POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kemerdekaan Hanya Sebuah Seremoni: Kita Masih Dijajah oleh Bangsa Sendiri”

RivaldiOleh Rivaldi
August 7, 2025
Aceh Selatan: Kaya Potensi, Tapi Terjebak dalam Ketertinggalan yang Sistemik
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rivaldi

Setiap tahun, sangsaka merah putih berkibar megah. Lagu kebangsaan Indonesia Raya menggema di berbagai pelosok negeri. Upacara sakral digelar, penuh dengan rasa haru dan kebanggaan. Tapi setelah itu, apa? Apakah kita benar-benar merdeka?

Kemerdekaan seolah hanya menjadi rutinitas tahunan. Sebuah seremoni simbolik tanpa makna yang benar-benar membumi. Kita menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, tetapi tak sedikit rakyat yang masih hidup dalam keterpurukan—miskin, terpinggirkan, dan tak dianggap.

Kita bilang sudah tidak dijajah bangsa asing, tapi banyak di antara kita masih dijajah oleh sistem yang dibangun oleh bangsa sendiri—oleh birokrasi yang korup, hukum yang tumpul ke atas tapi tajam ke bawah, pendidikan yang mahal, lapangan kerja yang sempit, hingga pelayanan publik yang diskriminatif.

Kita dijajah oleh janji-janji kosong para elite, oleh regulasi yang hanya menguntungkan segelintir orang, oleh kapitalisme yang membunuh keadilan sosial. Bahkan suara rakyat pun sering kali dibungkam atas nama stabilitas dan keamanan.

📚 Artikel Terkait

Kubur Sultan di Tengah Kota, Kubur Nalar di Dalam Kelas

‎Menulis Itu Mudah, Semudah Bernafas, Semudah Ngentut  

BANDAR YANG KULIPAT DALAM POKET

Kabar Redaksi

Bukankah itu bentuk penjajahan? Hanya saja kali ini bukan dengan senjata, tapi dengan kebijakan. Bukan oleh orang asing, tapi oleh bangsa sendiri.

Jika begitu, untuk siapa sebenarnya kemerdekaan ini? Apakah kemerdekaan hanya milik mereka yang punya jabatan dan uang? Apakah rakyat kecil hanya diminta untuk berdiri tegak dan di jemur di dalam teriknya matahari di setiap 17 Agustus tanpa pernah benar-benar merasakan arti merdeka?

Maka, selagi rakyat masih tertindas oleh ketidakadilan sistemik, kemerdekaan sejati belum kita miliki. Kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bebas dari penjajahan fisik, tapi juga tentang keberpihakan negara kepada rakyatnya sendiri.

Dan selama itu belum terwujud, 17 Agustus hanyalah seremoni. Sebuah pertunjukan tahunan yang menutupi luka-luka yang belum sembuh.

Kami tidak anti dengan nasionelisme tapi miris melihat umur indonesia yang hampir masuk 80 tahun kemerdekaan itu hanya sebatas janji dan omongan kosong, dengan segala bukti dan rakyat yang masih berhampuran lapar dan tempat tinggal yang belum layak, maka bagi kami negri ini belum merdeka, negri ini masih dalam nuansa penjajahan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share7SendShareScanShare
Rivaldi

Rivaldi

Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Rahasia Di Balik Pulau Terpencil

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00