POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Manisnya Cerita Desa Keutapang Mameh

RedaksiOleh Redaksi
August 22, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Nama : Ulfa Ulfiana

Siswi MAN 1 Aceh Timur

Mameh, tinggal dengan nenek dari pihak ibu sejak kecil di sebuah desa yang dekat pantai merupakan kesenangan tersendiri. Desa kami diberi nama Keutapang Mameh. Konon katanya Pohon Ketapang di desa kami ada yang berbuah manis, sehingga menjadi cikal bakal untuk pemberian nama desa.


Penulis akan mengisahkan lebih lanjut apa yang membuat nama desa kami diberi nama Keutapang Mameh. Nenek kandung penulis pernah berkisah, “dulu sebelum ada kita, begitu kata nenek” desa kita dulunya ada pohon keutapang yang besar dan ada salah satu pohonnya yang berbuah manis.

Begitu nenek bercerita, penulis sendiri tidak terlalu mempertanyakan kebenarannya, namun kisah itu menjadi kebanggaan sendiri bagi penulis. Setidaknya desa kami memiliki sejarah.


Dulunya, pohon ketapang manis itu letak tumbuhnya di pinggir laut, namun karena dulu laut jauh dengan daratan, tapi kalau ditanya sekarang dimana letaknya pohon tersebut tumbuh pastinya di tengah laut.

Hal ini disebabkan karena pergeseran bibir pantai. Jikalau kita membuka internet, fenomena ini disebabkan karena adanya kenaikan muka air laut global yang disebabkan oleh dua faktor utama, es di daratan (gletser dan lapisan es) akibat pemanasan global, serta ekspansi termal, yaitu air laut yang memuai karena menghangat. Akibatnya, area daratan pesisir yang lebih rendah menjadi tergenang atau lebih sering mengalami banjir pasang.


Dari semua peristiwa itu lah ceritanya menjadi nama sebuah desa, yang dikenal Keutapang Mameh, sekarang desa kami terdiri dari 4 dusun yaitu Dusun Sampan Dusun Tambak, Dusun Timur, serta Dusun Tanjung.
Namun, terkait penamaan desa kami itu terjadi menjadi Ketapang Mameh, penulis bersama nenek juga kurang tahu.

Mungkin saja peristiwa tersebut terjadi pada masa nenek moyang kita. Karena kata nenek penulis, semenjak nenek lahir sudah banyak orang di desa kami dengan nama tersebut walaupun masih ada hutan (kemungkinan mangrove/bakau) di pinggir pantai.

📚 Artikel Terkait

Perempuan Tangguh Penakluk Gurun Pasir

Happy Birthday yang ke 22 tahun, Majalah POTRET

TRANSFORMASI DAN PRASANGKA BAIK

‎Banda Aceh dan Jepang Jalin Kerja Sama di Bidang Pendidikan


Nah, mengapa desa kami ini sekarang sudah banyak penduduknya, karena masa-masa jaman dulu orang mejalajahi tempat-tempat yang bisa dijadikan rumah atau tempat tinggalnya. Ditambah juga keluarga yang terus memiliki anak-cucu tentunya. Dapat dibayangkan mereka membuka hutan, membangun permukiman awal, dan bagaimana mereka bertahan hidup.

Mereka mesti membuat cara, apapun itu yang bisa dilakukan seperti menjaring ikan di laut, membuat sampan kecil sebagai alat transportasi berburu ikan, dan membuat tambak untuk dijadikan ladang penghasilan sehari-hari.


Penulis sendiri yang tidak tahu seberapa dalam tingkat kebenaran cerita desa kami ini, tetapi jikalau mendengar dari orang tua dahulu, mereka bangga dengan orang-orang dulu yang menjaga desa ini dengan damai aman tentram, penulis menganggap itu adalah harapan mereka untuk kami para penerus penduduk desa.


Walaupun, orang luar desa kami cenderung memandang orang-orang desa kami itu sebagai penduduk pesisir, layaknya masyarakat pesisir di daerah lainnya cenderung bahasa mulut nya kotor, berkata dengan nada tinggi/dianggap kasar, tetapi tidak semua yang mereka lihat itu benar, suara bising ombak terkadang harus kami kalahkah dengan mengeraskan suara ketika bertutur kata.


Di balik itu, penulis berbangga hati bahwa di desa Keutapang Mameh kami ini, pernah hidup seorang ulama kharismatik, sekarang sudah tiada. Beliau bernama Abu Muhammad Hasan, atau dikenal juga sebagai Abu Hasan Keutapang Mameh. Dulunya kalau di desa dipanggil dengan sebutan “Nek Tengku atau Nek Abu”. Masyarakat desa kami sampai sekarang masih aktif memperingati haul takziyah beliau.


Nama Abu Hasan Keutapang mameh juga diambil untuk nama mushalla MAN 1 Aceh Timur, Madrasah tempat saya menimba ilmu. Karena, dulu Abu Hasan Keutapang Mameh salah seorang pelopor yang mendirikan lembaga pendidikan atau madrasah untuk masyakarat Aceh Timur terutama masyarakat idi Rayeuk ini, makanya nama abu Hasan Keutapang mameh diambil untuk nama musalla madrasah tersebut.

Tentunya untuk mengenang tokoh dalam pendirian madrasah tersebut. Abu Hasan Keutapang Mameh juga mendirikan sebuah balai pengajian di desa kami, dan rumah beliau masih ditempati, sedangkan makam beliau ada di samping rumahnya persisnya di samping balai pengajian tersebut.


Masjid desa kami juga diambil dari nama Nek Tengku. Karena semasa beliau hidup, Nek Tengku pernah mendirikan menasah untuk desa kami, lalu nek Tengku abu Hasan Keutapang Mameh juga mendirikan sebuah masjid yang dulu tidak begitu megah layaknya sekarang, juga diberi nama Masjid Abu di Keutapang Mameh.


Sekarang, di desa tercinta kami juga sudah ada pabrik Cold Storage, masyarakat kami yang kurang fasih berbahasa inggris sering menyebutnya dengan “kostrik” ikan, hehehe. Pabrik kostrik ikan itu berfungsi menyimpan sementara ikan. Tangkapan nelayan kami biasanya dibeli separuh oleh pabrik “kostrik” untuk dimasukan ke dalam pabrik es kostrik tersebut, kemudian mereka menyimpan ikan” tersebut untuk di ekspor ke luar daerah misalnya ke Medan dan sebagainya. Juga selain Cold Storage, di desa kami juga ada Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), kantor-kantor pelabuhan, dan sekolah seperti SD dan TK.


Sekian terimakasih, hanya itu mungkin pada kesempatan kali ini penulis dapat bercerita. Hasil mendengar kisah dari para tetua dahulu, harapannya penduduk desa kami semakin makmur dan sejahtera saban harinya, dan penulis semakin cinta dengan desa manis ini tentunya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share10SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Salem’s City Seal Controversy - Ulasan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00