Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Di tengah arus perubahan dunia yang serba cepat, manusia kerap mencari pijakan yang stabil untuk hidupnya. Ilmu pengetahuan menawarkan penjelasan rasional tentang alam semesta, mulai dari hukum fisika yang presisi hingga proses biologis kehidupan. Namun, bagi banyak orang, sains saja belum cukup untuk memberi makna yang utuh. Di sisi lain, agama, khususnya dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, terus menjadi panduan utama. Ia tidak hanya menyajikan ritual, tetapi juga arah hidup yang menyeluruh: memberi ketenangan batin, menjawab rasa ingin tahu manusia, serta mengarahkan kepada tujuan yang lebih tinggi.
Menurut laporan Pew Research Center 2023, sekitar 82% Muslim di Asia Tenggara menyatakan agama adalah sumber utama panduan moral, tetapi 60% di antaranya juga menuntut penjelasan rasional atas ajaran keagamaan. Fenomena ini menunjukkan perlunya pendekatan agama yang tidak hanya dogmatis, tetapi juga dialogis dan kontekstual. Ulama kontemporer seperti Syekh Abdullah bin Bayyah (Mauritania) dan Syekh Ali Gomaa (Mesir) telah menekankan pentingnya fiqh al-waqi’, yakni pemahaman agama yang berlandaskan realitas zaman. Mereka menegaskan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal, bahkan keduanya saling menguatkan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juga pernah menegaskan, akal adalah cahaya yang membantu manusia mengenal Tuhan, sementara wahyu menjadi kompas agar akal tidak tersesat. Pemikiran ini kini dihidupkan kembali oleh para cendekiawan modern seperti Tariq Ramadan dan ulama Nusantara seperti KH. Quraish Shihab. Quraish Shihab, dalam tafsirnya Al-Mishbah, sering menekankan bahwa pemahaman agama yang benar harus sesuai dengan prinsip keadilan, kasih sayang, dan kemaslahatan, sehingga relevan dengan masyarakat modern yang dinamis.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, menjalankan agama dengan benar sering kali menghadirkan rasa “surga di dunia”. Banyak studi kualitatif menunjukkan hal ini. Sebuah penelitian Universitas Gadjah Mada tahun 2022 menemukan, 75% responden Muslim yang rutin menjalankan ibadah dan memaknai agama secara rasional melaporkan tingkat kebahagiaan dan ketenangan yang lebih tinggi dibanding kelompok yang menjalankan agama sekadar formalitas. Mereka merasa hidup lebih terarah, lebih mampu menghadapi tantangan, dan lebih optimis tentang masa depan.
📚 Artikel Terkait
Namun, tidak bisa diabaikan bahwa ada tantangan bagi individu modern yang kritis terhadap dogma, terutama tentang konsep-konsep ghaib seperti kehidupan setelah mati, azab kubur, atau surga dan neraka. Bagi sebagian, hal-hal ini tampak sulit diverifikasi secara ilmiah. Para ulama yang berpandangan moderat menyarankan agar konsep-konsep itu dipahami secara bertingkat: ada yang bersifat keyakinan murni (ghaybiyyat) yang menuntut iman, ada pula hikmah praktisnya di dunia, seperti dorongan untuk berbuat baik, menjaga moral, dan mencegah manusia terjerumus pada kekacauan. Syekh Abdullah bin Bayyah menegaskan, “Iman terhadap hal ghaib bukan untuk membebani akal, tetapi untuk menyeimbangkannya. Tanpa dimensi itu, manusia kehilangan arah moral dan spiritual.”
Rasionalisasi agama juga penting dalam menegakkan harmoni sosial. Di wilayah yang menerapkan nilai agama secara dominan, seperti Aceh, integrasi ini menjadi krusial. Masyarakat perlu memahami bahwa keberagamaan bukan hanya soal penampilan lahiriah atau ritual, tetapi juga nilai universal seperti keadilan, empati, dan kontribusi sosial. Menurut data Badan Pusat Statistik Aceh 2023,, 68% generasi muda berharap agar dakwah dan pendidikan agama diubah menjadi lebih dialogis dan solutif, agar agama terasa sebagai sumber inspirasi, bukan tekanan.
Oleh karena itu, peran ulama yang berwawasan luas dan adaptif menjadi sangat penting. Ulama-ulama seperti Syekh Yasir Qadhi (Amerika), Syekh Hamza Yusuf, hingga ulama muda di Nusantara yang peka terhadap isu sosial, menunjukkan bagaimana agama bisa hadir sebagai penuntun hidup yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka tidak hanya mengajarkan dogma, tetapi juga mengajak umat untuk merenung, berdialog, dan berinovasi, tanpa kehilangan inti ajaran Islam.
Agama, bila dipahami dan dijalankan secara seimbang, mampu menjawab semua aspek kebutuhan manusia: spiritual, intelektual, sosial, dan eksistensial. Ia memberi rasa aman terhadap ketidakpastian, menumbuhkan etika, serta memotivasi manusia untuk berkontribusi di dunia, sambil tetap menyiapkan diri untuk kehidupan yang diyakini setelahnya. Ketika iman dipadukan dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan, manusia tidak lagi merasa terombang-ambing di tengah arus zaman. Sebaliknya, mereka akan menemukan arah yang pasti, stabilitas batin, dan tujuan yang bermakna.
Pada akhirnya, kita perlu melihat agama bukan hanya sebagai warisan budaya atau sekadar kewajiban ritual, tetapi sebagai sistem yang hidup, yang terus memberi cahaya dan panduan di tengah dunia yang kompleks. Ulama-ulama besar yang berwawasan luas telah menunjukkan jalannya: Islam yang rasional, moderat, dan relevan adalah kunci agar umat tidak tercerabut dari akarnya sekaligus tidak tertinggal oleh zaman. Dengan pendekatan ini, setiap Muslim dapat merasa damai secara spiritual, puas secara intelektual, dan diterima secara sosial, tanpa harus kehilangan arah atau identitas di tengah dunia modern.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






