• Latest

Dipisahkan Oleh Waktu, Disatukan Oleh Kampung

Agustus 17, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dipisahkan Oleh Waktu, Disatukan Oleh Kampung

Redaksiby Redaksi
Agustus 17, 2025
Reading Time: 3 mins read
599
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Faril 

Siswa SMK Negeri 1 Gandapura, Bireun, Aceh

Di sebuah kampung kecil bernama Kampung Kenanga, yang terletak di lereng pegunungan dan dikelilingi hamparan sawah hijau, hiduplah dua sahabat karib sejak kecil: Bima dan Rehan. Mereka tumbuh bersama, bermain di sungai yang sama, memanjat pohon yang sama, dan bahkan bercita-cita untuk membangun masa depan di kampung tercinta.

Namun, takdir berkata lain. Setelah lulus SMP, Rehan harus ikut orang tuanya pindah ke kota karena ayahnya mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta. Hari itu, hujan turun perlahan seolah langit pun ikut menangisi perpisahan mereka. Bima mengantar Rehan hingga ke ujung jalan kampung sambil membawa payung reyot peninggalan kakeknya. Mereka berjabat tangan lama, dan janji pun diucap: “Suatu hari nanti, kita harus kembali ke kampung ini. Bersama-sama.”

Tahun demi tahun berlalu. Komunikasi mereka sempat terjalin melalui surat, lalu ponsel, tetapi perlahan memudar seperti kenangan yang mulai memudar di balik kesibukan hidup. Rehan tumbuh besar di kota, mengejar karier di dunia periklanan yang keras dan penuh tuntutan. Sementara Bima tetap di kampung, menjadi guru di sekolah dasar tempat mereka dulu belajar, menjaga sawah warisan orang tuanya, dan aktif membangun kegiatan pemuda di kampung.

Meski berbeda jalan, keduanya menyimpan satu hal yang sama: rindu. Rindu akan masa kecil, akan tawa tanpa beban, dan akan kampung yang penuh kenangan.

Suatu hari, dua puluh tahun sejak perpisahan mereka, Rehan mendapat kabar bahwa kampung halamannya akan dijadikan lokasi pembangunan pabrik besar yang akan menggusur sebagian lahan sawah dan hutan kecil di sekitarnya. Ia terkejut, sebab kampung itu adalah satu-satunya tempat yang memberinya rasa damai yang tak bisa ditemukan di kota mana pun. Tanpa pikir panjang, ia mengambil cuti panjang dari kantornya dan memutuskan kembali ke Kampung Kenanga.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Setibanya di kampung, Rehan merasa seperti kembali ke masa kecil. Udara segar, suara burung, dan aroma tanah basah menyambutnya. Namun yang paling mengejutkannya adalah sosok pria dengan kemeja batik sederhana yang menyapanya di jalan utama kampung: Bima.

Mereka saling terpaku sesaat, lalu tertawa dan berpelukan seperti anak kecil. Waktu memang telah mengubah mereka secara fisik, tapi tidak hati dan persahabatan mereka.

“Aku tahu kau pasti datang,” kata Bima.

“Aku juga tahu kau pasti masih di sini,” jawab Rehan.

Tanpa perlu banyak kata, mereka kembali menyatu dalam semangat yang dulu pernah mereka bangun. Bersama warga kampung, mereka mengadakan musyawarah, menyusun petisi, dan mendatangi kantor pemerintah setempat untuk memperjuangkan kampung mereka agar tetap lestari.

Rehan menggunakan koneksinya di kota untuk membantu kampung mempromosikan potensi wisata alam dan pertanian organik. Ia membuat video dokumenter tentang kehidupan desa yang sederhana tapi penuh makna, sementara Bima menjadi penggerak utama kegiatan pemuda dan pendidikan.

Perjuangan mereka tidak mudah, tapi membuahkan hasil. Pembangunan pabrik dibatalkan, dan sebagai gantinya, kampung didukung untuk menjadi desa wisata berbasis alam dan budaya.

ADVERTISEMENT

Kini, Kampung Kenanga menjadi tempat yang tidak hanya menyimpan kenangan masa kecil mereka, tapi juga menjadi simbol kebersamaan dan perjuangan. Rehan memutuskan untuk tinggal di kampung dan membangun rumah di samping rumah Bima. Mereka kembali menghabiskan waktu bersama, bukan lagi sebagai anak kecil, tapi sebagai dua pria yang pernah dipisahkan oleh waktu dan disatukan kembali oleh kampung tercinta.

Karena sejauh apapun langkah kaki membawa, kampung halaman adalah tempat di mana hati akan selalu kembali.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 369x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 336x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Kontroversi Beauty Pageant Dalam Perspektif Konstruksi Sosial Keperempuanan Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com