• Latest

Kehancuran Ada Di Tangan Anak Bangsa

Agustus 16, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kehancuran Ada Di Tangan Anak Bangsa

Redaksiby Redaksi
Agustus 16, 2025
Reading Time: 3 mins read
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Aisha Widyana
Siswa Kelas: XI SMK Negeri 1 Peusangan


Jurusan: Desain Komunikasi Visual

Awal mula hancurnya sebuah negara karena anak bangsanya sendiri. Anak bangsa yang melupakan perjuangan para pahlawan, sehingga bersikap semena-mena pada Pendidikan. Budaya malas telah menjadi makanan sehari-hari. Sehingga ada banyak sekali remaja Indonesia yang kehilangan minatnya terhadap belajar. Mereka terlalu sibuk dengan dunia maya.

Setiap saat hanya asik berselancar di media sosial. Sibuk membuat tren yang sedang ramai dibicarakan. Tidak kenal lelah dan waktu, hanya memikirkan kesenangan yang bersifat fana.

Masa depan tidak dipikirkan, tetapi untuk dilakukan. Kita bisa ke perpustakaan. Perpustakaan adalah akses untuk mendapatkan pengetahuan yang tak terbatas. Tempat kita mulai mengukir masa depan. Tetapi, itu hanya menjadi tempat singgah saat bolos pelajaran. Pergi ke sekolah hanya bentuk formalitas dan mendapatkan uang jajan. Bagi mereka, buku hanyalah sebuah benda mati yang tiada berarti. Mencoret, merobek, melempar, bahkan menginjaknya. Di manakah letaknya harga diri buku? Apakah ada yang peduli? Tidak. Meniatkannya saja mustahil.

Bahkan, para pahlawan rela gugur di medan perang. Bersimbah darah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Merebut kembali hak kita dari tangan penjajah, tanpa pamrih. Demi apa? Ya demi Indonesia Merdeka. Mereka berharap, kelak, anak bangsa Indonesia meneruskan perjuangan mereka, serta mendapatkan kehidupan yang layak di negerinya sendiri.

Namun, melihat kondisi Indonesia sekarang, sungguh memprihatikan. Pelajar tidak berminat lagi untuk belajar. Menganggap remeh pendidikan. Menyia-nyiakan ilmu yang didapat. Merasa malu ketika membuka buku. Mereka takut dijauhi teman karena belajar setiap saat, oleh karena itu, mereka merasa malas membaca buku. Tidak hanya membaca buku, bahkan sesuatu yang disuka pun tidak lagi dilakukan. Apa penyebabnya? Tentu saja karena malas.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Mengapa bisa seperti itu? Ini disebabkan karena ada berbagai faktor sehingga anak kehilangan minat belajarnya. Faktor internal (faktor yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri) dan faktor eksternal (faktor yang berasal dari lingkungan sekitar).

Faktor internal:


Rendahnya motivasi belajar. Kurangnya rasa percaya diri, anak merasa takut gagal atau tidak mampu sehingga enggan untuk mencoba. Anak sering merasa rendah pada kemampuannya sendiri. Mereka tidak sadar bahwa setiap anak pasti memiliki suatu hal yang unik dalam dirinya masing-masing. Itulah yang disebut perbedaan kemampuan.

Faktor eksternal:


Lingkungan belajar yang tidak mendukung. Seperti kekurangan fasilitas dan sumber belajar dapat menghambat proses pembelajaran. Kurangnya dukungan dari orang tua. Sering terjadi konflik dalam keluarga. Masalah di rumah dapat mengganggu konsentrasi dan semangat belajar.

Memiliki masalah dengan teman atau guru. Ini juga dapat memicu gangguan konsentrasi dari anak, sehingga menyebabkan anak stres dan frustasi. Selanjutnya penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dan berlebihan. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun, sering keliru menggunakannya. Seperti gawai, akan menjadi masalah jika digunakan ke arah yang negatif.

Contoh penggunaan negatif seperti bermain judi online, membuat tren velocity, menyebarkan berita-berita hoaks, ujaran kebencian di media sosial, dan juga pemborosan waktu dengan menggulir media sosial selama berjam-jam tanpa manfaat yang jelas.

Kita sering melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dalam kehidupan kita. Jika negara sudah Merdeka, sekarang coba tanyakan pada diri sendiri “sudahkah aku merdeka?”

Adapun solusi agar Indonesia tidak hancur di tangan anak bangsa adalah menanamkan pendidikan karakter sejak dini, meningkatkan kualitas pendidikan, generasi muda harus dibimbing untuk menggunakan teknologi dengan bijak. Selain itu, pemerintah perlu menyediakan ruang berkarya dan lapangan kerja agar anak bangsa dapat berkonstribusi positif. Dengan dukungan keteladanan dari pemimpin, Indonesia akan tetap kuat dan maju.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ragam Pesan Sarat Makna pada Acara PAKARMARU 2025 Fakultas Pertanian USK, Banda Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com