• Latest

Manisnya Cerita Desa Keutapang Mameh

Agustus 22, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Manisnya Cerita Desa Keutapang Mameh

Redaksiby Redaksi
Agustus 23, 2025
Reading Time: 4 mins read
619
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Nama : Ulfa Ulfiana

Siswi MAN 1 Aceh Timur

Mameh, tinggal dengan nenek dari pihak ibu sejak kecil di sebuah desa yang dekat pantai merupakan kesenangan tersendiri. Desa kami diberi nama Keutapang Mameh. Konon katanya Pohon Ketapang di desa kami ada yang berbuah manis, sehingga menjadi cikal bakal untuk pemberian nama desa.


Penulis akan mengisahkan lebih lanjut apa yang membuat nama desa kami diberi nama Keutapang Mameh. Nenek kandung penulis pernah berkisah, “dulu sebelum ada kita, begitu kata nenek” desa kita dulunya ada pohon keutapang yang besar dan ada salah satu pohonnya yang berbuah manis.

Begitu nenek bercerita, penulis sendiri tidak terlalu mempertanyakan kebenarannya, namun kisah itu menjadi kebanggaan sendiri bagi penulis. Setidaknya desa kami memiliki sejarah.


Dulunya, pohon ketapang manis itu letak tumbuhnya di pinggir laut, namun karena dulu laut jauh dengan daratan, tapi kalau ditanya sekarang dimana letaknya pohon tersebut tumbuh pastinya di tengah laut.

Hal ini disebabkan karena pergeseran bibir pantai. Jikalau kita membuka internet, fenomena ini disebabkan karena adanya kenaikan muka air laut global yang disebabkan oleh dua faktor utama, es di daratan (gletser dan lapisan es) akibat pemanasan global, serta ekspansi termal, yaitu air laut yang memuai karena menghangat. Akibatnya, area daratan pesisir yang lebih rendah menjadi tergenang atau lebih sering mengalami banjir pasang.


Dari semua peristiwa itu lah ceritanya menjadi nama sebuah desa, yang dikenal Keutapang Mameh, sekarang desa kami terdiri dari 4 dusun yaitu Dusun Sampan Dusun Tambak, Dusun Timur, serta Dusun Tanjung.
Namun, terkait penamaan desa kami itu terjadi menjadi Ketapang Mameh, penulis bersama nenek juga kurang tahu.

Mungkin saja peristiwa tersebut terjadi pada masa nenek moyang kita. Karena kata nenek penulis, semenjak nenek lahir sudah banyak orang di desa kami dengan nama tersebut walaupun masih ada hutan (kemungkinan mangrove/bakau) di pinggir pantai.


Nah, mengapa desa kami ini sekarang sudah banyak penduduknya, karena masa-masa jaman dulu orang mejalajahi tempat-tempat yang bisa dijadikan rumah atau tempat tinggalnya. Ditambah juga keluarga yang terus memiliki anak-cucu tentunya. Dapat dibayangkan mereka membuka hutan, membangun permukiman awal, dan bagaimana mereka bertahan hidup.

Mereka mesti membuat cara, apapun itu yang bisa dilakukan seperti menjaring ikan di laut, membuat sampan kecil sebagai alat transportasi berburu ikan, dan membuat tambak untuk dijadikan ladang penghasilan sehari-hari.


Penulis sendiri yang tidak tahu seberapa dalam tingkat kebenaran cerita desa kami ini, tetapi jikalau mendengar dari orang tua dahulu, mereka bangga dengan orang-orang dulu yang menjaga desa ini dengan damai aman tentram, penulis menganggap itu adalah harapan mereka untuk kami para penerus penduduk desa.


Walaupun, orang luar desa kami cenderung memandang orang-orang desa kami itu sebagai penduduk pesisir, layaknya masyarakat pesisir di daerah lainnya cenderung bahasa mulut nya kotor, berkata dengan nada tinggi/dianggap kasar, tetapi tidak semua yang mereka lihat itu benar, suara bising ombak terkadang harus kami kalahkah dengan mengeraskan suara ketika bertutur kata.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026


Di balik itu, penulis berbangga hati bahwa di desa Keutapang Mameh kami ini, pernah hidup seorang ulama kharismatik, sekarang sudah tiada. Beliau bernama Abu Muhammad Hasan, atau dikenal juga sebagai Abu Hasan Keutapang Mameh. Dulunya kalau di desa dipanggil dengan sebutan “Nek Tengku atau Nek Abu”. Masyarakat desa kami sampai sekarang masih aktif memperingati haul takziyah beliau.


Nama Abu Hasan Keutapang mameh juga diambil untuk nama mushalla MAN 1 Aceh Timur, Madrasah tempat saya menimba ilmu. Karena, dulu Abu Hasan Keutapang Mameh salah seorang pelopor yang mendirikan lembaga pendidikan atau madrasah untuk masyakarat Aceh Timur terutama masyarakat idi Rayeuk ini, makanya nama abu Hasan Keutapang mameh diambil untuk nama musalla madrasah tersebut.

Tentunya untuk mengenang tokoh dalam pendirian madrasah tersebut. Abu Hasan Keutapang Mameh juga mendirikan sebuah balai pengajian di desa kami, dan rumah beliau masih ditempati, sedangkan makam beliau ada di samping rumahnya persisnya di samping balai pengajian tersebut.


Masjid desa kami juga diambil dari nama Nek Tengku. Karena semasa beliau hidup, Nek Tengku pernah mendirikan menasah untuk desa kami, lalu nek Tengku abu Hasan Keutapang Mameh juga mendirikan sebuah masjid yang dulu tidak begitu megah layaknya sekarang, juga diberi nama Masjid Abu di Keutapang Mameh.


Sekarang, di desa tercinta kami juga sudah ada pabrik Cold Storage, masyarakat kami yang kurang fasih berbahasa inggris sering menyebutnya dengan “kostrik” ikan, hehehe. Pabrik kostrik ikan itu berfungsi menyimpan sementara ikan. Tangkapan nelayan kami biasanya dibeli separuh oleh pabrik “kostrik” untuk dimasukan ke dalam pabrik es kostrik tersebut, kemudian mereka menyimpan ikan” tersebut untuk di ekspor ke luar daerah misalnya ke Medan dan sebagainya. Juga selain Cold Storage, di desa kami juga ada Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), kantor-kantor pelabuhan, dan sekolah seperti SD dan TK.


Sekian terimakasih, hanya itu mungkin pada kesempatan kali ini penulis dapat bercerita. Hasil mendengar kisah dari para tetua dahulu, harapannya penduduk desa kami semakin makmur dan sejahtera saban harinya, dan penulis semakin cinta dengan desa manis ini tentunya.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Salem’s City Seal Controversy - Ulasan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com