Dengarkan Artikel
Oleh Malika Dwi Ana
Harta benda, meski berharga, sering kali hanya bersifat sementara. Uang bisa saja habis, properti pun bisa rusak dan usang, juga barang berharga lainnya mungkin akan hilang seiring waktu. Namun, ada satu warisan yang tak lekang oleh zaman, yang mampu melintasi generasi dan menyentuh hati anak cucu, yakni tulisan. Sebuah buku, dengan setiap kata yang dipilih dengan penuh makna, adalah cerminan jiwa, pemikiran, dan cinta seorang penulis. Inilah alasan saya memilih untuk menulis—untuk meninggalkan warisan abadi (legacy) bagi mereka yang akan datang setelah saya.
Mengingat, tulisan adalah jembatan antara masa kini dan masa depan. Ketika saya menulis, saya tidak hanya mencurahkan pikiran, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, mimpi, dan pelajaran hidup yang telah saya petik. Buku adalah kapsul waktu yang menyimpan esensi diri saya—cerita tentang kegagalan yang menguatkan, keberhasilan yang menginspirasi, dan cinta yang tak pernah pudar untuk anak-anak dan keluarga saya.
Bayangkan suatu hari, ketika saya sudah tiada, anak atau cucu saya memegang buku yang saya tulis. Mereka membaca kata-kata yang saya tulis dengan tangan penuh kasih, merasakan kehadiran saya melalui setiap barisnya. Mereka mungkin tersenyum membaca anekdot lucu tentang dunia politik atau menitikkan air mata saat memahami Indonesia yang kacau balau karena korupsi, yang mencuri masa depan anak-anak bangsa, negeri kaya raya yang kehilangan kedaulatannya, kehilangan banyak sumber daya alamnya, yang tersangkut utang menggunung, dan banyak kepentingan oligarki (gerombolan) orang kaya yang semena-mena. Dalam tulisan, saya akan terus hidup, berbicara kepada mereka, meski ruang dan waktu nantinya memisahkan.
Di dalam 289 halaman yang saya tulis, dengan angka; 17, 8, dan 19 (44 tulisan) yang saya tulis bersama Mas Agung Marsudi (45 tulisan), sebagai wujud perayaan HUT Indonesia, setiap kata adalah curahan hati seorang Malika—seorang ibu, seorang nenek, yang gelisah menyaksikan perpolitikan Indonesia. Bukan sekadar kritik, tetapi tangisan jiwa yang merindu keadilan, persatuan, kejujuran, kemerdekaan, kedaulatan, dan kebaikan untuk negeri ini. Ketika anak cucu saya kelak membaca buku ini, saya bertanya-tanya: apa yang akan bergema di hati mereka? Akankah mereka merasakan getar cinta dan luka yang saya tuang dalam setiap barisnya? Ini bukan hanya warisan tulisan, tetapi potongan hati saya untuk mereka—agar mereka mengenal saya, merasakan saya, dan melanjutkan harapan saya.
Buku ini bukan hanya tentang kegelisahan politik, tetapi tentang cinta yang tak pernah padam. Ibu ingin kalian tahu bahwa Indonesia adalah bagian dari darah kalian, seperti ia adalah bagian dari darah Ibu. Saya rungkepi negeri ini dengan setiap napas, dengan setiap doa, agar kalian tak pernah lupa akar kalian, perjuangan kalian, dan tanggung jawab kalian. Ketika kalian membaca, Ibu ingin kalian merasa api itu pmenyala di dada kalian—api untuk memperbaiki, untuk bersuara, untuk mencintai negeri ini seperti Ibu.
📚 Artikel Terkait
Mungkin kalian akan bertanya, “Bun, apakah kami sudah membuatmu bangga? Apakah Indonesia sudah seperti yang kau impikan?” Apapun jawabannya, ketahuilah bahwa kalian adalah mimpi Ibu yang mewujud. Jika carut marut politik masih tetap ada, ambillah suara kalian, menulislah, bersuaralah, dan lanjutkan perjuangan ini.
Ketika kalian membaca, rasakan Ibu menggenggam tangan kalian, berbisik dengan suara yang penuh rindu, “Kalian adalah Indonesiaku. Lanjutkan mimpiku, lanjutkan cintaku.”
Peluk buku ini erat-erat, karena itu adalah pelukan Ibu yang tak pernah usai. Bawa Indonesia di hati kalian, seperti juga Ibu membawanya. Dan ketahuilah, anak cucuku, bahwa cinta Ibu untuk kalian—dan untuk tanah tumpah darah kita—akan hidup selamanya, nganti tumekaning pati.
Warisan ini bukan harta yang bisa habis, tetapi hati yang terus hidup di setiap kata. Peluk buku ini, peluk Ibu, dan lanjutkan mimpi-betapa saya merindu Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur, atau tersenyum kecil saat saya ceritakan tentang diskusi di warung kopi, ketika saya dengan penuh semangat berdebat tentang harapan untuk negeri ini. Kalian akan merasakan saya, bukan hanya sebagai ibu atau nenek, tetapi sebagai seorang perempuan yang mencintai kalian dengan cara yang tak bisa diukur.
Buku ini bukan sekadar cerita tentang politik, tetapi tentang hati yang tak pernah menyerah. Saya ingin kalian tahu bahwa kegelisahan saya adalah bukti cinta saya. Saya menulis agar kalian tak pernah lupa; kalian adalah bagian dari cerita besar, dari perjuangan untuk keadilan, dari mimpi untuk Indonesia yang lebih baik. Ketika kalian membaca, saya ingin kalian merasa darah saya mengalir di nadi kalian—semangat saya, harapan saya, dan cinta saya. (MDA)
SorPapringan, 16 Agustus 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






