Dengarkan Artikel
Oleh; Diana Dwi Susanti
Penulis​: Cal Newport
Penerbit​: Renebook
Cetakan​: Pertama, Februari 2025
Tebal Buku​: 245 halaman
Buku ini dibuka dengan sebuah istilah baru. Slow Food. Sebuah kampanye yang dimulai dari kota kecil di Italia. Gerakan yang menekankan pentingnya makanan berkualitas tinggi. Yaitu makanan yang diproduksi secara berkelanjutan dan dihormati sebagai warisan budaya lokal. Aktif dalam mempromosikan makanan lambat saji. Termasuk pengenalan kurikulum pangan ke sekolah, sarana dalam melestarikan makanan tradisional sebagai bentuk dan upaya mendukung tradisi lokal. Istilah dalam bahasa mereka, menjadi Connoisseurs, a slow foodies. Penikmat hal-hal lawas.
Kampanye ini terus berlanjut, masuk dalam skala yang lebih luas. Tentang gaya hidup, tradisi, dan hubungan manusia dengan lingkungan. Semuanya mengembangkan filosofi menghargai ritme alami kehidupan. Dengan mengedepankan prinsip-prinsip perlambatan. Yang mana bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan, baik dalam pekerjaan, hubungan sosial, maupun kesehatan mental.
Terinspirasi dari Slow Food, maka dimulailah gerakan Slow City. Gerakan yang fokus pada upaya menjadikan kota-kota lebih berpusat pada pejalan kaki, mendukung bisnis setempat, dan secara umum menjadi kota yang lebih ramah. Gerakan yang kemudian banyak diadaptasi oleh kota-kota lain di Italia, dan berkembang ke tingkat global. Menyebar ke Jerman, Norwegia,Spanyol, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan juga Kanada.
Dan buku ini merupakan bentuk adaptasi lain dari gerakan “Slow” dalam dunia kerja. Slow Productivity. Sebuah gerakan yang mengidentifikasi jebakan budaya kerja modern, dan menawarkan model produktivitas yang menolak ketergesa-gesaan. Memberi penghargaan yang lebih terhadap proses kerja yang lebih manusiawi, untuk sesuatu yang lebih berkualitas.
Buku ini menjadi semakin menarik, karena ditulis berdasarkan pada penelitian ilmiah yang mendalam dan juga pengalaman nyata. Menjadi sangat relevan untuk dibaca dan diterapkan prinsip-prinsip yang di tawarkan secara bertahap. Buku ini adalah sebuah buku panduan. Agar produktivitas kita menjadi lebih sehat, lebih bermakna, dan lebih seimbang.
Burnout
Burnout bisa juga disebut dengan keletihan psikologis. Merupakan sebuah kondisi stres dan kelelahan emosional, perasaan frustasi, dan keletihan akibat rangkaian peristiwa dalam suatu hubungan, misi, cara hidup, pekerjaan atau bisnis yang tidak menghasilkan sesuatu sesuai harapan. Demikian buku ini menjelaskan.
📚 Artikel Terkait
Menjadi dasar utama penulis, untuk melakukan pendekatan-pendekatan alternatif terhadap produktivitas. Berupaya mengatasi beban berlebih yang terjadi secara terus menerus, dan berakibat dapat melemahkan produktivitas kerja sebagai realita pekerjaan di abad 21. Karena di era ini terdapat keyakinan bahwa pekerjaan yang baik memerlukan peningkatan kesibukan. Respon yang lebih cepat, tugas yang lebih banyak, rapat yang lebih sering, juga bertambahnya jam dalam bekerja. Intinya adalah pada intensitas pada tugas dan aktivitas yang tanpa henti.
Kondisi ini menimbulkan permasalahan baru di dunia modern. Kehadiran komputansi dan komunikasi portabel dalam bentuk laptop dan ponsel pintar, menjadikan tren permasalahan ini menjadi semakin kronis. Hal ini disebabkan bertambahnya tuntutan dalam pelaksanaan pekerjaan. Beban pekerjaan yang mengikuti kita pulang, ataupun harus tetap kita laksanakan di malam hari saat waktunya beristirahat. Kondisi yang banyak dialami oleh para pekerja di sektor pengetahuan. Menjadi salah satu resiko dari manfaat teknologi yang menyebabkan keletihan psikologis.
Alternatif Perlambatan
Buku ini menawarkan sebuah filosofi baru. Produktivitas lambat sebagai kerangka kerja alternatif. Dapat digunakan oleh para pekerja di sektor pengetahuan untuk mengatur dan melaksanakan tugas, dengan menghindari beban kerja yang tergesa-gesa dan terus bertambah,yang timbul akibat produktivitas semu.
Dengan kata lain, buku ini menjelaskan bahwa produktivitas lambat adalah mengubah orientasi pekerjaan menjadi sumber makna, sambil tetap mempertahankan kemampuan untuk menghasilkan keluaran yang berharga. Dengan cara yang lebih manusiawi dan berkelanjutan, untuk mengintegrasikan usaha profesional ke dalam kehidupan yang dijalani dengan baik.
Alternatif ini relatif masih baru, dan penuh komplikasi. Mungkin tidak semua orang akan menerimanya. Namun buku ini juga disertai dengan kisah-kisah menarik dari banyak orang terkenal yang memiliki nilai tersendiri. Menjadi dasar pemikiran dan sumber inspirasi untuk mendukung pencapaian yang lestari , namun berkembang dengan kecepatan yang lebih manusiawi.
Strategi yang radikal tapi efektif
Semua bentuk-bentuk alternatif yang ditawarkan di buku ini dibangun berdasarkan strategi radikal. Tapi sangat efektif untuk ditawarkan pada masyarakat luas sebagai upaya dalam mengatasi kesibukan modern, dengan memanfaatkan kearifan yang teruji oleh waktu.
Buku ini memandu dengan banyak saran yang sengaja dibuat profokatif. Dengan tujuan agar pembaca bisa fokus pada pemecahan masalah, yaitu caranya. Bukan pada pokok masalahnya. Upaya dalam memprioritaskan sesuatu dengan meminimalkan resiko dan memaksimalkan manfaat. Secara konkrit dan efesien yang alami. Dengan tidak melupakan tetap memberi ruang untuk bernafas dan rasa hormat.
Pendekatan-pendekatan yang ditawarkan di buku inimengarahkan kita untuk bisa bekerja dan menghasilkan karya yang bermakna. Dengan melakukan ikhtiar-ikhtiar yang dianggap penting. Juga mengedepankan prinsip bahwa pencapaian besar dibangun diatas akumulasi hasil-hasil kecil yang stabil, dari waktu ke waktu.
Kualitas sebagai Obsesi
Ada point penting di buku ini yang harus benar-benar dipahami. Obesesi pada kualitas. Apapun pekerjaan kita, penting sekali untuk menjaga kualitas dalam hal apapun. Hal yang tak boleh dilupakan bahwa kualitas itu berhubungan dengan “cita rasa”. Selera. Sebuah intuisi mendalam yang biasa dikenal dengan “taste”.
Intuisi ini bertindak sebagai kompas pemandu, untuk mengenali apa yang bagus. Sesuatu yang unggul. Sesuatu yang pastinya standar, bahkan lebih. Namun, pahami dan bedakan dengan apa yang disebut dengan “perfeksionisme”.
***
Buku ini sangat memikat. Memandu kita untuk bisa beraktivitas dan mengeksplorasi produktivitas lambat dengan tujuan yang makin bermakna. Melambat bukan berarti malas. Juga bukan berarti memprotes pekerjaan. Namun, tentang menemukan cara yang lebih baik dalam melakukannya.
Memberi pemahaman baru, bahwa dalam bekerja, point utama bukan kecepatan dalam beraktivitas, atau jumlah orang yang dibuat kagum dengan banyak kesibukan kita dalam berkarya. Namun yang paling utama adalah pada sebuah kemajuan, bukan kesempurnaan.
Buku yang sangat menarik. Selamat membaca.
Peresensi adalah seorang Guru.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






