Dengarkan Artikel
Oleh Gunawan Trihantoro
Tiga orang meninggal dunia dan dua lainnya terluka parah akibat kebakaran sumur minyak ilegal di Blora, Jateng. Pemerintah diminta meninjau ulang peraturan yang mengizinkan masyarakat mengelola sumur minyak. [1]
Pagi itu, embun belum sempat menamai daun,
ketika suara yang tak punya wajah turun ke dusun.
“Api,” katanya pendek, seperti napas yang tertahan.
Orang-orang berlari membawa doa dalam saku,
di antara rumpun tebu dan bau tanah yang basah.
Di pinggir ladang, sumur tua berdiri seperti kakek
yang tak lagi mengingat ulang tahun cucu-cucunya.
Dari mulutnya, nyala melenting ke langit,
sebuah kabar buruk yang menulis dirinya sendiri
di papan besar yang disebut udara.
“Kenapa bumi memuntahkan amarah?” tanya seorang bocah
yang baru kemarin belajar mengeja kata ‘harapan’.
Ayahnya menutup telinga anak itu pelan,
takut bila kata-kata ikut terbakar,
dan tak menyisakan rumah untuk diam.
“Sumur,” jawab seorang ibu yang wajahnya retak oleh waktu,
“adalah kitab yang kita baca dengan gemetar.
Kadang ia memberi terang untuk memasak,
kadang ia memberi malam yang tak kunjung pagi.”
Ia menyeka mata, padahal tidak ada debu.
Di sela nyala, kulihat tiga bayang jatuh
seperti daun yang tidak sempat berpamitan pada ranting.
Nama-nama mereka menjadi angin,
menyelinap ke sela-sela genting,
memukul-mukul dada yang sedang belajar ikhlas.
“Apakah ini kesalahan kita?” tanya pemuda berjaket hitam.
Ia memandangi garis polisi seperti garis nasib
yang menolak disentuh.
Seorang tetua menjawab dengan serak,
“Negeri ini panjang, Nak, sementara kewarasan sering kehabisan ongkos.”
Lalu datang suara lain dari radio di warung,
mengurai pasal, izin, dan janji-janji yang berderak
seperti papan lama di teras surau.
Nama-nama pejabat disebut pelan,
seolah kita sedang menabur garam pada luka yang masih segar.
“Bisakah aturan memeluk orang yang sedang berkabung?”
tanya ibu yang sama, kini memegang foto buram.
Seorang lelaki berseragam menatap tanah,
“Kadang aturan datang seperti payung setelah hujan reda.”
Kami semua diam, karena tahu diam juga adalah kata.
📚 Artikel Terkait
Anak-anak menanyakan perbedaan antara minyak dan air mata.
Guru SD di ujung kampung menjelaskan:
“Minyak adalah cerita yang lahir di perut bumi,
air mata adalah hujan yang jatuh dari dalam diri.”
Anak-anak mengangguk, meski tidak ada jawaban yang kenyang.
Di dekat mushala, para relawan memilah
antara abu dan kabar.
Di depan mereka, termos-termos kopi
menjaga percakapan tetap hangat,
sebab dingin selalu datang tanpa undangan.
“Apa yang mesti kita lakukan setelah ini?”
seorang jurnalis melempar pancing ke telaga kata.
“Merawat ingatan,” sahut seorang bidan,
“karena yang hilang bukan hanya nyawa,
melainkan peta pulang pada banyak keluarga.”
Kami berbincang dengan bayang-bayang di tanah,
“Maafkan kami yang telat belajar tentang selamat,”
“Maafkan kami yang terlalu sering mengira hidup
adalah arisan keberuntungan,”
“Maafkan kami yang jarang menengok akar.”
Api masih mengigau, menyebut nama-nama bebatuan,
menyebut sang waktu yang tak pernah berutang.
Di sela igauannya, ada suara anak yang ingin es krim,
ada ibu yang ingin suaminya pulang,
ada kucing yang masih menunggu suara mangkuk ditaruh.
“Kalau semua ini simbol,” tanya pemuda itu lagi,
“lalu apa makna yang tersisa?”
Tetua tersenyum pedih,
“Makna adalah sumur lain di dalam dada;
kita menimba dengan sabar, kadang kosong, kadang bening.”
Langit merendah, menutup luka desa
dengan selimut awan yang tipis.
Di balai, daftar nama ditulis rapi,
seperti doa yang antri untuk dipanjatkan.
Bendera setengah tiang berkibar pelan,
menjadi senter yang menyala dari kesedihan.
“Apakah kita akan melupakan hari ini?”
suara kecil menembus jantung tanya.
“Tidak,” jawab kor yang tidak terlihat,
“sebab melupakan adalah bentuk lain dari padam,
dan kita tidak boleh padam untuk yang padam.”
Malam turun, membawa tasbih bintang.
Desa memeluk dirinya sendiri,
menyetrika kerut di dahi dengan ayat-ayat yang hafal di lidah.
Di ambang pintu, seorang istri menyalakan lampu teras,
meski ia tahu seseorang tak akan kembali menjejaknya.
Esok, kita akan menanam pohon di dekat sumur,
akar-akar kecilnya belajar mengeja kata ‘selamat’.
Kita akan menulis pelajaran di papan yang baru,
bahwa kerja harus bersanding dengan jaga,
bahwa rezeki mesti berumah pada aman,
bahwa aturan bukan pagar belaka, melainkan pagar dengan pintu.
Dan jika suatu hari anak-anak bertanya lagi
tentang perbedaan minyak dan air mata,
kita ajak mereka menatap matahari pagi,
“Lihat, cahaya yang baik tak pernah terbakar orang-orangnya.
Ia hanya menuntun, sampai pulang.”
Di ujung lorong, bayang tiga nama itu
berubah menjadi tiga cahaya kecil,
menggandeng kita melewati kabar, melewati takut,
menuju hari-hari yang tidak lagi menakar keuntungan
dengan ukuran nyawa.
Karena pada akhirnya, desa ini ingin belajar
mencium bau tanah tanpa takut meledak,
ingin melihat sumur seperti dulu,
sekadar cermin untuk wajah langit,
bukan mulut yang mengunyah yang kita cinta.
Catatan kaki:
[1] BBC News Indonesia- “Kebakaran sumur minyak di Blora: Tiga orang tewas, desakan revisi aturan perizinan sumur tua” (diakses 20 Agustus 2025). https://www.bbc.com/indonesia/articles/cjw6zp6nev8o
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






