Dengarkan Artikel
Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Buku Kesaksian Zaman merupakan kumpulan 65 puisi esai yang ditulis oleh lebih dari 60 penyair dari Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.
Disunting oleh Dhenok Kristianti dan digagas oleh Denny JA, buku ini mengusung genre puisi esai yang menggabungkan fakta sejarah dengan nada emosional dan reflektif.
Melalui karya-karya yang hadir, pembaca diajak menyusuri kisah-kisah nyata—dari konflik sektarian hingga narasi sosial yang sering terselubung—dengan bahasa yang tajam sekaligus meresap ke relung hati.
Ketika sastra bertemu sejarah, lahirlah sesuatu yang tak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan dan direnungkan.
Kesaksian Zaman adalah wujud nyata dari hal tersebut. Tidak hanya sekadar buku puisi biasa, kumpulan karya ini menghadirkan puisi esai—genre yang diinisiasi oleh Denny JA—sebagai medium ekspresi dan dokumentasi zaman.
Di pembukaannya, sosok Abdullah Latua, seorang nelayan di Ambon yang kehilangan rumahnya dalam kerusuhan 1999, menjadi gambaran hidup tentang bagaimana sejarah bukan hanya catatan elit sang penguasa, tetapi juga cerita duka dari “tubuh-tubuh yang dilempar ke sungai”. Peristiwa itu melebur dalam bait-bait puisi esai, menampilkan luka sekaligus harapan yang mengalir dalam jalinan kata.
Kenapa Puisi Esai Begitu Istimewa?
Puisi esai, menurut Denny JA dan penyunting Dhenok Kristianti, adalah jembatan antara fakta dan emosi, sejarah dan kesusastraan.
Mereka mengusung semboyan Ki Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani — pemimpin yang memberi contoh, mendorong kreativitas di tengah, serta mengilhami dari belakang. Puisi esai bukan hanya karya seni, tapi upaya edukasi dan refleksi sosial yang terus berkembang, bahkan menembus batas negara.
Jejak Para Penulis: Dari Senior Hingga Generasi Baru
Kesaksian Zaman memuat rangkaian puisi dari para senior dan kakak asuh seperti Agus R. Sarjono dengan “Langit Kelam dan Bedebah Itu” atau Ahmadie Thaha yang menulis “Ceceran Getir Konflik Ambon.” Karya-karya mereka menantang pembaca untuk melihat sisi lain sebuah peristiwa yang seringkali hanya dikenang secara sepintas.
Selain itu, kehadiran para duta puisi esai—penulis muda dari berbagai penjuru nusantara, mulai dari Aqilah Mumtaza dari Yogyakarta dengan “Dilanda Prahara” hingga Rey Hanny Ikhlas yang berkarya antar-benua—menunjukkan bahwa puisi esai adalah ruang inklusif yang mendorong suara baru, segar, sekaligus penuh semangat perubahan.
Tak kalah menarik adalah kontribusi ‘adik asuh’, generasi penerus yang menyelipkan isu-isu kontemporer seperti pinjaman online yang mencekik lewat karya Nia Samsihono dengan puisi “Perempuan Itu Mati Ditagih Pinjol,” atau kritikan terhadap ketimpangan sosial dan politik dalam karya-karya seperti “Triliunan yang Terkubur” oleh Azril.
📚 Artikel Terkait
Relevansi dan Fungsi Buku Ini bagi Pembaca
Puisi-puisi dalam buku ini berbicara banyak tentang pengalaman kemanusiaan yang universal—rasa sakit, harapan, ketidakadilan, cinta, dan keberanian. Sebagian dari kita mungkin tampak asing dengan istilah ‘puisi esai’, namun setelah menyelami goresan tiap baitnya, kita akan menemukan kebenaran dalam setiap kata yang mengiris realitas.
Menurut pengantar dari Denny JA, buku ini bukan sekadar bacaan santai, melainkan dokumen hidup—bahan ajar yang bisa membuka wawasan generasi muda agar lebih peka terhadap sejarah dan masalah zaman yang kadang terlewatkan dalam narasi arus utama.
Mengapa Anda Harus Membaca Kesaksian Zaman?
Karena dalam era informasi yang penuh gempuran berita instan dan fakta yang sering kali terdistorsi, Kesaksian Zaman hadir bak mercusuar sastra, memandu kita kembali pada esensi kemanusiaan melalui bait-bait yang kuat akan kebenaran sekaligus keindahan kata.
Sebagai pembaca, kita diajak untuk merenung: Apa arti sejarah bagi kita? Siapa yang layak disebut saksi zaman? Dan bagaimana sastra mampu membawa perubahan bukan hanya lewat cerita yang disuguhkan, tetapi lewat perasaan yang ditimbulkan?
Pada akhirnya, Kesaksian Zaman adalah undangan untuk turut menjadi saksi—mengenal dan menghayati riak-riak kehidupan yang kadang tersembunyi, tapi sangat menentukan wajah masa depan.
Jadi, jika Anda mencari bacaan yang kaya makna, menyentuh, sekaligus mengajak berdiskusi, buku ini layak menjadi koleksi Anda. Jangan lupa, bagikan pengalaman membaca ini supaya semangat puisi esai terus meluas dan menginspirasi lebih banyak jiwa.
Penulis dan Penyair dalam Buku “Kesaksian Zaman”
(Berdasarkan koleksi puisi esai dalam buku)
Penggagas Puisi Esai:
Denny JA
Senior & Kakak Asuh:
Agus R. Sarjono
Ahmad Gaus AF
Ahmadie Thaha
Akaha Taufan Aminudin
Amelia Fitriani
Anick HT
Anwar Putra Bayu
D. Kemalawati
Dhenok Kristianti
Elza Peldi Taher
Fatin Hamama Rsy.
Gol A Gong
Gunoto Saparie
Hamri Manoppo
Ipit Saefidier Dimyati
Irsyad Mohammad
Isbedy Stiawan ZS
Isti Nugroho
Jasni Matlani (Datuk)
Jonminofri Nazir
Mila Muzakkar
Monica JR
Muhammad Tobroni
Nia Samsihono
Nita Lusaid
Novriantoni Kahar
Okky Madasari
Ririe Aiko
Rita Orbaningrum
Sastri Bakry
Satrio Arismunandar
Syaefudin Simon
Victor Manengkey
Duta Puisi Esai:
Aqilah Mumtaza (DIY)
Atiya Fathina (Nanggroe Aceh)
Della Rosa (Sumatera Selatan)
Dewi Arimbi (Jawa Barat-1)
Habibaturrohmah (Jawa Tengah)
Lamya Nufaisah (Bangka Belitung)
Mointa Bangki (Sulawesi Utara)
Ordertus Tebai (Papua)
Rey Hanny Ikhlas (Antar-Benua)
Sevia (Banten)
Ummi Ulfatus Syahriyah (Jawa Timur)
Adik Asuh:
Alina Rumi (Lampung)
Andrian Sani (Sumatera Selatan)
Azril (Bangka Belitung)
Cahyo Muhammad Yusuf (Jawa Barat)
Dike M. Fardja (Nanggroe Aceh)
Djessica Yula An Nur (DIY)
Dwi Rahmatunnisa (Jawa Barat-1)
Eka Gilang W.S. (Banten)
Milda Sifna Wifakhotul Muna (Kalimantan)
Mince Warbandido (Papua)
Nurul Asyiqin Zamri (Sabah, Malaysia)
Raditya Christian Tantama (Jawa Timur)
Rahma Elfe (Antar-Benua)
Raka Ardiansyah Elat (Sulawesi Utara)
Sarah Nurhanifah K. (DKI Jakarta)
Siska Saputri (Sumatera Barat)
Zainul Mutawakkil (Jawa Tengah)
Pham Hoang Khang (Vietnam)
Dengan keberagaman dan keberanian para penulis ini, Kesaksian Zaman bukan sekadar buku puisi, tapi sebuah ruang dialog antara masa lalu dan sekarang, antara luka pribadi dan harapan kolektif.
Selamat membaca dan menjadi saksi zaman!
Salam sastra yang penuh makna.
Kota Batu, 01 Agustus 2025
Akaha Taufan Aminudin
Komunitas Puisi Esai Jatim
Kreator Era AI KEAI JATIM
SATUPENA JAWA TIMUR
66Hari_Terpaksa_Menulis
Nomor367_Hari01
NulisAjaDulu
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






