Dengarkan Artikel
Oleh : Aisha Widyana
Siswa Kelas: XI SMK Negeri 1 Peusangan
Jurusan: Desain Komunikasi Visual
Awal mula hancurnya sebuah negara karena anak bangsanya sendiri. Anak bangsa yang melupakan perjuangan para pahlawan, sehingga bersikap semena-mena pada Pendidikan. Budaya malas telah menjadi makanan sehari-hari. Sehingga ada banyak sekali remaja Indonesia yang kehilangan minatnya terhadap belajar. Mereka terlalu sibuk dengan dunia maya.
Setiap saat hanya asik berselancar di media sosial. Sibuk membuat tren yang sedang ramai dibicarakan. Tidak kenal lelah dan waktu, hanya memikirkan kesenangan yang bersifat fana.
Masa depan tidak dipikirkan, tetapi untuk dilakukan. Kita bisa ke perpustakaan. Perpustakaan adalah akses untuk mendapatkan pengetahuan yang tak terbatas. Tempat kita mulai mengukir masa depan. Tetapi, itu hanya menjadi tempat singgah saat bolos pelajaran. Pergi ke sekolah hanya bentuk formalitas dan mendapatkan uang jajan. Bagi mereka, buku hanyalah sebuah benda mati yang tiada berarti. Mencoret, merobek, melempar, bahkan menginjaknya. Di manakah letaknya harga diri buku? Apakah ada yang peduli? Tidak. Meniatkannya saja mustahil.
Bahkan, para pahlawan rela gugur di medan perang. Bersimbah darah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Merebut kembali hak kita dari tangan penjajah, tanpa pamrih. Demi apa? Ya demi Indonesia Merdeka. Mereka berharap, kelak, anak bangsa Indonesia meneruskan perjuangan mereka, serta mendapatkan kehidupan yang layak di negerinya sendiri.
Namun, melihat kondisi Indonesia sekarang, sungguh memprihatikan. Pelajar tidak berminat lagi untuk belajar. Menganggap remeh pendidikan. Menyia-nyiakan ilmu yang didapat. Merasa malu ketika membuka buku. Mereka takut dijauhi teman karena belajar setiap saat, oleh karena itu, mereka merasa malas membaca buku. Tidak hanya membaca buku, bahkan sesuatu yang disuka pun tidak lagi dilakukan. Apa penyebabnya? Tentu saja karena malas.
Mengapa bisa seperti itu? Ini disebabkan karena ada berbagai faktor sehingga anak kehilangan minat belajarnya. Faktor internal (faktor yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri) dan faktor eksternal (faktor yang berasal dari lingkungan sekitar).
📚 Artikel Terkait
Faktor internal:
Rendahnya motivasi belajar. Kurangnya rasa percaya diri, anak merasa takut gagal atau tidak mampu sehingga enggan untuk mencoba. Anak sering merasa rendah pada kemampuannya sendiri. Mereka tidak sadar bahwa setiap anak pasti memiliki suatu hal yang unik dalam dirinya masing-masing. Itulah yang disebut perbedaan kemampuan.
Faktor eksternal:
Lingkungan belajar yang tidak mendukung. Seperti kekurangan fasilitas dan sumber belajar dapat menghambat proses pembelajaran. Kurangnya dukungan dari orang tua. Sering terjadi konflik dalam keluarga. Masalah di rumah dapat mengganggu konsentrasi dan semangat belajar.
Memiliki masalah dengan teman atau guru. Ini juga dapat memicu gangguan konsentrasi dari anak, sehingga menyebabkan anak stres dan frustasi. Selanjutnya penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dan berlebihan. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun, sering keliru menggunakannya. Seperti gawai, akan menjadi masalah jika digunakan ke arah yang negatif.
Contoh penggunaan negatif seperti bermain judi online, membuat tren velocity, menyebarkan berita-berita hoaks, ujaran kebencian di media sosial, dan juga pemborosan waktu dengan menggulir media sosial selama berjam-jam tanpa manfaat yang jelas.
Kita sering melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam kehidupan kita. Jika negara sudah Merdeka, sekarang coba tanyakan pada diri sendiri “sudahkah aku merdeka?”
Adapun solusi agar Indonesia tidak hancur di tangan anak bangsa adalah menanamkan pendidikan karakter sejak dini, meningkatkan kualitas pendidikan, generasi muda harus dibimbing untuk menggunakan teknologi dengan bijak. Selain itu, pemerintah perlu menyediakan ruang berkarya dan lapangan kerja agar anak bangsa dapat berkonstribusi positif. Dengan dukungan keteladanan dari pemimpin, Indonesia akan tetap kuat dan maju.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






