Dengarkan Artikel
Oleh: Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.
Dosen UNISAI Samalanga, Bireuen
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan tekanan, godaan, dan ketidakpastian, umat Islam membutuhkan petunjuk yang jelas dan hati yang tenang. Dalam khutbah Jum’at yang penuh hikmah di Masjid Al-Falah Namploh Papeuen, Samalanga, Bireuen, Tgk. H. Bahri Ismail, S.Sos., menyampaikan tiga pesan inti Rasulullah ﷺ yang menjadi kompas spiritual bagi umat dalam menjalani kehidupan. Pesan-pesan ini, meski singkat, mengandung kedalaman makna yang mampu membimbing setiap Muslim menuju kehidupan yang lebih bermakna, damai, dan diridhai Allah.
Bertakwalah Kepada Allah di Manapun Kamu Berada
Pesan pertama yang disampaikan Rasulullah ﷺ adalah: “Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada.” (HR. Tirmidzi)
Takwa bukan sekadar kewajiban formal, melainkan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Ia adalah kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam setiap langkah, ucapan, dan tindakan—baik saat sendirian maupun di tengah keramaian. Takwa adalah benteng dari dosa, cahaya dalam gelap, dan penolong dalam kesulitan.
Allah berfirman dalam Surah At-Thalaq ayat 2-3:
“ Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka .”
Ayat ini menegaskan bahwa takwa bukan hanya soal ibadah, tetapi juga solusi praktis atas segala persoalan hidup. Orang yang bertakwa akan diberi kemudahan dalam urusan, ketenangan dalam hati, dan rezeki yang luas—meski jalan yang ditempuh terasa sempit. Maka, takwa bukan beban, melainkan anugerah yang membuka pintu rahmat, keberkahan, dan pertolongan dari Allah SWT.
Iringilah Keburukan dengan Kebaikan, Maka Kebaikan Itu Akan Menghapus Keburukan
Manusia, oleh sifatnya, tidak luput dari kesalahan. Namun, Islam tidak menghukum kelemahan manusia dengan putus asa. Sebaliknya, agama ini membuka pintu ampunan seluas-luasnya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Iringilah keburukan dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapus keburukan.” (HR. Tirmidzi)
Pesan ini adalah bentuk kasih sayang Ilahi. Jika kita melakukan dosa, jangan biarkan hati tenggelam dalam penyesalan yang mematikan semangat. Segera gantilah dengan amal baik: shalat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, memaafkan, atau membantu sesama. Kebaikan yang tulus akan menghapus noda dosa, sebagaimana cahaya mengusir gelap.
📚 Artikel Terkait
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Selama nafas masih berhembus, pintu taubat tetap terbuka. Bahkan, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi jembatan menuju pengampunan yang lebih besar—hingga dosa-dosa masa lalu pun terhapus oleh rahmat-Nya.
Berakhlaklah dengan Akhlak yang Baik
Pesan ketiga, yang tak kalah pentingnya, adalah: “Berakhlaklah dengan akhlak yang baik.”
Akhlak bukan sekadar etika sosial, melainkan inti dari ajaran Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Akhlak yang baik adalah cermin iman yang hidup. Ia menjadi pengikat hubungan antar keluarga, perekat masyarakat, dan landasan kehidupan sosial yang harmonis. Sebaliknya, akhlak yang buruk—seperti dusta, hasad, ghibah, dan sombong—akan memicu perpecahan, permusuhan, dan keruntuhan moral.
Rasulullah ﷺ adalah contoh nyata akhlak yang sempurna. Beliau dikenal sebagai “insan kamil”—manusia yang paling sempurna akhlaknya. Banyak orang yang awalnya memusuhi Islam, akhirnya masuk agama ini karena terpesona oleh keluhuran budi pekerti Rasulullah. Bahkan, ada yang masuk Islam setelah beliau wafat, hanya karena mendengar kisah tentang kerendahan hati, kejujuran, dan kasih sayangnya.
Dalam sebuah riwayat, seorang wanita berkata:
“ Aku tidak masuk Islam karena melihat mukjizat, tetapi karena aku melihat Rasulullah memperlakukan anak-anak kecil dengan penuh kasih, dan menyapa orang miskin seolah mereka adalah saudaranya sendiri .”
Inilah kekuatan akhlak. Ia lebih berpengaruh daripada pidato panjang atau debat teologis. Akhlak yang baik adalah dakwah yang hidup—dakwah tanpa kata, namun menyentuh hati.
Ketika Takwa, Taubat, dan Akhlak Menjadi Satu
Ketiga pesan ini—takwa, perbaikan diri, dan akhlak mulia—bukanlah tiga hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling melengkapi.
Takwa membentuk hubungan vertikal dengan Allah.
Perbaikan diri (taubat) memperkuat pertaubatan dan pertumbuhan spiritual.
Akhlak yang baik membangun hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Gabungan ketiganya menciptakan pribadi Muslim yang seimbang: kuat imannya, lembut hatinya, dan mulia perilakunya. Inilah gambaran ideal umat yang dirindukan oleh Rasulullah ﷺ—umat yang tidak hanya rajin ibadah, tetapi juga membawa rahmat bagi seluruh alam.
Di hari Jum’at yang penuh berkah, ketiga pesan Rasulullah ini bagaikan lentera yang menerangi jalan hidup kita. Dalam dunia yang semakin keras, cepat, dan individualistis, pesan-pesan sederhana ini justru menjadi obat yang paling mujarab.
Mari kita jadikan takwa sebagai pelita di setiap langkah, taubat sebagai tameng dari dosa, dan akhlak mulia sebagai identitas kita sebagai umat Muhammad ﷺ.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa bertakwa, cepat bertaubat, dan berakhlak mulia. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






