Dengarkan Artikel
Regulasi Emosi Penting bagi Pendidik Anak Berkebutuhan Khusus
Oleh : Devi Yanti, M. Psi., Psikolog
Bayangkan Anda berada di sebuah kelas dengan belasan anak yang masing-masing memiliki kebutuhan khusus. Ada yang sulit berbicara, mudah tantrum, cepat lelah, bahkan ada pula yang butuh perhatian penuh hampir setiap menit.
Di depan kelas sebagaimana digambarkan itu ia berdiri seorang guru. Guru tidak hanya dituntut mengajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menjadi “orang tua kedua”, terapis, sekaligus sahabat bagi murid-muridnya.
Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) hidup dalam realitas penuh tantangan yang mungkin jarang kita pikirkan. Mereka bukan sekadar “guru”, tetapi juga pejuang yang harus memiliki kekuatan mental luar biasa agar tidak mudah menyerah di tengah jalan. Pertanyaannya: apa yang membuat seorang guru mampu bertahan dan tetap bersemangat di tengah situasi yang penuh tekanan?
Jawabannya ada pada dua kata kunci: hardiness (ketangguhan psikologis), regulasi emosi dan religiusitas.
Mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak sama dengan mengajar di sekolah reguler. Tugas guru SLB jauh lebih kompleks dan penuh tantangan. Tetapi mereka harus tetap sabar menghadapi tantrum murid, memahami kebutuhan terapi, berinteraksi dengan orang tua yang penuh harapan, sekaligus berhadapan dengan keterbatasan fasilitas sekolah.
Menurut penelitian Lede, Setyobudi, Nayoan, dan Ruliati (2025)banyak guru SLB mengalami stres kronis. Tekanan datang dari berbagai arah: tuntutan kurikulum yang sama beratnya dengan sekolah umum, kurangnya tenaga pendukung profesional (psikolog, terapis), hingga stigma masyarakat terhadap ABK. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan burnout—kelelahan emosional yang membuat guru kehilangan semangat, bahkan memilih menyerah dengan meninggalkan profesi.
Namun menariknya, tidak semua guru mengalami hal yang sama. Ada guru yang tetap semangat meski dalam tekanan dan keterbatasan. Mereka tangguh, tidak mudah menyerah, bahkan memanfaatkan tantangan sebagai energi positif. Di sinilah peran hardiness atau ketangguhan psikologis menjadi penting.
Istilah hardiness pertama kali diperkenalkan oleh Suzanne Kobasa. Hardiness adalah kemampuan individu untuk tetap kuat, berkomitmen, dan melihat tantangan sebagai peluang, bukan ancaman (Kobasa, 1979).
Hardiness memiliki tiga dimensi utama (Kobasa, 1979), yaitu : Pertama, komitmen – rasa keterikatan dan tanggung jawab terhadap peran dan pekerjaan. Kedua, kontrol – keyakinan bahwa diri memiliki kuasa atas situasi, bukan sekadar korban keadaan. Ketiga, Tantangan – kemampuan melihat kesulitan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang.
Namun ketangguhan tidak datang begitu saja. Salah satu faktor yang mendukung terbentuknya hardiness adalah regulasi emosi.
Menurut Gross dan Thompson (2006), regulasi emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengatur pengalaman emosi—baik dalam bentuk intensitas, durasi, maupun ekspresi—agar sesuai dengan tujuan jangka panjang.
Contoh, Seorang guru yang ingin marah ketika muridnya menolak belajar, tetapi memilih menarik napas panjang dan menggunakan pendekatan berbeda.
Tentu saja, guru merasa sedih karena melihat keterbatasan anak didiknya, tetapi dalam empati sedih itu ia tetap memotivasi untuk mendidik lebih baik.
Regulasi emosi bukan berarti menekan atau menolak perasaan, melainkan mengelola agar perasaan tersebut tidak sampai menguasai diri.
Penelitian Elvinawanty, Falin, Wijaya, dan Mirza, (2025) menunjukkan bahwa guru yang mampu mengatur emosi akan memiliki ketangguhan tinggi. Emosi yang dikelola dengan baik membantu guru tetap berpikir jernih, membuat keputusan rasional, dan bertahan dalam situasi penuh tekanan.
Hardiness adalah “antibodi psikologis” yang membuat individu kebal terhadap stres. Guru yang memiliki hardiness tinggi tidak mudah jatuh sakit atau menyerah meski menghadapi tekanan berat.
Emosi adalah energi. Jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi bahan bakar positif. Jika tidak, ia bisa berubah menjadi bom waktu yang merugikan. Guru SLB membutuhkan strategi regulasi emosi, seperti reappraisal (melihat ulang situasi dengan perspektif positif) dan suppression (mengendalikan ekspresi emosi yang merugikan).
📚 Artikel Terkait
Selain regulasi emosi, dukungan sosial (dari rekan guru, keluarga, dan masyarakat) serta religiusitas terbukti memperkuat hardiness. Guru yang merasa mendapatkan dukungan sosial akan jarang mengalami burnout.
Mari kita lihat contoh. Seorang guru SLB menceritakan bagaimana setiap hari ia harus menghadapi murid dengan autisme yang sering menolak berinteraksi. Diawal, ia merasa frustrasi. Namun dengan doa, kesabaran, dan teknik regulasi emosi sederhana seperti menarik napas dalam, ia menemukan cara untuk mendekati murid itu melalui permainan kesukaan sang anak.
Kisah lain datang dari guru yang mengajar anak tunanetra. Ia sering menangis diam-diam melihat perjuangan muridnya. Tetapi alih-alih menyerah, ia menjadikan emosi itu sebagai enerji semangat untuk mencari metode pembelajaran yang lebih ramah.
Analisis: Apa yang Bisa Kita Pelajari? Pertama, regulasi emosi penting, tetapi tidak cukup. Kedua, hardiness bisa dilatih dan ketiga, peran masyarakat.
Guru SLB adalah sosok pahlawan yang sering tidak terlihat. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menjaga harapan anak-anak berkebutuhan khusus untuk memiliki masa depan.
Regulasi emosi adalah salah satu kunci yang membantu mereka tetap berdiri kokoh. Namun, ketangguhan sejati lahir dari kombinasi antara regulasi emosi, religiusitas, dukungan sosial, dan cinta tulus kepada murid.
Jika kita ingin pendidikan inklusif berjalan baik, kita harus mulai dari mendukung para guru —memberi mereka pelatihan, ruang untuk berbagi, dan penghargaan yang layak. Karena di tangan guru yang tangguh, ABK punya kesempatan lebih besar untuk tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan cerah.
Religiusitas, Sumber Ketangguhan
Dalam konteks budaya Aceh, religiusitas seringkali menjadi sumber utama ketangguhan. Guru tidak hanya bekerja untuk memenuhi kewajiban formal, tetapi juga sebagai bagian dari ibadah. Keyakinan bahwa mendidik ABK sebagai ladang amal jariyah membuat mereka mampu bertahan di tengah kesulitan.
Dalam penelitian Novrizha, Aisyah, dan Surbakti (2025), religiusitas terbukti menjadi salah satu faktor protektif paling penting bagi guru dalam menghadapi tekanan kerja. Di Aceh misalnya, keyakinan spiritual sering menjadi pijakan utama dalam setiap langkah. Guru tidak hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai ibadah.
Bagi banyak guru SLB, setiap kesulitan yang mereka hadapi dipandang sebagai ujian, dan setiap keberhasilan murid dianggap sebagai berkah. Mereka percaya bahwa mengajar ABKadalah amal jariyah, pahala yang tidak terputus meski mereka sudah tiada. Keyakinan inilah yang membuat mereka tetap bertahan dengan fasilitas minim, ketika lelah menghampiri, bahkan ketika apresiasi dari masyarakat tidak sebanding dengan perjuangan.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah, 2:286). Ayat ini menegaskan bahwa setiap guru yang diberi amanah mendidik anak berkebutuhan khusus memiliki kekuatan sesuai takaran yang Allah berikan.
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah, 94:5–6). Ayat ini memberi harapan bahwa setiap kesulitan dalam mendidik anak-anak istimewa selalu disertai dengan jalan keluar.
Dan pada QS. Az-Zumar (39) ayat 10, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesabaran guru adalah ibadah yang mendatangkan pahala tiada terhingga.
Dalam konteks hardiness, religiusitas menjadi pondasi spiritual yang memperkuat dimensi komitmen, kontrol, dan tantangan. Guru dengan religiusitas tinggi lebih berkomitmen, karena merasa pekerjaannya adalah amanah dari Tuhan.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai guru, tetap terkontrol, sebab mereka yakin bahwa doa dan usaha akan menghadirkan pertolongan. Dan memandang tantangan sebagai ladang pahala, bukan sekadar hambatan.
Kekuatan religiusitas ini membuat guru lebih optimis, lebih sabar, dan lebih ikhlas. Mereka tidak hanya mengandalkan logika dan strategi, tetapi juga hati yang percaya pada kekuatan ilahi.
Penulis :
Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh
Referensi
Elvinawanty, R., Falin, V., Wijaya, V., & Mirza, R. (2025). Bukan Sekadar Bertahan: Regulasi Emosi dan Resiliensi Sebagai Kunci Mengelola Stres Kerja Guru. Jurnal Sublimapsi, 6(2), 172-184.
Gross, J.J. & Thompson, R. A. 2006. Emotion regulation: Conceptual foundations. In J. J. Gross (Ed.), Handbook of emotion regulation. New York: Guilford Press.
Kobasa, S. C. (1979). Stressful life event, personality, and health: An inquiry into hardiness. Journal of Personality and Social Psychology, 37(1), 1-11. https://doi.org/10.1037/0022-3514.42.1.168
Lede, Y. M. K., Setyobudi, A., Nayoan, C. R., & Ruliati, L. P. (2025). Hubungan antara Peran Individu, Iklim Organisasi, dan Tuntutan Pekerjaan dengan Stres Kerja pada Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Kota Kupang. Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(3), 436-446.
Novrizha, T. S., Aisyah, S., & Surbakti, A. (2025). Religiusitas sebagai mediator antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 11(1), 247-264.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






