Dengarkan Artikel
Pagi itu, Rian terbangun oleh alarm dari ponselnya, seperti biasa. Sambil menyeruput kopi, ia membuka aplikasi kalender untuk melihat jadwal hari ini. Rapat penting pukul 10.00 di sebuah kafe yang belum pernah ia kunjungi. Tanpa pikir panjang, ia mengetik nama warkop itu di aplikasi peta. Rute, perkiraan waktu tempuh, dan bahkan ulasan tentang kopi terbaik di sana langsung muncul. Semua informasi yang ia butuhkan ada di genggamannya.
Sahabatnya, Bayu, menelepon. “Rian, jangan lupa ya, ulang tahun Lena hari ini!” Rian sedikit terkejut. Ia benar-benar lupa. Dengan cepat ia menjawab, “Tentu saja ingat!” sambil diam-diam membuka media sosial untuk memastikan tanggal lahir Lena. Lagi-lagi, ponsel menyelamatkannya.
Masalah dimulai saat ia dalam perjalanan menuju warkop. Ia meraih ponselnya untuk memastikan kembali alamatnya, namun layar tetap hitam. Baterainya habis. Seketika, kepanikan ringan menjalari dirinya. Di mana tepatnya warkop itu? Jalan apa? Warna apa?
📚 Artikel Terkait
Rian mencoba memutar otaknya, berusaha mengingat informasi yang baru beberapa jam lalu ia lihat di layar. Tapi yang ia temukan hanyalah sebuah ruang kosong. Ia bahkan tidak ingat nama jalan utamanya. Ia juga tidak bisa menelepon kliennya untuk bertanya, karena nomornya hanya tersimpan di kontak ponsel yang mati itu. Ia merasa lumpuh, terputus dari informasi krusial yang seharusnya ia ketahui.
Inilah wajah dari amnesia digital: sebuah fenomena di mana kita cenderung melupakan informasi karena otak kita secara tidak sadar telah “mendelegasikannya” ke perangkat digital. Kita tidak lagi berusaha keras mengingat nomor telepon, tanggal lahir, atau arah jalan, karena kita percaya semua itu aman tersimpan dan dapat diakses hanya dengan beberapa ketukan jari.
Teknologi telah menjadi perpanjangan dari ingatan kita, sebuah hard disk eksternal bagi otak. Ini sangat memudahkan, tetapi juga membuat ingatan biologis kita menjadi kurang terlatih. Kisah Rian adalah cerminan dari jutaan orang yang hidupnya sangat bergantung pada gawai. Kita menjadi sangat efisien selama perangkat itu berfungsi, namun bisa menjadi sangat rentan dan “lupa” ketika perangkat itu tiba-tiba hilang atau mati.
Amnesia digital bukanlah sebuah penyakit, melainkan sebuah konsekuensi dari kemudahan. Ia mengingatkan kita bahwa di tengah lautan informasi digital, kemampuan otak kita untuk mengingat, menyimpan, dan mengolah informasi secara mandiri tetaplah sebuah aset yang tak ternilai harganya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






