POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Millata Abraham

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
August 10, 2025
Mungkinkah Aceh Menerapkan Sistem Nomokrasi?
🔊

Dengarkan Artikel

Aliran Sesat yang Menyusup Lewat Gafatar dan Mengakar di Nusantara

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Aliran sesat adalah virus bagi masyarakat di manapun. Aliran sesat membajak dan menteror jiwa-jiwa yang lemah yang harusnya dilindungi oleh negara. Di balik wajah ramah gerakan sosial dan pertanian mandiri, tersembunyi ajaran yang mengguncang fondasi keyakinan umat Islam. Millata Abraham bukan sekadar aliran sesat biasa—ia adalah metamorfosis dari gerakan yang telah berulang kali berganti nama, strategi, dan wilayah operasi. Dari Jakarta hingga pedalaman Kalimantan, dari Medan hingga Aceh, jejaknya membentang luas dan dalam.

Awal mula gerakan ini dapat ditelusuri ke tahun 2000, ketika Ahmad Mossadeq, mantan pelatih bulu tangkis nasional, mengaku mendapat wahyu dan menyatakan dirinya sebagai nabi ke-26. Ia mendirikan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, sebuah organisasi yang langsung menuai kontroversi karena ajarannya yang menyimpang dari Islam.

Setelah dibubarkan dan dinyatakan sesat oleh MUI, Musadeq tidak berhenti. Ia bertransformasi lewat Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yang tampil sebagai gerakan sosial dan pertanian mandiri. Namun, di balik aktivitas tanam-menanam dan kerja bakti, tersimpan doktrin lama yang kini dikemas ulang sebagai Millata Abraham.

 Karakteristik Ajaran: Sinkretisme, Penolakan Syariat, dan Klaim Kenabian

Ajaran Millata Abraham memiliki ciri khas yang membedakannya dari aliran sesat lain: (1) Sinkretisme Agama: Mereka menggabungkan unsur Yahudi, Kristen, dan Islam dalam satu doktrin baru yang disebut “ajaran Ibrahim yang murni.” (2) Penolakan terhadap Islam: Islam dianggap sebagai agama yang telah menyimpang. Mereka menolak syariat, salat, puasa, dan bahkan Al-Qur’an sebagai sumber hukum. (3) Kenabian Baru: Ahmad Mossadeq diyakini sebagai nabi setelah Muhammad SAW, yang bertugas “meluruskan” ajaran sebelumnya. (4) mereka memiliki Doktrin Hijrah: Pengikut diajak meninggalkan kehidupan lama dan pindah ke wilayah terpencil untuk membangun “masyarakat baru” yang bebas dari pengaruh negara dan agama resmi.

📚 Artikel Terkait

Isoman Produktif

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Menghidupkan Budaya Menulis di Era Koding dan Kecerdasan Artifisial

Seni, Kerukunan, dan Tanggung Jawab Pekerja Kreatif

 Persebaran Wilayah: Dari Kota Besar ke Pedalaman

Millata Abraham tidak hanya menyasar kota-kota besar, tetapi juga menyusup ke daerah terpencil. Mereka umumnya aktif dan berkembang di Jakarta, Depok, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Kalimantan Barat dan Aceh. 

WilayahAktivitas Utama
Jakarta & Depok     Pusat perekrutan dan pembaiatan awal     
Yogyakarta & SurabayaBasis intelektual dan diskusi doktrin
Medan & Padang      Pengembangan jaringan Sumatera           
Kalimantan Barat    Lokasi hijrah massal dan komunitas mandiri
Aceh (Bireuen, Pidie, Aceh Utara)Perekrutan terselubung dan pembaiatan baru

Di Aceh, diperkirakan lebih dari 3.000 pengikut aktif tersebar di berbagai kabupaten. Mereka beroperasi secara diam-diam, menggunakan pendekatan sosial dan ekonomi untuk menarik simpati masyarakat. Aliran ini tampaknya merupakan program defeksi yang dirancang oleh oknum-oknum tertentu ketika mereka masih berkuasa di rezim Orde Baru untuk mempertahankan pemasukan uang non-budgetter dari infaq para anggota jamaah yang berhasil masuk bergabung. Uang ini kemudian dinikmati oleh para oknum tersebut untuk memperkaya diri dan senang melihat rakyat yang tertipu oleh aliran sesat ini yang terus-menerus terseok-seok mengumpulkan dana ifaq, zakat dan sadaqah atas nama agama yang sudah diplintir.

 Modus Operandi: Menyamar, Merekrut, Membaiat

Gerakan ini sangat lihai dalam menyamarkan aktivitasnyadengan berbagai cara yang aneh. Perekrutan lewat kegiatan sosial: Mereka mengadakan kerja bakti, pelatihan pertanian, dan diskusi kebangsaan. Pembaiatan rahasia: Anggota baru dibaiat dalam pertemuan tertutup, lalu diminta meninggalkan identitas lama. Pengendalian psikologis: Pengikut diminta memutus hubungan dengan keluarga dan masyarakat luar. Rakyat yang sudah miskin terus diperas oleh imam-imam palsu yang terus-menerus memeras rakyat yang terjebak oleh aliran sesat. 

Majelis Ulama Indonesia telah lama menyatakan Millata Abraham sebagai aliran sesat. Pemerintah Aceh melarang aktivitas mereka berdasarkan Qanun Nomor 8 Tahun 2015. Penangkapan terbaru terhadap 20 anggota di Aceh menunjukkan bahwa gerakan ini masih aktif dan terus berkembang. Namun, tantangan terbesar adalah rehabilitasi sosial. Banyak mantan pengikut yang mengalami penolakan dari masyarakat, membuat mereka rentan kembali ke ajaran lama.

 Penutup: Ancaman yang Tak Boleh Diremehkan

Millata Abraham bukan sekadar ajaran menyimpang. Ia adalah gerakan ideologis yang terstruktur, adaptif, dan menyusup lewat celah sosial. Penanganan yang hanya bersifat hukum tidak cukup. Diperlukan pendekatan kultural, edukatif, dan psikologis untuk memutus mata rantai penyebarannya.

Millata Abraham adalah aliran sesat yang berkembang di Indonesia dan dikenal sebagai kelanjutan dari Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Aliran ini menyebarkan ajaran yang menyimpang dari Islam dan telah menyusup ke berbagai wilayah, termasuk Aceh, Kalimantan, dan kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Millata Abraham merupakan transformasi dari gerakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah, yang didirikan oleh Ahmad Mossadeq pada tahun 2000. Musadeq mengklaim dirinya sebagai nabi ke-26 setelah Nabi Muhammad SAW. Setelah Al-Qiyadah dibubarkan, ia mendirikan Gafatar, yang kemudian berkembang menjadi Millata Abraham.

Sangat aneh jika aliran sesat ini bisa berkembang di Aceh. Orang-orang Aceh biasanya lebih cepat curiga dan kritis dengan setiap wacana apapun yang membujuk, menggiring, dan mengelabui. Para ulama sudah berpesan bahwa tajak sikula bah carong, tajak beut bah bek seumeungeut.[]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Macet Dipelihara, Solusi Mana?

Macet Dipelihara, Solusi Mana?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00