POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menjadi Guru Tangguh

RedaksiOleh Redaksi
September 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Regulasi Emosi Penting bagi Pendidik Anak Berkebutuhan Khusus

Oleh : Devi Yanti, M. Psi., Psikolog

Bayangkan Anda berada di sebuah kelas dengan belasan anak yang masing-masing memiliki kebutuhan khusus. Ada yang sulit berbicara, mudah tantrum, cepat lelah, bahkan ada pula yang butuh perhatian penuh hampir setiap menit.

Di depan kelas sebagaimana digambarkan itu ia berdiri seorang guru. Guru tidak hanya dituntut mengajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menjadi “orang tua kedua”, terapis, sekaligus sahabat bagi murid-muridnya.

Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) hidup dalam realitas penuh tantangan yang mungkin jarang kita pikirkan. Mereka bukan sekadar “guru”, tetapi juga pejuang yang harus memiliki kekuatan mental luar biasa agar tidak mudah menyerah di tengah jalan. Pertanyaannya: apa yang membuat seorang guru mampu bertahan dan tetap bersemangat di tengah situasi yang penuh tekanan?

Jawabannya ada pada dua kata kunci: hardiness (ketangguhan psikologis), regulasi emosi dan religiusitas.

Mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak sama dengan mengajar di sekolah reguler. Tugas guru SLB jauh lebih kompleks dan penuh tantangan. Tetapi mereka harus tetap sabar menghadapi tantrum murid, memahami kebutuhan terapi, berinteraksi dengan orang tua yang penuh harapan, sekaligus berhadapan dengan keterbatasan fasilitas sekolah.

Menurut penelitian Lede, Setyobudi, Nayoan, dan Ruliati (2025)banyak guru SLB mengalami stres kronis. Tekanan datang dari berbagai arah: tuntutan kurikulum yang sama beratnya dengan sekolah umum, kurangnya tenaga pendukung profesional (psikolog, terapis), hingga stigma masyarakat terhadap ABK. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menyebabkan burnout—kelelahan emosional yang membuat guru kehilangan semangat, bahkan memilih menyerah dengan meninggalkan profesi.

Namun menariknya, tidak semua guru mengalami hal yang sama. Ada guru yang tetap semangat meski dalam tekanan dan keterbatasan. Mereka tangguh, tidak mudah menyerah, bahkan memanfaatkan tantangan sebagai energi positif. Di sinilah peran hardiness atau ketangguhan psikologis menjadi penting.

Istilah hardiness pertama kali diperkenalkan oleh Suzanne Kobasa. Hardiness adalah kemampuan individu untuk tetap kuat, berkomitmen, dan melihat tantangan sebagai peluang, bukan ancaman (Kobasa, 1979).

Hardiness memiliki tiga dimensi utama (Kobasa, 1979), yaitu : Pertama, komitmen – rasa keterikatan dan tanggung jawab terhadap peran dan pekerjaan. Kedua, kontrol – keyakinan bahwa diri memiliki kuasa atas situasi, bukan sekadar korban keadaan. Ketiga, Tantangan – kemampuan melihat kesulitan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang.

Namun ketangguhan tidak datang begitu saja. Salah satu faktor yang mendukung terbentuknya hardiness adalah regulasi emosi.

Menurut Gross dan Thompson (2006), regulasi emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengatur pengalaman emosi—baik dalam bentuk intensitas, durasi, maupun ekspresi—agar sesuai dengan tujuan jangka panjang.

Contoh, Seorang guru yang ingin marah ketika muridnya menolak belajar, tetapi memilih menarik napas panjang dan menggunakan pendekatan berbeda.

Tentu saja, guru merasa sedih karena melihat keterbatasan anak didiknya, tetapi dalam empati sedih itu ia tetap memotivasi untuk mendidik lebih baik.

Regulasi emosi bukan berarti menekan atau menolak perasaan, melainkan mengelola agar perasaan tersebut tidak sampai menguasai diri.

Penelitian Elvinawanty, Falin, Wijaya, dan Mirza, (2025) menunjukkan bahwa guru yang mampu mengatur emosi akan memiliki ketangguhan tinggi. Emosi yang dikelola dengan baik membantu guru tetap berpikir jernih, membuat keputusan rasional, dan bertahan dalam situasi penuh tekanan.

Hardiness adalah “antibodi psikologis” yang membuat individu kebal terhadap stres. Guru yang memiliki hardiness tinggi tidak mudah jatuh sakit atau menyerah meski menghadapi tekanan berat.

Emosi adalah energi. Jika dikelola dengan baik, ia bisa menjadi bahan bakar positif. Jika tidak, ia bisa berubah menjadi bom waktu yang merugikan. Guru SLB membutuhkan strategi regulasi emosi, seperti reappraisal (melihat ulang situasi dengan perspektif positif) dan suppression (mengendalikan ekspresi emosi yang merugikan).

📚 Artikel Terkait

PERSAHABATAN AWAK AWAI

Sedih dan Rindu di Ujung Malam

BENGKEL OPINI RAKyat

Bekali Muhtasib Gampong, Prof Syahrizal Abbas Berikan Materi Perdana

Selain regulasi emosi, dukungan sosial (dari rekan guru, keluarga, dan masyarakat) serta religiusitas terbukti memperkuat hardiness. Guru yang merasa mendapatkan dukungan sosial akan jarang mengalami burnout.

Mari kita lihat contoh. Seorang guru SLB menceritakan bagaimana setiap hari ia harus menghadapi murid dengan autisme yang sering menolak berinteraksi. Diawal, ia merasa frustrasi. Namun dengan doa, kesabaran, dan teknik regulasi emosi sederhana seperti menarik napas dalam, ia menemukan cara untuk mendekati murid itu melalui permainan kesukaan sang anak.

Kisah lain datang dari guru yang mengajar anak tunanetra. Ia sering menangis diam-diam melihat perjuangan muridnya. Tetapi alih-alih menyerah, ia menjadikan emosi itu sebagai enerji semangat untuk mencari metode pembelajaran yang lebih ramah.

Analisis: Apa yang Bisa Kita Pelajari? Pertama, regulasi emosi penting, tetapi tidak cukup. Kedua, hardiness bisa dilatih dan ketiga, peran masyarakat.

Guru SLB adalah sosok pahlawan yang sering tidak terlihat. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menjaga harapan anak-anak berkebutuhan khusus untuk memiliki masa depan.

Regulasi emosi adalah salah satu kunci yang membantu mereka tetap berdiri kokoh. Namun, ketangguhan sejati lahir dari kombinasi antara regulasi emosi, religiusitas, dukungan sosial, dan cinta tulus kepada murid.

Jika kita ingin pendidikan inklusif berjalan baik, kita harus mulai dari mendukung para guru —memberi mereka pelatihan, ruang untuk berbagi, dan penghargaan yang layak. Karena di tangan guru yang tangguh, ABK punya kesempatan lebih besar untuk tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan cerah.

Religiusitas, Sumber Ketangguhan

Dalam konteks budaya Aceh, religiusitas seringkali menjadi sumber utama ketangguhan. Guru tidak hanya bekerja untuk memenuhi kewajiban formal, tetapi juga sebagai bagian dari ibadah. Keyakinan bahwa mendidik ABK sebagai ladang amal jariyah membuat mereka mampu bertahan di tengah kesulitan.

Dalam penelitian Novrizha, Aisyah, dan Surbakti (2025), religiusitas terbukti menjadi salah satu faktor protektif paling penting bagi guru dalam menghadapi tekanan kerja. Di Aceh misalnya, keyakinan spiritual sering menjadi pijakan utama dalam setiap langkah. Guru tidak hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai ibadah.

Bagi banyak guru SLB, setiap kesulitan yang mereka hadapi dipandang sebagai ujian, dan setiap keberhasilan murid dianggap sebagai berkah. Mereka percaya bahwa mengajar ABKadalah amal jariyah, pahala yang tidak terputus meski mereka sudah tiada. Keyakinan inilah yang membuat mereka tetap bertahan dengan fasilitas minim, ketika lelah menghampiri, bahkan ketika apresiasi dari masyarakat tidak sebanding dengan perjuangan.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah, 2:286). Ayat ini menegaskan bahwa setiap guru yang diberi amanah mendidik anak berkebutuhan khusus memiliki kekuatan sesuai takaran yang Allah berikan.

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah, 94:5–6). Ayat ini memberi harapan bahwa setiap kesulitan dalam mendidik anak-anak istimewa selalu disertai dengan jalan keluar.

Dan pada QS. Az-Zumar (39) ayat 10, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesabaran guru adalah ibadah yang mendatangkan pahala tiada terhingga.

Dalam konteks hardiness, religiusitas menjadi pondasi spiritual yang memperkuat dimensi komitmen, kontrol, dan tantangan. Guru dengan religiusitas tinggi lebih berkomitmen, karena merasa pekerjaannya adalah amanah dari Tuhan.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai guru, tetap terkontrol, sebab mereka yakin bahwa doa dan usaha akan menghadirkan pertolongan. Dan memandang tantangan sebagai ladang pahala, bukan sekadar hambatan.

Kekuatan religiusitas ini membuat guru lebih optimis, lebih sabar, dan lebih ikhlas. Mereka tidak hanya mengandalkan logika dan strategi, tetapi juga hati yang percaya pada kekuatan ilahi.

Penulis :

Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh

Referensi

Elvinawanty, R., Falin, V., Wijaya, V., & Mirza, R. (2025). Bukan Sekadar Bertahan: Regulasi Emosi dan Resiliensi Sebagai Kunci Mengelola Stres Kerja Guru. Jurnal Sublimapsi, 6(2), 172-184.

Gross, J.J. & Thompson, R. A. 2006. Emotion regulation: Conceptual foundations. In J. J. Gross (Ed.), Handbook of emotion regulation. New York: Guilford Press.

Kobasa, S. C. (1979). Stressful life event, personality, and health: An inquiry into hardiness. Journal of Personality and Social Psychology, 37(1), 1-11. https://doi.org/10.1037/0022-3514.42.1.168

Lede, Y. M. K., Setyobudi, A., Nayoan, C. R., & Ruliati, L. P. (2025). Hubungan antara Peran Individu, Iklim Organisasi, dan Tuntutan Pekerjaan dengan Stres Kerja pada Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Kota Kupang. Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(3), 436-446.

Novrizha, T. S., Aisyah, S., & Surbakti, A. (2025). Religiusitas sebagai mediator antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 11(1), 247-264.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Cahaya Kecil Bernama Apis

Langkah Panjang Menuju Keabadian

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00