POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dipisahkan Oleh Waktu, Disatukan Oleh Kampung

RedaksiOleh Redaksi
August 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Faril 

Siswa SMK Negeri 1 Gandapura, Bireun, Aceh

Di sebuah kampung kecil bernama Kampung Kenanga, yang terletak di lereng pegunungan dan dikelilingi hamparan sawah hijau, hiduplah dua sahabat karib sejak kecil: Bima dan Rehan. Mereka tumbuh bersama, bermain di sungai yang sama, memanjat pohon yang sama, dan bahkan bercita-cita untuk membangun masa depan di kampung tercinta.

Namun, takdir berkata lain. Setelah lulus SMP, Rehan harus ikut orang tuanya pindah ke kota karena ayahnya mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta. Hari itu, hujan turun perlahan seolah langit pun ikut menangisi perpisahan mereka. Bima mengantar Rehan hingga ke ujung jalan kampung sambil membawa payung reyot peninggalan kakeknya. Mereka berjabat tangan lama, dan janji pun diucap: “Suatu hari nanti, kita harus kembali ke kampung ini. Bersama-sama.”

Tahun demi tahun berlalu. Komunikasi mereka sempat terjalin melalui surat, lalu ponsel, tetapi perlahan memudar seperti kenangan yang mulai memudar di balik kesibukan hidup. Rehan tumbuh besar di kota, mengejar karier di dunia periklanan yang keras dan penuh tuntutan. Sementara Bima tetap di kampung, menjadi guru di sekolah dasar tempat mereka dulu belajar, menjaga sawah warisan orang tuanya, dan aktif membangun kegiatan pemuda di kampung.

Meski berbeda jalan, keduanya menyimpan satu hal yang sama: rindu. Rindu akan masa kecil, akan tawa tanpa beban, dan akan kampung yang penuh kenangan.

Suatu hari, dua puluh tahun sejak perpisahan mereka, Rehan mendapat kabar bahwa kampung halamannya akan dijadikan lokasi pembangunan pabrik besar yang akan menggusur sebagian lahan sawah dan hutan kecil di sekitarnya. Ia terkejut, sebab kampung itu adalah satu-satunya tempat yang memberinya rasa damai yang tak bisa ditemukan di kota mana pun. Tanpa pikir panjang, ia mengambil cuti panjang dari kantornya dan memutuskan kembali ke Kampung Kenanga.

📚 Artikel Terkait

HABA Si PATok

TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH

Tertipu Sehat, Terlena Waktu Senggang

Membangun Kemandirian Energi

Setibanya di kampung, Rehan merasa seperti kembali ke masa kecil. Udara segar, suara burung, dan aroma tanah basah menyambutnya. Namun yang paling mengejutkannya adalah sosok pria dengan kemeja batik sederhana yang menyapanya di jalan utama kampung: Bima.

Mereka saling terpaku sesaat, lalu tertawa dan berpelukan seperti anak kecil. Waktu memang telah mengubah mereka secara fisik, tapi tidak hati dan persahabatan mereka.

“Aku tahu kau pasti datang,” kata Bima.

“Aku juga tahu kau pasti masih di sini,” jawab Rehan.

Tanpa perlu banyak kata, mereka kembali menyatu dalam semangat yang dulu pernah mereka bangun. Bersama warga kampung, mereka mengadakan musyawarah, menyusun petisi, dan mendatangi kantor pemerintah setempat untuk memperjuangkan kampung mereka agar tetap lestari.

Rehan menggunakan koneksinya di kota untuk membantu kampung mempromosikan potensi wisata alam dan pertanian organik. Ia membuat video dokumenter tentang kehidupan desa yang sederhana tapi penuh makna, sementara Bima menjadi penggerak utama kegiatan pemuda dan pendidikan.

Perjuangan mereka tidak mudah, tapi membuahkan hasil. Pembangunan pabrik dibatalkan, dan sebagai gantinya, kampung didukung untuk menjadi desa wisata berbasis alam dan budaya.

Kini, Kampung Kenanga menjadi tempat yang tidak hanya menyimpan kenangan masa kecil mereka, tapi juga menjadi simbol kebersamaan dan perjuangan. Rehan memutuskan untuk tinggal di kampung dan membangun rumah di samping rumah Bima. Mereka kembali menghabiskan waktu bersama, bukan lagi sebagai anak kecil, tapi sebagai dua pria yang pernah dipisahkan oleh waktu dan disatukan kembali oleh kampung tercinta.

Karena sejauh apapun langkah kaki membawa, kampung halaman adalah tempat di mana hati akan selalu kembali.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Kontroversi Beauty Pageant Dalam Perspektif Konstruksi Sosial Keperempuanan Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00