Dengarkan Artikel
Oleh: Siti Hajar
Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak. Momen ini bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi pengingat bahwa anak-anak adalah amanah sekaligus investasi masa depan bangsa. Mereka tumbuh bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk negeri ini. Di Hari Anak Nasional, negara, orang tua, guru, dan masyarakat diajak untuk merenung: sudahkah kita hadir sebagai pelindung dan pengarah bagi masa depan anak-anak kita?
Namun, menjadi anak di era digital seperti sekarang sangatlah berbeda dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu. Dulu, anak-anak bermain di lapangan terbuka, mengenal dunia lewat alam, buku cerita bergambar, dan pelukan orang tua. Kini, banyak dari mereka mengenal dunia lewat layar—telepon pintar, video pendek, media sosial, dan game yang menyita waktu dan atensi.
Di satu sisi, teknologi memberi peluang belajar yang takt erbatas. Di sisi lain, ia membawa gelombang ancaman yang tersembunyi: kecanduan layar, cyberbullying, paparan konten tak layak, hingga kesepian sosial meski berada di keramaian.
Kekhawatiran: Dunia yang Terlalu Cepat dan Terlalu Terbuka
Anak-anak kini tumbuh di tengah dunia yang serba cepat, namun terlalu terbuka. Di media sosial, mereka bisa dengan mudah mengakses informasi apa pun, termasuk yang tidak sesuai usia. Mereka juga rentan menjadi target kejahatan digital—perundungan, predator seksual, hingga eksploitasi ekonomi sebagai content creator di usia dini demi keuntungan.
Yang lebih mencemaskan, di balik layar ponsel mereka setiap hari berseliweran gaya hidup hedonis yang dipamerkan oleh artis, selebgram, dan influencer. Anak-anak disuguhi pameran kemewahan: liburan ke luar negeri, baju mahal, gadget terbaru, kehidupan yang tampak mudah dan serba instan. Tanpa disadari, standar kebahagiaan mereka pun bergeser—bukan lagi tentang rasa cukup, tetapi tentang apa yang bisa dipamerkan.
Fenomena ini turut melahirkan kasus-kasus yang mengiris hati. Ada anak yang tega membunuh orang tuanya karena tak dibelikan motor, anak yang membakar rumah karena dilarang bermain game, bahkan remaja yang memaksa orang tuanya menggadaikan rumah demi bisa liburan ke Bali bersama teman-temannya. Semua ini tumbuh dari akumulasi paparan dunia maya yang membelokkan nilai dan merusak konsep kebahagiaan sejati.
Sebagai orang tua, kekhawatiran seperti ini sering tak sempat terucap. Kita melihat perubahan perilaku anak-anak, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Apakah cukup dengan melarang? Atau menasihati saja? Dunia yang mereka hadapi jauh lebih kompleks dibanding masa kecil kita dulu.
Di sisi lain, daerah terpencil menghadapi persoalan berbeda: akses pendidikan yang belum merata, gizi buruk, dan anak-anak yang masih menjadi korban pekerja anak atau kekerasan domestik. Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum untuk membunyikan lonceng perhatian terhadap ketimpangan dan risiko-risiko ini.
Pertanyaan mendasar pun menggema: dunia seperti apa yang telah kita izinkan masuk ke kehidupan mereka? Sudahkah kita menjadi pelindung pertama, atau malah ikut memacu mereka mengejar hal-hal yang dangkal?
Apakah mereka masih merasa cukup hanya dengan kita—orang tuanya—yang hadir utuh dan penuh kasih?
📚 Artikel Terkait
Mimpi: Anak Indonesia yang Tangguh, Kreatif, dan Berbudi
Di tengah kegelisahan itu, mimpi tentang anak-anak Indonesia yang tumbuh tangguh, kreatif, dan berbudi luhur tetap menyala. Kita membayangkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis, memiliki empati, dan siap beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.
Semua orang tua tentu berharap anaknya mampu mencapai apa yang dicita-citakan—hidup mandiri, mudah, dan bahagia dengan jalannya masing-masing. Harapan sederhana seperti melihat anak tersenyum karena tahu arah hidupnya, atau duduk menyelesaikan tugas sekolah dengan tenang, adalah cita-citayang hangat dalam hati setiap orang tua.
Namun mimpi itu sering kali berbenturan dengan realitas. Anak-anak kita begitu dekat dengan gadget. Sebelum sekolah sudah bermain game, pulang sekolah langsung meminta ponsel. Waktu mereka habis dalam dunia yang mengasingkan mereka dar ilingkungan dan dirinya sendiri.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung pun ikut terabaikan. Di media sosial, kita sering melihat keluhan: anak kelas lima yang belum bisa membaca lancar, anak yang tak hafal perkalian, bahkan tak tahu nama ibu kota negara sendiri. Bukan karena mereka tak mampu, tetapi karena dunia digital mengalihkan perhatian mereka dari fondasi-fondasi penting itu.
Mimpi-mimpi besar itu kini harus bersaing dengan notifikasi, algoritma, dan konten yang terlalu cepat. Kita tak kekurangan cita-cita, tapi kekurangan waktu berkualitas untuk menanamkan nilai. Kita tak kekurangan anak-anak yang berpotensi, tapi mulai kehilangan koneksi yang tulus—obrolan sebelum tidur, pelukan hangat, atau tepuk tangan sederhana saat mereka berhasil.
Harapan: Menjadi Generasi yang Tak Lelah Mengasuh dan Melindungi
Meski tantangan begitu nyata, harapan tetap ada. Dan harapan itu tumbuh dari kesadaran bahwa kita semua punya andil dalam menciptakan dunia yang lebih ramah untuk anak-anak. Orang tua bisa mulai dengan hadir lebih banyak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Bukan sekadar memberi gadget agar anak tenang, tapi memberi waktu, perhatian, dan kehangatan.
Kita juga berharap sekolah menjadi ruang yang mendukung tumbuh kembang anak—bukan hanya soal nilai akademik, tapijuga tempat yang aman dan terbuka. Pemerintah pun diharapkan lebih serius menjamin pemenuhan hak-hak anak—dari akses pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi digital.
Bagaimanapun keadaannya, orang tua tentu tidak pernah putus harap. Meski sering letih menghadapi dinamika zaman, kasih sayang dan tanggung jawab akan tetap menyala. Mereka akan terus memberikan yang terbaik—dalam bentuk perhatian, keteladanan, bahkan doa-doa diam yang menyertai langkah anak-anak setiap hari.
Pendidikan tetaplah kunci. Ingatkan mereka bahwa belajar bukan hanya kewajiban, tapi bekal untuk masa depan. Pendidikan bukan hanya tentang nilai di atas kertas, tetapi juga cara berpikir, bersikap, dan membangun masa depan dengan tangguh.
Sebagai guru, tetaplah menjadi pelita. Didik mereka dengan ketegasan yang hangat, bentuk karakter mereka agar tidak rapuh di tengah tekanan zaman. Jadikan sekolah bukan hanya tempat menuntut capaian, tapi ruang yang merawat jiwa anak-anak.
Dan untuk para guru ngaji, ajarkan anak-anak kita untuk tidak sekadar mengenal huruf, tapi memahami makna Al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya—kejujuran, kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab, dan tawakal—itulah pedoman hidup sejati di dunia dan akhirat.
Akhirnya, dengan momentum Hari Anak Nasional ini, semoga semua kita, apapun profesinya, tetaplah berbuat dan berdoa yang terbaik untuk putra-putri kita—penerus harapan bangsa. Kita mungkin tak bisa memberi dunia yang sempurna untuk mereka, tapi kita bisa membekali mereka dengan hati yang kuat, pikiran yang terbuka, dan nilai-nilai yang benar. Karena sejatinya, masa depan Indonesia ada dalam genggaman anak-anak hari ini.
Maka, mari kita rawat mereka dengan cinta, didik mereka dengan harapan, dan temani mereka dengan doa yang tidakpernah putus—tidak hanya hari ini, tapi setiap hari. []
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






