POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pria Paling Berani, Wapres Gibran Dihadapinya dengan Telanjang Dada

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
August 25, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Pada Sabtu 23 Agustus kemarin, sejarah absurd nan agung terjadi di Pontianak. Wapres Gibran Rakabuming tiba-tiba nongol di Warung Kopi Asiang, Jalan Merapi No. 191–193. Sebuah warkop tua. Dari luar tampak sederhana. Tapi, di dalamnya menyimpan sosok legendaris. Dialah Asiang. Barista Pontianak sejak 1958. Ia konsisten menyeduh kopi dengan dada telanjang, tanpa baju, tanpa kompromi, tanpa basa-basi. Untung masih bercelana.

Adegan itu sungguh epik. Seorang Wapres, orang nomor dua ni, wak, berdiri rapi dengan kemeja licin disetrika. Sementara di depannya seorang pria tua berusia 60-an tahun, bertato, berpeluh, dan separuh tubuhnya bersinar pucat akibat lampu neon bercampur uap ketel air mendidih. Seolah-olah sedang berlangsung duel ideologi. Di satu sisi simbol kekuasaan politik, di sisi lain simbol konsistensi harga diri.

Asiang bukan sekadar barista. Ia adalah filsuf jalanan, seorang Socrates tropis yang memilih keringat ketimbang dasi, memilih dada telanjang ketimbang pencitraan. Sejak jam 3 dini hari, ketika sebagian pejabat baru selesai karaoke, Asiang sudah berdiri di dapurnya, bersetia pada ketel mendidih. Dari tangannya lahir ribuan cangkir kopi per hari, ditarik tinggi, lebih tinggi dari harga BBM, lebih presisi dari strategi pemenangan pemilu. Kopinya pahit, manis, sekaligus filosofis, seakan ingin berkata, hidup ini tak bisa kau nikmati tanpa getir.

Lihatlah pengunjungnya. Dari pedagang pasar, dosen, pebisnis, hingga tokoh publik macam Sandiaga Uno, Chef Juna, dan Kak Seto pernah mampir. Bahkan kini Wapres. Apa yang mereka cari? Bukan sekadar kafein. Mereka mencari pengalaman absurd. Mereka hanya melihat seorang pria setengah telanjang menyeduh kopi, lalu menyadari bahwa di balik ketel, harga diri bisa lebih berharga dari protokol istana.

Banyak orang awalnya jijik. “Masa’ ngopi liat ketek?” “Masa’ disuguhi keringat?” Tapi begitulah hidup, yang tampak kotor sering kali justru paling jujur. Asiang tidak munafik. Dia tidak pura-pura sopan, tidak sibuk memakai celemek gaya hipster seperti di kafe mahal Jakarta. Tubuhnya adalah seragam. Keringatnya adalah tanda tangan. Tato di dadanya adalah dokumen sejarah.

📚 Artikel Terkait

Harga Naik, Jumlah Perokok Berkurang?

Pesta Pernikahan Yang Menggalaukan

Sehari Menjadi Pemimpin 2024

“Anak Hebat, Guru Terlupakan”: Ironi Hari Anak Nasional di Negeri Seremonial

Yang lebih ajaib, konsistensinya. Dari 1958 sampai sekarang, dia tetap berdiri di situ. Usianya sudah lebih dari 60 tahun, tapi tangannya masih lincah, matanya masih fokus, dan bicaranya tetap sedikit. Sementara banyak pejabat baru beberapa tahun saja sudah pensiun dini dengan alasan kesehatan, Asiang tetap berdiri di depan ketel mendidih, membuktikan bahwa loyalitas bisa bertahan lebih lama dari janji kampanye.

Warungnya pun berkembang. Selain di Jalan Merapi, kini ada versi modern di Jalan Ayani 1 dan 2, dengan lebih besar dan luas, ada ruang ber-AC untuk tamu yang ingin bebas asap rokok. Tapi satu hal tak pernah berubah, kalau cari Asiang, dia tetap di bawah, di depan ketel, telanjang dada, menyeduh kopi dengan ritme seperti orkestra absurd Pontianak.

Maka jangan heran jika orang luar negeri googling “Pontianak menarik apa?” yang muncul bukan tugu khatulistiwa, bukan sungai Kapuas, tapi Asiang. Karena ternyata kebesaran kota bisa lahir dari dada seseorang yang menolak pakai baju.

Di situlah filsafat harga diri. Gibran boleh wapres, Sandiaga boleh menteri, Chef Juna boleh galak, tapi semua tunduk pada kopi Asiang. Sebab Asiang tak berubah demi siapa pun. Kalau besok PBB bikin sidang darurat di Pontianak, ia tetap telanjang dada. Kalau Elon Musk datang minta kopi pancong, ia tetap telanjang dada. Kalau malaikat maut pun datang menjemput, ia mungkin masih sempat berkata, “sebentar, biar saya selesaikan satu cangkir lagi.”

Itulah mengapa orang hanya bisa geleng kepala lalu berkata, kok bisa ya?

Kalau ingin ke Pontianak, tak sah rasanya belum mencoba kopi Asiang. Tanpa endose, kopinya sudah terkenal, kok.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Noel dan Luka Demokrasi Kita

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00