• Latest

Indonesia Bukan Negara

Agustus 4, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Indonesia Bukan Negara

Don Zakiyamaniby Don Zakiyamani
Agustus 4, 2025
Reading Time: 3 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Don Zakiyamani

Malam itu, terlintas di beranda media sosial rencana pemerintah menyerahkan data rakyat kepada Amerika Serikat. Sambil melirik kopi, saya mencoba mendalami rencana tersebut. Sebuah rencana yang, menurut saya, mendiskualifikasi syarat utama menjadi sebuah negara: kedaulatan.

Syarat utama berdirinya negara bukanlah pengakuan dari negara lain. Bukan pula sekadar memiliki wilayah dan penduduk, melainkan kedaulatan. Penyerahan data itu ibarat ketua RT menyerahkan data warganya kepada pak lurah. Prabowo seolah menjadi ketua RT bagi lurah (Donald Trump).

Dengan demikian, Indonesia bukanlah negara secara hakikat. Indonesia hanya merupakan entitas negara bagian dari negara induk: Amerika Serikat. Meski perenungan ini tentu dapat dibantah, saya mengajak kita semua untuk mendekonstruksi ulang makna dari “negara”.

Negara bukan hanya soal syarat administratif. Dalam konstruksi sosial, negara yang dijalankan oleh sebuah pemerintahan memiliki kewajiban melindungi warga negara dalam segala hal dan bidang. Namun yang terjadi justru sebaliknya—pemerintahan Prabowo-Gibran seolah melakukan perdagangan data rakyat.

Sangat disayangkan, seorang mantan militer yang didoktrin untuk membela negara justru melakukan sebaliknya: menjual negara demi alasan-alasan yang tidak logis. Kini, Indonesia bukan lagi negara; sudah sejajar dengan Hong Kong—sebuah wilayah sub-negara.

Bahkan teori hegemoni Gramsci maupun teori soft power Joseph Nye tidak pernah memasukkan kedaulatan yang diserahkan secara legal sebagai bagian dari konsep dominasi.

Saat ini, Indonesia bahkan lebih mirip sebuah korporasi swasta yang beroperasi di Asia Tenggara. Bahkan korporasi seperti Apple tidak akan menyerahkan data pelanggannya, kecuali atas dasar kasus hukum yang diputuskan melalui proses pengadilan yang ketat. Sementara pemerintah Indonesia—ternyata—berada di bawah standar etika sebuah korporasi. Ini berarti, secara hakikat, Indonesia bukanlah negara, melainkan BUMA (Badan Usaha Milik Amerika Serikat).

Sebagai BUMA, Indonesia berkewajiban menyerahkan data dan mengikuti arahan pemerintah Amerika Serikat dalam berbagai bidang.

Kita kembali ingat perkataan Francis Bacon: “Knowledge is power”—pengetahuan adalah kekuasaan. Ini seperti permintaan Bacon: berikan data, dan kami akan mudah melakukan langkah-langkah strategis dan taktis. Amerika Serikat telah memiliki Indonesia sepenuhnya, tanpa harus menggerakkan tank dan pesawat. Bahkan bisa jadi, semua percakapan elit Indonesia telah diketahui—termasuk percakapan kita.

Dengan kegagalan negara melindungi rakyat, maka rakyat tidak lagi wajib tunduk. Lalu, solusi apa yang saya tawarkan?

Ada dua solusi: satu untuk negara, satu lagi untuk warga negara.

Jika saat ini infrastruktur internet kita masih bergantung pada jaringan global, sudah seharusnya negara memiliki jaringan internet sendiri. Merujuk pada Undang-Undang Kedaulatan Internet yang disahkan pada 2019, pemerintah memiliki dasar hukum untuk memutus jaringan internet luar negeri bila dianggap sebagai ancaman. Kita tahu, Rusia memiliki Runet, dan Tiongkok punya Great Firewall. Mereka sudah benar-benar berdaulat secara digital.

Kita harus mulai menolak sistem digitalisasi data pribadi seperti KTP elektronik, kartu kesehatan digital, dan lain sebagainya, sebelum pemerintah memiliki infrastruktur digital yang mandiri dan aman. Kita berhak bertanya: atas dasar legitimasi apa pemerintah menjual data kita kepada Amerika Serikat?

Apalagi, konstitusi dengan jelas menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan pemerintah, bukan pula di tangan Prabowo—apalagi Gibran.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026
ADVERTISEMENT

Kita pun berhak menolak menjalankan simbol-simbol negara—termasuk pengibaran Merah Putih—karena negara telah gagal melindungi warga negaranya. Perlawanan harus dimulai, entah melalui media sosial, website, tulisan, gambar, maupun video.

Indonesia bukan Hong Kong—sub-Tiongkok—dan bukan pula korporasi dari negara mana pun. Namun bila Indonesia tetap seperti ini, maka kita berhak berkata dengan lantang:  Indonesia bukan negara! Setuju?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com