 2025
in Konflik, Sejarah
Reading Time: 4 mins read
0
Jangan Lupakan Sejarah - 2025 07 04 11 58 30 | Konflik | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rika Maina Sari Dachi

Masih sangat jelas terbayang di ingatanku, ketika aku mengikuti sebuah kegiatan “bedah buku” di minggu yang telah berlalu. “Jangan Lupakan Sejarah” Kata-kata ini mempunyai makna yang sangat dalam. Awalnnya terdengar sederhana , tetapi mampu menyentuh jiwa-jiwa yang pernah melewati kisahnnya.

Ada apa dengan SEJARAH…?

Baca Juga
  • Belajarlah ke Barat, Jadilah Murid Cerdas dari Timur
  • Naskah Wangsakerta: Pusaran Kontroversi Sejarah dan Jejak Gotra Sawala

Sejarah adalah suatu kejadian atau peristiwa di masa lalu. Namun menurut pandanganku sejarah juga merupakan pembelajaran yang paling berkesan dan berharga, yang patut kita ingat dan kenang sepanjang waktu. Bukan untuk mengulang duka atau kecewa, atau bahkan mengulang kesedihan, tetapi dengan mengingat sejarah menjadikan kita menata masa depan yang tentunya lebih baik.

Mengingat sejarah membuat kita bisa menghargai peninggalan sejarah yang berharga di masa lalu. Terlepas dari apapun bentuknnya, sedalam apapun lukannya. Sejarah tetap menjadi suatu hal istimewa yang patut kita kenang sepanjang waktu.

Baca Juga
  • Sudah 5 Abad Peranan Kesultanan Mataram Islam Di Nusantara-Indonesia Sampai Sekarang
  • Kitab Kuno Aceh Abad 18 Bahas Tentang Waktu Gempa NTB dan Tsunami Aceh

Berawal dari pengalaman pribadi, yang pernah kualami dulu. Pengalaman tentang kisah di masa kecilku saat tejadi “Perperangan di Aceh” dan tentunya juga dirasakan oleh anak-anak seusiaku dulu yang tinggal di Aceh. Kala itu, aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku masih belum mengerti apa yang sebenannya terjadi, dan apa yang membuat peperangan itu dimulai. Tetapi yang aku tahu, itu adalah masa-masa sulit yang berdampak bukan hanya pada orang-orang dewasa, akan tetapi juga pada anak-anak.

Kadang kala, aku sudang belajar Bersama teman-temanku di kelas. Tiba-tiba terdengar suara ledakan senjata yang saling bersautan. Sehingga kelas akhirnya riuh dengan suara tangis dan jeritan ketakutan. Hingga guru memaksa kami untuk bertiarap. entah dari mana asal mula suara tembakan yang saling bersautan itu, kami pun tidak tahu dan hanya mengikuti perintah apa yang diucapakan spontan oleh guruku. Beliu pun tampak panik tetapi tetap terlihat begitu kuat untuk bisa mereda ketakutan kami.

Baca Juga
  • ASAL-USUL NAMA GOSONG TELAGA DAN PRESTASINYA
  • PASIE RAJA: Pantai Sejarah, Jejak Budaya, dan Asa Masa Depan

Pernah juga, kami hendak berangkat pergi mengaji, tiba-tiba terdengar lagi dan lagi suara tembakan yang seolah saling bersautan menunjukkan kekuatan. Sehingga ibu dan ayah melarang untuk pergi. Menutup pintu rumah dengan rapat dan kembali bertiarap di atas lantai.

Ya…seperti itu seterusnya yang kami lakukan ketika suara ledakan senjata itu terdengar keras dan kuat. Ada pula terkadang terdengar samar-samar, namun kami hanya duduk di dalam rumah , suasana pun tampak terlihat sunyi dan sepi. Sungguh hal yang menakutkan bagi masa kanak-kanakku.

Tetapi bukan hanya itu bukan…, kami jadi sering libur sekolah dan mengaji. Banyak sekolah yang sengaja dibakar. Namun sekolahku yang saat itu dibangun di pusat kota tidak menjadi sasaran. tetapi saat riuh suara-suara tembakan itu, siapa yang masih berani pergi ke sekolah? Tidak ada…tidak ada yang benar-benar berani. sehingga kadang-kadang kami juga harus terpaksa libur . Karena keselamatan yang paling utama saat itu.

Bukan hanya sekolah, rumah pun ada yang sengaja dibakar dikampungku saat itu. tiang-tiang listrik yang sengaja diputuskan alirannya dan itu tidak hanya sekali, namun sudah sangat sering terjadi hingga malam yang kelam itu, harus dilewati kembali dengan gelap yang sangat menyeramkan.

Di kegelapan itu, bahkan ada yang rumahnnya diketuk, seorang ayah dijemput pergi entah kemana tak ada yang tahu, tangisan istri dan bahkan jeritan anak-anaknya tak lagi mampu membawa ayahnnya kembali. bahkan kadang jenazahnya pun tidak ditemui.

Tak ada yang tahu apa kesalahan yang diperbuat. Fitnah-fitnah yang kejam juga Hidup pada masa itu, dan terkadang juga merengut nyawa orang-orang yang tidak berdosa.

Banyak istri yang menjadi janda kehilanggan suaminnya. Banyak anak menjadi yatim karena kehilangan ayahnnya, dan tidak sedikit juga orang tua renta yang menangisi kehilangan anak-anaknya. Bahkan anak-anak gadis yang kehilangan kehormatannya. Tidak sampai di situ, ada pula mayat-mayat tanpa identitas sering ditemukan dengan wujud mengenaskan. Bahkan ada beberapa tubuh yang kehilangan kepalanya. Astaghfirullahal ‘adzim …sungguh untuk menulis ini saja sudah merinding rasannya. Sepedih itulah hidup dalam peperangan.

D isetiap sudut jalanan yang terasa sepi. Dimulai dalam gelap malam yang sunyi. Bahkan Ketika matahari belum sepenunnya menerangi bumi orang-orang lebih memilih berdiam diri di kediamannya masing-masing. Begitu juga dengan senja yang akan berganti malam. Sebelum gelap datang, orang-orang yang beraktifitas di luar rumah sudah kembali kekediamannya lagi. Gelap seolah menjadi hal yang menegangkan serta membawa sebuah petaka dan ketakutan.

Masa kecil anak-anak yang dihabiskan bermain dan belajar dengan tenang tak lagi didapati hanya rasa takut yang membayangi. Ini hanya sebagian kecil dari kisah pedih yang terjadi. Tetapi kesedihan ini tetap membayangi anak-anak yang hidup di masa peperangan itu. termasuk juga dengan diriku sendiri.

Kini semua sudah berlalu. Aceh kini sudah sangat jauh berbeda dengan sejarah yang lalu. Senyum semua orang sekarang mulai tergambar di bibir mereka. gelap malam sudah tak lagi bermasalah. Semua orang beraktifitas mulai pagi hingga malam, bahkan di beberapa kota yang maju, tengah malam sampai pagi pun masih banyak yang berlalu lalang.

Indahnnya perdamaian , tak ada lagi rasa takut yang membayang. Masa anak-anak bermain dengan meyenangkan sedangkan masa orang dewasa berkumpul, dengan tenang. Semua terasa begitu nyaman. Perdamaian memang sangat indah semoga keindahan ini terus dirasa oleh generasi masa depan. Belajarlah dari kisah sejarah dan jangan pernah melupakannya.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Jangan Lupakan Sejarah - 2025 07 06 19 09 14 | Konflik | Potret Online

Tak Pernah Lelah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com